Chapter 08: Menyesal

1498 Kata
Lena Rafita, seorang wanita berumur 30-an turun dari mobil sembari menggandeng anak perempuan kecil usia 5 tahunan. Lena heran kenapa pintu rumah kost anaknya itu dibiarkan terbuka? Lena menggendong anak perempuan kecilnya bernama Dila untuk lebih mempercepat langkahnya. Lena memasuki rumah anaknya, menelusuri setiap sudut dan berharap melihat batang hidung Devian. Lena seketika terkejut mendengar suara seperti orang yang sedang bertengkar. Dengan langkah hati-hati, Lena menuju ke sumber suara. Jari telunjuknya di letakkan dibibir merahnya untuk mengisyaratkan pada Dila untuk diam. Dila mengangguk pelan. Lena memejamkam mata, berharap semoga bahana itu bukan berasal dari orang jahat. Perasaan Lena seketika lega sekaligus marah melihat Devian dan Raka yang sepertinya sedang bertengkar. Lena menurunkan Dila dari gendongannya dan melangkah cepat menuju Devian. "BAGUS YA, LAGI BERANTEM!" bentak Lena. Tangannya menarik kuat daun telinga Devian, anak pertamanya. "Adu-duh," pekik Devian, matanya seketika membulat melihat ibunya muncul tepat di hadapannya. "Ampun-ampun. Nanti kuping Devian copot gimana?!" mohonnya. Dila yang tubuhnya lebih pendek, mendongak. Mengeluarkan tawa menggemaskan setelah mrlihat ekspresi lucu kakaknya. Raka sontak melepaskan cengkramannya, terkejut melihat Lena mencagun. "Loh tante kok ada di sini?" **** "Bagus. Ada tamu bukannya dibuatin makanan malah mamah yang buatin. Cuma Raka aja yang waras dan mau bantuin Mamah." puji Lena memandang sekilas wajah Raka yang berada di sampingnya. "Kata 'tamu' berlaku buat orang asing. Mamah mau dianggap orang asing?" tanya Devian santai sambil mengawasi Dila memainkan ponselnya. Takut jika adiknya itu menemukan 'video' terlarang yang dia simpan. Lena mendecak. Tidak menjawab omongan Devian. "Tadi kalian berantem karena masalah cewek ya?" Devian dan Raka sama-sama menoleh ke arah Lena. "Loh kenapa pada ngeliatin kaya gitu?" heran Lena. "Be-" "Bang, ini apa?" tanya Dila polos menunjukkan sebuah video yang seharusnya tidak dilihat oleh anak seumurannya. Video dewasa. Kedua netra Devian membulat sempurna. Dengan sigap, dia merebut ponselnya dan terpaksa menghapus video tersebut. "Sstt... jangan bilang-bilang sama Mamah ntar Abang beliin permen coklat yang banyak," bisik Devian pada Dila. Dila mengangguk senang, tidak sabar. "Heh, ditanya kok malah pada enggak jawab sih? Dan itu... itu kenapa pada bisik-bisik?" pandangan Lena terarah pada kedua anaknya. "Apa sih, Mah? Devian itu lagi bisikin sebuah pelajaran biar Dila lebih berani dan percaya diri." bohong Devian. "Awas aja kalau bisikin yang enggak-enggak. Nanti Mamah bakal cabut kartu kredit kamu!" ancam Lena yang merasa curiga. "Mamah enggak percayaan banget sih," "Oh ya, tadi kalian belum jawab pertanyaan Mamah." ucap Lena. "Pertanyaan apa, Mah?" tanya Devian pura-pura lupa, sedangkan Raka diam berlagak tidak mendengar apapun. "Masih muda kok udah pikun." jengkel Lena, "Tadi kalian kenapa berantem?" "Bukan masalah besar kok, Mah." jawab Devian santai sembari menyelonjorkan kedua kakinya ke meja. Tidak sopan memang. "Kalian kalau ada masalah apa-apa, cerita ke Mamah jangan diem-diem bae." saran Lena. Telapak tangan Devian di tempatkan ke jidat, membentuk hormat bak sedang melaksanakan upacara. **** Melihat Raka akan lewat di hadapannya, Hana merebut tumpukan buku dari murid yang ditugaskan untuk mengantarkan buku ke kelas 12 dan saat sudah dekat, Hana pura-pura tidak melihat dan menabrakkan dirinya dibadan Raka yang tinggi itu. "Maaf," ucap Raka tak enak. "Iya... enggakpapa kok," Hana memungut buku sudah terletak dilantai dibantu oleh Raka. Devian yang kebetulan lewat langsung merasa tidak suka melihat kedekatan Raka dengan Hana. "Sini gue bantu," sambar Devian yang baru saja datang. Dia merenggut buku yang ada ditangan Raka dilanjut dengan cepat mengambil buku-buku yang masih berserakan lainnya. Hana menggerutu di dalam hati. Niatnya untuk lebih dekat dengan Raka, tapi Devian tiba-tiba muncul dan menghancurkan semuanya. **** "Kenapa lo mukanya merengut kaya gitu?" tanya Keisha memandang Hana dengan penuh bertanya-tanya. "Devian kenapa sih, kalau setiap gue lagi deket sama Raka pasti dia muncul." balas Hana dengan nada kesal. Untung saja di kamar mandi tidak ada siapapun kecuali mereka berdua. "Apa jangan dia enggak suka lo deket sama Raka? Mungkin dia suka sama lo," ucap Keisha enteng. Hana refleks menabok lengan Keisha. "Aww..." Keisha memandang jengkel Hana sembari mengusap-usap lengan yang tadi ditabok oleh Hana. "Kalau ngomong jangan sembarangan dong!" Hana menunjuk-nunjuk Keisha. "Iya... iya," Raut muka Keisha berubah menjadi serius. Keisha mendekatkan wajahnya ke Hana, "Tapi kalau beneran Devian yang suka lo, lo lebih milih Raka atau Devian?" tanya Keisha. "Dua-duanya," jawab Hana santai melipatkan tangan didada. "Hah?!" Keisha begitu terkejut. "Gue bakal mainin Raka dulu, baru deh Devian." Hana mengambil bungkusan permen karet, mengambilnya lalu mengunyahnya membuat kesan badgirl nya kuat. "Mainin gimana maksud lo?" Keisha masih belum mengerti atas rencana sahabatnya itu. "Mereka berdua tampan. Jadi sayang dong, gue cuma setia sama satu orang aja. Kita masih muda, Sha. Dan ini saatnya untuk menikmati hidup dengan cara mainin dua cowok sekaligus," Hana tertawa terbahak-bahak kemudian. Keisha menggeleng-gelengkan kepala. Tanpa mereka sadari, Chesa yang tadinya akan buang air kecil tak sengaja mendengar percakapan mereka berdua. Jelas Chesa marah mendengar omongan Hana. Dia tidak terima kalau Raka hanya untuk mainan saja bagi Hana. "Heh! Ngapain lo di sini? Lo nguping pembicaraan kita ya?!" tegur Hana yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Dia menjambak kencang rambut Chesa membuat Chesa yang sedang melamun, buyar. "Anu... eng... eng... enggak kok. Gue enggak denger pembicaraan kalian," tangan Chesa gemetar. "Kenapa lo ngomongnya kaya gitu? Gagu lo?" Hana memandang remeh Chesa. Chesa menunduk, tak berani untuk memandang muka Hana yang ada di hadapannya. "Kita harus beri dia pelajaran, Han." ucap Keisha. "Ikut gue!" Hana tanpa basa-basi lagi, ia menarik tangan Chesa. Tempat favorit mereka, rooftop. Hana menghempaskan tubuh Chesa secara kasar membuat Chesa menggelangsar. Hana mengambil kayu yang berada tak jauh di dekatnya. "Lo mau mukulin dia, Han? Nanti tangan lo kotor," lafal Keisha. "Enggak lah. Makanya lo liatin aja dulu," Hana melempar jauh kayu yang dipegangnya. "Ambil," perintah Hana kepada Chesa. Chesa mau tidak mau bangkit untuk mengambil kayu yang tadi Hana lempar. "Jangan jalan, tapi merangkak!" lanjut Hana. Chesa menggeleng-gelengkan kepala. "Lo mau nolak? Gue habis pulang sekolah mau ngadu ke ayah biar beasiswa lo dicabut," ancam Hana. Tanpa menjawab apapun, Chesa merangkak dan perlahan menuju ke posisi di mana kayu itu berada. Hatinya mendesir perih, air mata bisa dibendung lagi. Hana dan Keisha tertawa terbahak-bahak melihat Chesa yang merangkak seperti anj*ng. Beberapa menit kemudian, Chesa berhasil mengambil kayu itu, namun Keisha melemparnya lagi. Mereka berdua sangat tidak menyukai orang yang berkasta rendah. Hana dan Keisha merasa senang sekaligus bahagia saat membully Chesa. Dena, murid kelas sepuluh baru saja sampai di rooftop untuk mencari teman sekelasnya, namun dirinya melihat pemandangan yang menyedihkan. Dena membalikkan badan dan mengurungkan niatnya untuk ke rooftop. Dena sudah mendengar rumor-rumor di sekitar sekolahnya bahwa rooftop adalah tempat favorit Hana dan Keisha untuk membully murid lemah. Salah Dena sendiri dirinya nekat ke rooftop. Raka tak sengaja menabrak Dena. "Maaf," ucap Dena sembari membungkukkan badan sekilas dan kembali melanjutkan langkahnya. Wajahnya terlihat panik sekaligus ketakutan karena baru pertama kalinya melihat seseorang dibully begktu kejamnya. Raka mengernyitkan dahi, namun dia tetap melanjutkan langkahnya. Kreekk Terasa kakinya menginjak sesuatu, Raka refleks menoleh ke bawah. Nampak pulpen hitam yang diinjaknya. Raka berjongkok untuk mengambil pulpen tersebut. Terdapat label yang bertuliskan nama 'Dena' menempel dipulpen tersebut. "Tunggu," Raka menghampiri Dena sontak Dena menengok. "Ini pulpen milik lo?" tanya Raka. Dena meraba-raba saku rok nya dan baru sadar pulpennya hilang. "Eh, iya. Makasih," Dena mengambil pulpen itu dan tangannya masih saja gemetar. "Kenapa lo ketakutan kaya gitu?" "Ah, enggak kok. Enggakpapa," Dena mengibas-ngibaskan tangannya. "Lo habis lihat apa di rooftop?" tanya Raka. "Aku enggak habis ke rooftop, aku tadi ke kamar mandi." balas Dena. Melihat gelagat aneh adik kelasnya ini membuat Raka semakin curiga. "Arah kamar mandi ke sana, kenapa lo ke sini," Raka menunjuk ke depan. Dena menepuk pelan jidatnya. "Jangan bohong," lanjut Raka. Dena menunduk. "Sebenarnya... sebenarnya aku ke rooftop dan lihat Kak Hana sama Kak Keisha lagi bully Kak Chesa," akhirnya Dena jujur. Kedua netra Raka membulat sempurna. "Apa? Bisa lo ulang lagi kata lo tadi?" "Kak Hana sama Kak Keisha lagi bully Kak Chesa," Dena mengulang perkataannya. Ternyata Raka tidak salah dengar! Setahunya Chesa yang membully Hana dan Keisha, tapi ini sebaliknya. "Dia diapain?" Raka panik. Dena menceritakan semua yang dilihatnya. Raka terkejut bukan main ternyata selama ini dirinya telah salah menilai orang. Setelah Dena selesai menceritakannya, Raka berlari ke rooftop. Tidak terlihat Hana dan Keisha di sana. Mata Raka mencari-cari keberadaan Chesa dan pandangannya terpusat pada gadis yang sedang pingsan siapa lagi kalau bukan Chesa. Raka berlari menghampiri Chesa, menempatkan kepala gadis itu dipahanya dan menepuk pelan pipi tirus Chesa agar sadar. "Bangun. Gue ternyata salah nilai lo, maafin gue." sesal Raka. "Bangun," Raka menggendong Chesa ala brydal style untuk membawanya ke UKS. Tak peduli dengan mata yang menatap mereka berdua, Raka tetap melanjutkan langkahnya. Yang dia pikirkan sekarang adalah keadasn Chesa. Dia ingin gadis yang sedang digendongnya kini sadar sehingga Raka bisa meminta maaf. Seharusnya Raka lebih percaya pada sahabat kecilnya ini. Raka merasa bersalah, marah sekaligus kecewa. Perasaannya ini campuraduk. Raka berjanji akan membuat wanita yang berada digendongannya kini bahagia bersamanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN