Part 8

1524 Kata
Poppy melihat Aletha yang baru memasukki kelasnya dengan wajah yang sangat kelelahan karena berlari. “Nah itu anaknya.” ucap Poppy sambil menunjuk Aletha yang baru saja masuk ke kelas. Melodi dan Nara seketika menoleh ke arah yang dimaksud oleh Poppy. “Tumben lo Al baru dateng.” ucap Nara ketika melihat Aletha yang baru sampai. “Iya tumben biasanya nggak pernah semepet ini, duluan Poppy malahan sekarang datengnya.” Melodi menimpali perkataan Nara barusan. “Gue mah di matkul ini say no to telat lagi, kemaren gue udah telat bisa-bisa ngulang sendirian nanti nggak ada temennya.” ujar Poppy yang membuat Nara dan Melodi tertawa kecil. “Kejebak macet tadi.” balas Aletha sembari napasnya tersengal-sengal. Ia lalu mengatur napasnya perlahan-lahan setelah duduk di kursi. Tak berselang lama komting kelas Aletha mengabarkan jika kuliahnya diundur tiga puluh menit melalui grup kelas. “Eh Pak Akbar ngabarin nih kalo kuliahnya diundur setengah jam.” ujar Poppy yang sedang membuka chat grup kelasnya. “APA? Capek capek gue lari dari depan kesini taunya diundur setengah jam? Tau gitu gue nggak usah lari tadi.” Aletha mengerutu di depan teman-temannya. “Sabar Al sabar nih minum dulu.” Melodi memberikan air minumnya agar Aletha bisa sedikit tenang setelah lelah berlari dari depan menuju kelasnya. “Thanks.” ucap mengambil minum yang diberikan Melodi dan segera meminumnya karena dirinya benar-benar sudah haus sedari tadi di Rumah Sakit hingga sampai di Kampus ia belum sempat minum. *** Edgar menghentikan laju motornya di depan kantor Wina, Wina kemudian turun dari motor Edgar dan segera melepaskan helmnya. “Nih helmnya.” Wina menyerahkan helm tersebut kepada Edgar sembari merapikan seragamnya sebelum masuk ke kantor. “Makasih ya Edgar adek gue yang ganteng banget nggak ada tandingannya ini.” ujar Wina dengan nada yang menggelikan jika di dengar banyak orang, Edgar yang mendengarnya saja geli bagaimana orang lain. “Geli gue.” ucap Edgar dengan tatapan geli. “Yee gak jelas lo, udah ah mau masuk dulu ke kantor, lo hati-hati di jalan, daaaah.” Wina melambaikan tangannya meninggalkan Edgar dan segera masuk ke dalam kantornya karena ia tidak mau dimarahi bosnya jika terlambat, bisa-bisa gajinya terpotong jika dirinya terlambat nanti. “Pulangnya mau gue jemput nggak?” tanya Edgar sedikit berteriak. “Nggak usah gue pulang sendiri aja nanti, daaah.” balas Wina sambil berjalan memasuki kantornya. Setelah memastikan kakaknya itu sudah masuk ke kantor, Edgar kemudian langsung melajukan kembali motornya menuju kampus dengan menembus kemacetan ibukota, sudah hal biasa jika ia harus dihadapkan dengan kemacetan. Kurang lebih setengah jam dari kantor kakaknya akhirnya ia sampai di kampus. Edgar masuk ke kampusnya dan segera melajukan motornya menuju parkiran kampus, saat sampai memarkirkan motornya, ia tak sengaja bertemu Gilang di parkiran kampus. “Sendirian lo? Biasanya sama Aletha.” tanya Gilang menghampiri Edgar. “Udah berangkat duluan tadi dia.” jawab Edgar. “Lah gue barusan liat dia tuh tadi lari ke kelasnya, kayaknya sih baru dateng gitu terus lari ke kelas.” ujar Edgar. “Hah masa sih, perasaan dia udah bilang berangkat duluan dari tadi.” ucap Edgar terheran. “Kejebak macet kali tadi dia di jalan.” ujar Gilang. “Mungkin, soalnya tadi gue nggak lewat situ karena ada perbaikan jalan.” ucap Edgar. “Nah tuh bisa jadi dia berangkatnya lewat jalan yang lebih jauh dari situ.” ujar Gilang. “Iya kali ya dia kan nggak tau jalan cepet kesininya paling juga nurut sama ojolnya mau lewat jalan yang mana.” ucap Edgar. “Yaudah ke kelas aja yok lah, bentar lagi lo ada kelas kan.” Gilang lalu mengajak Edgar untuk pergi ke kelas dari pada berdiam diri terus di parkiran. Edgar mengiyakan ajakan Gilang dan pergi kelas mereka, Gilang dan Edgar berasal dari jurusan yang sama hanya berbeda kelas dan semester saja, hari ini mereka berdua kebetulan memiliki jadwal kuliah di jam yang sama jadi bisa pergi bersama menuju kelas mereka masing-masing. Edgar tampak tak memikirkan lagi perkataan Gilang barusan yang bilang jika Aletha baru datang karena mungkin memang benar jalanan yang biasa ia lalui sedang macet. *** Setengah jam kemudian Pak Akbar masuk ke ruangan kelas dan semua orang yang berada di kelas seketika terdiam ketika Pak Akbar masuk ke ruangan kelas mereka. “Siapkan kertas kosong, hari ini kita kuis.” Satu kalimat yang dilontarkan Pak Akbar seketika membuat seisi kelas riuh. “Hah? Kuis?” ucap Poppy. “Mati gue kemaren nggak ada belajar apa-apa lagi.” ujar Melodi menepuk jidatnya. “Kok dadakan gini sih kuisnya.” ucap Nara. Namun sekeras apapun semua mahasiswa meminta keringanan kepada Pak Akbar tetap saja kuis akan tetap terlaksana. Pak Akbar mulai membagikan kertas soal berisi kuis, mereka mulai mengisi soal tersebut. Semua orang yang berada di kelas tampak sangat kebingungan dan berpikir keras ketika sedang mengerjakan kuis. Pak Akbar memberikan waktu satu jam untuk para mahasiswa mengerjakan kuis. “Waktu kurang lima menit lagi ya.” ucap Pak Akbar yang membuat seisi kelas semakin panik. “Aduh masih banyak yang kosong ini.” ujar Melodi panik. “Waktu habis, silahkan kumpulkan sekarang.” Lima menit berlalu akhirnya Pak Akbar menyudahi kuisnya. “Baik kuliah hari ini saya akhiri, selamat siang.” ujar Pak Akbar menyudahi mata kuliahnya. Semua yang berada di ruangan langsung bernapas lega karena kuis berhasil diselesaikan, rasanya satu jam mereka benar-benar menegangkan. Karena hari ini mereka hanya ada satu mata kuliah, jadi Aletha beserta teman-temannya pergi ke kantin untuk menuntaskan rasa lapar mereka. Saat berada di kantin Aletha melihat Edgar dari kejauhan sedang duduk di kursi lapangan sendirian. “Eh kalian duluan ya makannya, gue mau kesana dulu nyamperin Edgar.” ujar Aletha berpamitan kepada teman-temannya.  “Oke Aletha.” ucap Nara, Melodi dan Poppy secara bersamaan. Aletha pergi meninggalkan teman-temannya di kantin dan menghampiri Edgar yang sedang duduk di kursi lapangan, sebelum Aletha menghampiri Edgar ke lapangan, ia membeli dua botol minuman dingin terlebih dahulu satu untuknya dan satu lagi untuk Edgar. *** Edgar memainkan bola basketnya dengan melemparnya ke atas dan menangkapnya kembali, ia duduk sembari menunggu Gilang yang belum keluar dari kelas. Dari kejauhan ia bisa melihat Aletha menghampiri dirinya. “Udah selesai kuliah lo?” tanya Edgar setelah Aletha kini sudah berada di hadapannya. “Udah barusan aja, nih minum dulu.” jawab Aletha sembari menyerahkan satu botol minuman dingin kepada Edgar. “Aishh baiknya Ale ku, thanks loh.” ucap Edgar dengan nada yang dibuat menggemaskan sembari mencubit pipi Aletha pelan. “Sakit Gar ih.” Aletha mencubit lengan Edgar hingga Edgar mengaduh. “Gue juga sakit ini lo cubit.” ujar Edgar sembari mengaduh kesakitan dan mengelus lengannya sendiri. “Ya salah siapa lo duluan ngeselin.” balas Aletha tak mau kalah. “Oh ya kok lo sendirian? Gilang mana? Biasanya kalo lagi di lapangan pasti sama Gilang.” tanya Aletha sambil matanya celingak-selinguk mencari keberadaan Gilang namun masih belum juga terlihat. “Belum keluar kelas dia, masih ada kuliah.” ujar Edgar dan Aletha mengangguk paham. “Yaudah gue main sama lo dulu yok.” Ajak Edgar bersiap berdiri namun dicegah Aletha karena ada dering telpon masuk di ponselnya. “Eh bentar Gar, hp gue bunyi kayaknya ada yang telpon gue.” ucap Aletha mencegah Edgar berdiri. Aletha melihat layar ponselnya dan terlihat nama ibunya yang sedang menelepon dirinya. “Mamah.” ucap Aletha ketika melihat layar ponselnya. Ia kemudian mengangkat telpon dari ibunya. “Halo Mah, ada apa?” “Halo sayang, kamu lagi di kampus?” “Iya Mah, kenapa Mah?” “Emm gini jadi hari ini Mamah harus pergi ke luar kota dan beberapa hari ke depan Mamah nggak bisa pulang dulu ke rumah karena Tante Isna sakit dan harus dirawat di Rumah Sakit jadi Mamah harus jagain Aqila sampai Tante Isna sembuh sayang.” “Oh oke Mah nggak papa Aletha bisa jaga diri kok di rumah, kan di rumah juga ada Mbok Ning jadi Aletha ada temennya.” “Kamu jaga diri di rumah ya, jangan sampe telat makan.” “Iya Mah, salamin ke Tante Isna ya Mah.” “Oke sayang nanti Mamah salamin, udah dulu ya kamu jangan lupa makan siang oke?” “Oke Mah siap, bye Mah.” Panggilan tersebut ditutup oleh Dewi terlebih dahulu. “Kenapa Le?” tanya Edgar. “Nyokap pergi ke luar kota buat nemenin Tante gue di Rumah Sakit kemungkinan lama nginepnya.” “Tenang lo nggak akan kesepian karena ada gue si tampan dari kompleks blok A.” Edgar memuji dirinya sendiri. “Idih sok kecakepan lo.” ujar Aletha mencibir Edgar. “Hahaha bukan sok kecakepan tapi bentuk mencintai diri sendiri.” ucap Edgar seolah mengklarifikasi perkataan Aletha. “Halah, udah yok lah main basket sama gue, Gilang juga belum keluar kan dari tadi.” Ajak Aletha mengambil bola basket dari tangan Edgar dan berdiri. “Ayok.” Edgar berdiri mengikuti Aletha yang lebih dulu berlari ke tengah lapangan sambil membawa bola basketnya. Edgar dan Aleta kemudian memainkan bola basketnya, saling merebut bola dan memasukkannya ke ring basketnya, Edgar yang permainnya lebih jago daripada Aletha itu sesekali menggoda Aletha dengan permainan basketnya yang membuat Aletha kesal dan lebih bersemangat untuk mengalahkan Edgar dalam permainan ini. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN