Raka bimbang dengan pikirannya sendiri. Ia melahap mie instan yang dari tadi sudah matang. Mulutnya mengunyah, namun pikirannya terfokus pada memikirkan satu hal. Sampai-sampai Raka tidak sadar kalau ada seseorang sedang memperhatikan nya dengan senyum.
"Permisi, boleh saya minta mie-nya?" Chesa membesarkan suara sehingga gaya bicaranya mirip ibu-ibu.
Tanpa berminat melirik sosok di depannya, Raka menyahut, "maaf. Sebaiknya anda beli sendiri.
Bibir Chesa melengkung. Ternyata Raka tidak mengenalinya. "Tapi... Saya tidak punya uang,"
Raka mendongakkan kepala. Ia terkejut bukan main usai melihat Chesa di hadapannya dengan membawa stroberi.
"Kamu?"
"Ya. Gimana? Akting aku jadi ibu-ibu bagus, kan?" tanya Chesa, meletakkan stoberi yang tadi ia genggam.
"Bagus. Sampai-sampai aku enggak sadar dan gak peduliin kamu." puji Raka. "Kamu ngapain di sini?"
"Aku beli popok sama camilan." Chesa memperlihatkan barang belanjaannya.
"Kenapa enggak suruh pembantu aja?" tanya Raka.
"Mereka lagi sibuk persiapin acara tunangan Ibu. Aku gak enak ganggu perkerjaan mereka." jawab Chesa, mulai memakan stroberi yang ia letakkan di meja tadi. Ia tersenyum kecut usai buah berwarna merah itu dikunyah oleh giginya.
"Mending makan mie aja daripada stoberi. Kamu dari kecil sampai besar gini, suka banget sama buah itu ya." sindir Raka. Ia sudah berusaha berulang kali agar Chesa berhenti menyukai stroberi, namun tetap saja. Gadis itu tidak mau menurut.
"Enak tau! Seger! Kamu mau nyobain. Ini! Aaa.." Chesa mencoba memasukkan buah stoberi itu ke dalam mulut Raka. Raka menjauh.
"Aku enggak suka, Ches. Kamu aja yang makan." ujar Raka terlihat panik. Chesa makin memajukan badan, ia berusaha lebih keras lagi.
"Diam atau pipi kamu jadi korbannya?" tanya Raka dengan senyum miring.
"Maksud kamu apa?" nada bicara Chesa mulai ketus.
Raka terus tersenyum. Chesa bergidik melihatnya. Ia terpaksa duduk di tempatnya semula.
"Aku gak suka kalau kamu kaya gitu, ya!" Chesa sedikit membentak, menandakan dirinya panik.
"Segitu aja udah takut. Apalagi kalau udah nikah." ucap Raka. Ya, ia berniat menjalani hidupnya bersama Chesa sampai rambutnya tidak putih lagi, sampai pandangan matanya yang awas ini berubah menjadi kabur dan memakai kacamata bulat dan.. Sampai ia dipanggil 'kakek' oleh cucunya. Oke, Raka sudah mulai berpikir terlalu jauh sekarang.
"Oh." singkat Chesa menanggapi. Lain di hatinya, ia sangat senang Raka mengatakan hal seperti tadi.
Mendadak pikiran itu terlintas di kepala Raka. Ini kesempatannya untuk memberi tahu. Tidak ada seorang pun di sini. Hanya dirinya dan juga Chesa.
"Ches, aku mau ngungkapin sesuatu,"
"Sesuatu apa?" alis Chesa bertaut.
"Kamu harus tetap bahagia setelah dengar pernyataan aku, ya." sudut bibir Raka terangkat.
"Iya."
"Om Pandu punya anak perempuan seumuran kamu."
"Oh, soal itu, aku udah tau, Raka."
"Tapi, kamu enggak tau, kan, siapa nama anak itu?"
Pertanyaan Raka sukses membuat Chesa mengangguk, mengiyakan.
"Hana Maheswari, anaknya Om Pandu."
Chesa terperangah. Seketika kecepatan degup jantungnya berubah tiga kali lipat. Dunia terasa berhenti. Kini, kepala Chesa terasa pusing. Ia terlalu syok mendengar pernyataan Raka. Bagaimana bisa Hana menjadi saudara tirinya nanti? Di sekolah saja, Hana sering mengganggunya. Namun, Chesa tidak boleh egois. Setelah bertahun-tahun lamanya, Chesa melihat ibunya tersenyum, tidur dengan nyenyak dan tidak menangis sambil memeluk foto mendiang ayahnya. Keadaan ibunya jauh lebih baik dari yang dulu. Tidak. Ia tidak mungkin merusak kebahagiaan ibunya.
Chesa memaksakan senyum di bibir tipisnya. "Terus kenapa? Aku enggak keberatan kok."
Respons Chesa membuat bahu Raka lemas. "Kamu harus gagalin pernikahan itu, Ches. Aku bukannya berniat jahat. Aku enggak mau kamu menderita karena serumah dengan Hana. Aku bersedia bantu kamu buat gagalin pernikahan itu."
Chesa menggeleng. Jemarinya beralih memegang telapak tangan Raka. "Mendiang ayah aku ngajarin, kalau aku enggak boleh hancurin kebahagiaan seseorang demi kebahagiaan aku sendiri. Aku gak mau jadi orang egois, Raka. Biarin kalau Hana jadi kakak tiri aku. Aku yakin, ia berubah baik karena ada Om Pandu. Anak mana sih, yang enggak nurutin permintaan ayahnya?" Chesa menampakkan lengkungan di bibirnya. "Tenang aja, Raka."
"Enggak. Aku udah tau sifat Hana. Dia gak akan biarin kamu tinggal dengan tenang di rumah itu. Aku nggak rela liat kamu ditindas terus." elak Raka khawatir.
"Kan, ada Mama yang selalu jagain aku. Ada Om Pandu juga. Aku yakin, Mereka enggak akan biarin aku menderita."
"Tapi, Mereka--"
Chesa berdiri, ia mencondongkan tubuhnya, kedua lengan kurusnya terulur menangkup rahang Raka. "Kamu percaya sama omongan aku, oke?" ia menatap Raka lekat-lekat.
Raka terdiam sejenak. Ternyata Chesa kalau dilihat sedekat ini, tambah cantik.
"Sekarang, kamu mau nganterin aku pulang atau biarin aku pulang sendirian?" lanjut Chesa bertanya.
Bibir tipis Raka perlahan bergumam, "aku anterin."
"Bagus. Bila perlu, kita sekalian aja ke rumah kamu buat ngambil pakaian yang mau dipakai nanti malam. Jadi, kamu ganti di rumah Om Pandu dan gak perlu pulang. Gimana? Kamu setuju usulan aku enggak?" tanya Chesa.
Raka terdiam sejenak, sampai akhirnya ia bilang setuju. Chesa tersenyum senang.
****
Raka membuka pintu rumah sewaan nya. Tampak Devian sedang asyik menonton televisi.
Sedangkan Chesa memilih untuk tidak masuk dan menunggu di luar.
Devian menengok. "Dari mana aja lo?"
"Kepo." Raka tetap berjalan ke arah kamar. Ia membuka pintu lemari, mengeluarkan sebuah kemeja serta celana yang ia beli kemarin. Raka memasukkan kemeja itu disebuah plastik besar berwarna hitam.
Saat sampai di dekat Devian, Raka berhenti. "Woy. Gue boleh minta tolong?"
Devian berdeham tanpa berniat mengalihkan pandangan dari televisi.
"Hari ini ada acara pertunangan. Nanti malam lo jemput Hana di rumahnya. Kalau lo mau, lo bisa ikut ke acara itu." tanpa menunggu jawaban Devian, Raka nyelonong pergi begitu saja.
Devian tersentak. Ia berlari cepat ke arah Raka. Bodoamat dengan tayangan kesayangannya di televisi!
"Tunggu woy! Lo bilang apa? Bisa diulang?" tanya Devian sedikit teriak.
Raka menengok. "Malam ini lo jemput Hana. Kalau lo mau, lo ikut ke acara itu. Pakai pakaian yang bener. Jangan asal." setelahnya, Raka tersenyum pada Chesa begitu sudah sampai di dekat gadis itu. "Maaf udah buat kamu nunggu lama."
"Enggak apa-apa."
Mereka berdua pergi menggunakan motor. Lain dengan Devian, cowok itu berlari ke dalam untuk menyiapkan baju sekarang juga. Ini kesempatannya untuk mendekati Hana! Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.
Untung saja ada beberapa kemeja yang layak dipakai. Devian memilih untuk warna yang tidak terlalu mencolok. Andai ia tahu gaun warna apa yang dipakai Hana. Sudah pasti ia akan menyamakan warna itu agar terlihat couple.
Jam 18:59
Devian sangat rapi dengan kemejanya. Tak lupa, ia menyemprotkan parfum yang menambah kesan cool pada dirinya. Setelah dirasa sudah siap, Devian pergi dan menaiki motor untuk menuju rumah Hana.
****
Hana dengan senang hati membukakan pintu usai terdengar suara motor berhenti. Perlahan senyum Hana memudar melihat sosok berbeda duduk di motor itu.
Devian.
Hana malas sekali menghadapinya. Mengapa harus Devian yang menjemputnya?
Tanpa berkata apapun, Hana masuk kembali ke rumah. Keisha yang melihatnya terpatung.
"Ngapain masuk lagi? Lo gak mau ke acara itu?" sambut Keisha dengan pertanyaan.
"Bukan Raka yang jemput gue. Jadi gue nggak mau ke tempat itu." sahut Hana.
Tak lama, terdengar ketukan pintu bersamaan dengan suara laki-laki yang memohon dibukakan pintu.
Keisha berdiri, namun Hana mencegahnya. "Jangan."
"Emang siapa sih?"
"Devian. Gue nggak mau ke acara itu bareng dia."
"Kasihan. Dia udah capek ke sini loh." ujar Keisha merasa iba.
"Biarin ih! Lo suka sama dia makanya peduli? Iya, hah?"
"Devian itu teman gue, Han. Dia juga sekelas sama kita kan? Dia ada di kubu kita, kok, bukan Chesa."
Hana mendecak. "Terserah lo mau buka pintunya! Asal jangan paksa gue buat jalan sama dia!"
"Itu haknya lo, Han. Mau jalan apa enggak." Keisha membuka pintu. Mendadak wangi parfum dari badan Devian menyerbak masuk ke dalam rumah itu.
Keisha terkesiap. Ia memandang tubuh Devian dari bawah sampai atas. Tumben sekali Devian berpakaian rapih dan tampan seperti sekarang.
Melihat Hana tidak jauh darinya, Devian melangkah mendekat. "Han, dengerin gue. Katanya lo mau ke acara tunangan, kan? Kenapa lo seolah enggak mau berangkat sama gue?" tanya Devian.
Hana berjalan mundur bersamaan dengan Devian melangkah maju. "Jangan dekat-dekat gue! Raka mana? Kenapa malah lo yang ke sini?"
"Raka sama Chesa. Mereka berdua pergi entah ke mana. Segitu sukanya lo sama Raka? Kenapa mata lo selalu tertuju ke Raka? Kenapa sedetik pun lo enggak mau ngelirik gue? " Devian bertanya dengan raut memelas.
"Karena gue gak suka lo! Gue gak mau lo gantiin posisi Raka, contohnya kaya sekarang. Mending lo pergi dari sini atau gue teriak kalau lo itu maling!"
Devian mendapat respons pahit. Harusnya malam ini ia tidak ke rumah Hana dan mengemis seperti sekarang. "Oke. Kalau itu mau lo, gue harap lo gak nyesel. Gue pamit." Devian membalikkan badan. Keisha menatap sendu. Jika ia menjadi Hana, ia akan menerima Devian. Tapi sekarang, Hana masuk ke kamar. Ia melepas kasar gaun yang tadi ia pakai. Berdiri berjam-jam di cermin ternyata sia-sia saja! Hana akan menemui Raka besok untuk meminta penjelasan.
****
Acara pertunangan begitu meriah. Banyak para tamu yang datang. Sekarang, Chesa berusaha untuk bersikap percaya diri dengan gaun yang berwarna wardah itu. Ya, walaupun longgar sedikit.
Raka berniat menengok Chesa. Ia terpana dengan penampilan sahabatnya itu. Chesa yang sadar diperhatikan, ia langsung menoleh.
"Kenapa ngeliatin aku kaya gitu? Penampilan aku aneh, ya?" todong Chesa merasa curiga.
"Kamu cantik." puji Raka tanpa basa basi. Chesa tergemap mendengar pernyataan tadi. Tapi ia senang! Sangat! Sekarang, Chesa bisa mengurangi rasa tidak percaya dirinya berkat pujian Raka.