"Cari inspirasi di mana Mas?" Tanya Trinity saat ia masuk ke dalam mobil.
"Gak tau, kamu nyari inspirasi biasa di mana? Kan aku cuma temenin."
"Yee kocak."
"Ketawa dong!"
"Kok ketawa?"
"Katanya kocak?"
Lalu Trinity tertawa, jenis tawa terpaksa yang gak banget, tapi anehnya terdengar merdu di telingaku.
Sumpah ya, aku udah give up sama diri sendiri, gak ngerti kenapa selalu panas dingin deket dia, jantung mendadak kenceng, kaya orang penyakitan lah aku kalo deket dia.
"Mas Bran, liat sini deh bentar."
Aku langsung menoleh, Trinity menatap mataku tajam, entah bagaimana aku berada ditelanjangi oleh tatapannya tersebut.
"Mas Bran kapan terakhir tidur?" Tanyanya.
"Ehh?" Aku bingung, kenapa dia nanya gitu, keliatan banget ya? Emang sih dalam 9 hari ke belakang aku belum dapat tidur nyenyak, pekerjaan membuatku begitu, tidur terlamaku mungkin hanya 15 menit.
"Mas Bran matanya parah banget, kenapa gak tidur?"
"Ini baru ada waktu luang, makanya baru sempet bales chat kamu, bayar utang dulu, baru tidur."
"Mas Bran tidur aja."
"Engga, gak apa, yuk, mau kemana nih kita?" Tanyaku.
"Mau aku temenin tidurnya?"
"Hah??!!" Aku syok mendengar ucapan Trinity barusan.
"Maksudnya gak kaya yang mas Bran pikirin loh, mas Bran ya tidur aja, aku temenin, kali aja inspirasi aku muncul pas diem sendiri." Jelasnya dengan nada takut-takut.
What? Aku masih belum bisa ngerti jalan pikirannya.
"Serius, Mas Bran tidur aja, tapi aku ikut ya? Aku males balik ke kostan lagi." Katanya ketika aku tak kunjung merespon.
"Kenapa?"
Kali ini Trinity yang diam, ia tidak menjawab pertanyaan singkatku barusan. Kami diam cukup lama sampai aku tak sengaja menguap begitu saja.
"Tuh kan, Mas Bran udah nguap, ayok tidur aja Mas."
Kenapa dia maksa gini ya? Aku kaya lagi ada di posisi p*********n berencana gini deh rasa-rasanya.
"Yaudah, ke rumah aja nih ya?" Kataku menyerah, mataku memang sudah tidak kondusif lagi.
Trinity langsung mengangguk mantap.
Mengarahkan mobil ke rumah hitam, aku mengendarainya dengan kecepatan standar. Sekian menit menyetir akhirnya kami sampai, aku memarkirkan mobil langsung masuk ke garasi kali ini. Sudah malam, sepertinya mobil yang lain sudah masuk basement makanya halaman dan garasi kosong.
"Mas Bran tinggal di rumah serem ini?" Tanya Trinity saat aku mengajaknya turun.
"Kamu pernah ke sini kan sekali? Tahu kan kalau dalemnya gak seserem penampakan luarnya?"
"Iya sih Mas, cuma first impressions-nya mengerikan."
"Yaudah ayok masuk." Ajakku lagi.
Bagian dalam rumah juga sudah sepi, hanya lampu-lampu kecil yang menyala, rumah ini jadi terlihat remang-remang dan mendukung tampilan luarnya yang memang sudah gelap.
Berjalan menuju tangga, aku naik ke lantai dua, sempat menoleh ke belakang juga karena Trinity agak tertinggal. Begitu mata kami berpapasan, ia sedikit berlari menyusulku.
"Mas Bran gak takut apa ya? Aku nih ya, tidur sendiri aja takut lohh." Katanya mendekat lalu terasa ujung bajuku sedikit ditarik.
"Kamu takut tidur sendiri? Terus itu di kostan?"
"Kan aku sekamar sama Melinda, sengaja juga pilih kasur yang di atas karena kalo kasur yang bawah ngeri ada yang merayap dari atas. Sebelum itu, di rumah aku tidur sama Mbak Dwika, kalau Mbak Dwika gak pulang, aku tidur sama Ayah."
Aku mengangguk, kami sudah sampai di depan kamarku. Langsung saja aku membuka pintu dan masuk, Trinity ikut bersamaku, tangannya masih menarik ujung bajuku.
"Kamarnya Mas Bran gede yaa, bagus banget." Pegangannya pada ujung bajuku terlepas, ia berkeliling sedikit.
"Kamu ditinggal sendiri gak apa ya?" Tanyaku.
"Ditinggal? Mas Bran mau ke mana?" Serunya panik.
"Mandi, kayanya aku mau rendeman dulu sebentar sebelum tidur,"
"Kamarnya mas Bran ada jacuzzi-nya?" Kok dia tau? Kan aku gak bilang apa-apa soal jacuzzi.
"Iya ada,"
"Boleh gak sih rendemannya pake baju aja? Aku pengin ikutan deh mas Bran."
Entah berapa kali aku syok malam ini. Trinity kenapa sih? Kok jadi aneh begini?
"Terus? Emang kamu bawa baju ganti?"
"Pinjem."
Aku reflex menggaruk kepala yang gak gatal ini, bingung aja harus gimana ya ampun, ini seriusan? Kok Trinity jadi begini sih?
Dan, apaan juga aku rendemannya pake baju, kalo pake celana lepas baju sih oke, tapi kalo baju juga dipake... Ah apa sih, kenapa gak jelas gini?
"Aku mandi aja deh, nanti kamu kalau mau rendeman aku siapin, sendiri aja ya?" Kataku akhirnya, gak kebayang juga kalau kami berdua masuk ke bak jacuzzi itu bakalan gimana kelanjutan ceritanya.
"Ih aku takut sendiri, mending gak usah."
"Yaudah." Kataku singkat.
"Yaudah mau berdua aja?" Tanyanya semangat.
"Yaudah, gak usah." Aku mengoreksi, dan ekspresi mukanya berubah, jadi kaya bete kecewa gitu. Ya gimana ya? Aku masih berakal sehat, takut kejadian yang gak-engga. Trinity gak mikir ke sana apa ya? Atau dia emang sepolos itu? Dia gak sadar apa, bawa dia ke kamar ini aja bikin jantungku mau loncat? Astaga dragon.
Sabar Bran, tahan, tarik napas.
Masuk ke pintu lain, aku menarik baju tidur dari lemari ku yang berada di ruangan transisi menuju kamar mandi, yeah bisa disebut walk in closet tapi gak gede-gede banget kok ruangannya, setelah itu aku mandi secepat kilat.
Selesai, aku keluar dan melihat Trinity duduk di kursi kerjaku, tangannya terlihat sedang mengerjakan sesuatu, aku mendekat dan melihat apa yang sedang ia lakukan.
Ia menulis banyak judul di kertas kosong yang memang tersedia di mejaku.
"Udah dapet inspirasinya?"
Ia menoleh dan pandangan kami bertemu, senyum manis mengembang di wajahnya dan tiba-tiba perutku terasa bergemuruh.
"Iyaa, hehehe, udah sana mas Bran tidur aja."
"Nanti kamu mau tidur gak?"
"Iya dong, aku kan bukan Tuhan yang gak tidur."
"Yaudah entar di kasur aja, aku tidur di sofa."
"Eh jangan, mas Bran kan belum tidur, masa tidur di sofa? Udah di kasur aja, nanti aku yang di sofa."
"Kamu kan tamu, masa tidur di sofa? Mau di kamar sebelah aja?" Tawarku. Mimik mukanya langsung berubah ngeri.
"Aku di sofa aja, udah mas Bran tidur sana, jangan ganggu pikiran aku!"
Lha??
"Yaudah, kalo kamu mau baju ganti ambil sendiri aja ya? Sebelum kamar mandi ada lemari baju, oke?"
"Siap Mas, udah sana tidur."
Aku mengangguk, kemudian naik ke kasur dan tidur menghadap meja kerja, menatap punggung Trinity yang sekarang sedang fokus.
Aku tersenyum dalam diam, agak sedikit gak nyangka aja kalau bisa mengalami situasi seperti ini.
Pikiranku mengajak aku berkelana ke masa lalu, dan saat aku mengecek ulang masalaluku, kok bener kata Bang Satrio? Gak ada cewek di hidupku. Aku terlalu menghabiskan waktu luangku untuk Bu Veronica dan Adik-adik di panti. Well, bukan hal buruk memang, tapi agak gak memperhatikan diri sendiri.
Kembali ke Trinity, aku inget yang Mbak Dwika jail mau jodohin aku sama Trinity, aku inget gimana jantungku berdegup kencang hanya karena mendengar namanya. Aku mengulang semua moment yang kulalui bersama Trinity, dan hampir semua adalah momen di mana jantungku berdetak kencang. Seperti saat ini misalnya. Tapi kali ini aku sudah mulai bisa mengatur jantungku agar tidak terlalu berdetak liar.
Jujur, aku gak tau cinta tuh gimana, apa rasanya dan bagaimana proses jatuh cinta tuh. Dan kalau ini cinta? Kenapa gak semenyenangkan yang kebanyakan orang bilang?
Oh iya, cinta kan berjuta rasanya ya? Kali aja aku kebagian yang rasa deg-degan. Hahahah. Apa sih gak jelas?
Aku berbalik badan, menatap dinding yang dihiasi wallpaper daun kering berwarna coklat. Makin gak ngerti ya Tuhan. Tapi, bisa kali ya aku ngasih kesempatan ke diriku sendiri untuk tahu apa itu cinta. Dan Trinity? Boleh kan ya aku jadiin dia objek pertama?
What? Objek? Udah gila kali aku. Cewek bukan objek, bukan barang yang bisa dijadiin percobaan. Cewek itu manusia, sama kaya aku, Homo sapiens juga, cuma ya emang rada nyebelin aja. Selebihnya ya sama.
Argh, kenapa pikiranku malam ini riuh sekali? Oke, oke dehhh, aku harus deal dulu nih sama diriku sendiri kalau aku juga bakal ngurusin masalah cinta-cintaanku. Tapi ya gak tau kelanjutannya gimana.
Pertama yang pasti sih, mending aku tidur dulu aja, biar gak berubah jadi vampire.
*****
TBC