Aletha, Nara, Melodi, dan Poppy kini berada di dalam Mall, mereka berjalan mengelilingi Mall dengan sangat gembira. Walaupun mereka memang sering jalan ke Mall sendiri-sendiri, tapi rasanya berbeda kalau mereka pergi bersama walau ke tempat yang sering mereka kunjungi.
“Eh kesana yuk” Poppy mengajak yang lain untuk ke toko aksesoris.
“Eh gue ke toilet dulu ya, kalian kesana duluan aja gapapa nanti gue nyusul” Letha langsung pergi meninggalkan mereka bertiga. Letha masuk ke dalam toilet, ia duduk di closet duduk dengan memegangi kepalanya yang sangat pusing. Ada apa dengan dirinya, akhir-akhir ini ia sering merasakan pusing. Letha mencoba untuk tenang agar bisa meredakan pusingnya. Ia ingat tadi obat yang ia beli masih ada. Letha langsung meminum obatnya dan berisitirahat sejenak di dalam toilet.
“Huhh” Aletha menghela napas sejenak untuk menenangkan dirinya. Setelah mulai agak mendingan, Aletha langsung keluar menghampiri teman-temannya.
“Lama amat Tha ke toiletnya” ucap Nara kepada Aletha.
“Iya tadi kebetulan toiletnya lagi rame” balas Aletha berbohong karena ia tak mau mebuat Nara khawatir dengan dirinya.
“Oooohh” Nara mengangguk mengerti dan tak menanyai apa-apa lagi.
Aletha dan Nara menunggu Melodi dan Poppy yang sedang memilih aksesoris di dalam. Dirinya dan Nara tidak tertarik sama sekali dengan aksesoris jadi memilih untuk menunggu di luar saja.
“Udah?” tanya Nara ketika Melodi dan Poppy sudah keluar dari toko tersebut.
“Udah” Melodi dan Poppy mengangguk.
Mereka berempat langsung langsung pergi ke Cafe yang ada di dalam Mall.
“Kalian mau pesen apa?” tanya Melody sembari melihat menu-menu di cafe. Setelah selesai memilih, mereka tinggal menunggu pesanan diantarkan.
“Eh wajah lo kok pucet Tha? Sakit?” tanya Nara ketika menyadari wajah Aletha yang pucat.
“Hah nggak kok, gue baik-baik aja” balas Aletha tersenyum.
“Beneran gapapa lo?” tanya Nara kembali untuk memastikan dan dibalas anggukan oleh Aletha.
Pesanan mereka akhirnya datang dan semua melahapnya dengan sangat lahap kecuali Aletha, Aletha terlihat tidak berselera makannya. Ia sama sekali tidak menikmati makannya, entah mengapa nafsu makannya semakin hari semakin berkurang. Setelah selesai dari Mall, mereka berempat memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Sesampainya di rumah, Aletha memilih untuk tidur agar sakit kepalanya bisa mereda. Aletha di rumah hanya tinggal bersama Mama nya dan Mbok Ning yang bekerja di rumah Aletha karena semenjak Aletha pindah ke Jakarta.
Saat sudah terlelap, Aletha sangat menikmati mimpinya. Dalam mimpinya, Aletha melihat satu keluarga yang sangat harmonis itu sedang menikmati hari liburannya di Pantai sebelum semuanya berubah 180 derajat. Keluarga yang harmonis itu harus berpisah ketika kedua orang tuanya memilih untuk mengakhiri semuanya tanpa persetujuan dirinya yang saat itu masih berusia 5 tahun. Orang tuanya berpikir anak yang berusia 5 tahun belum paham apa-apa. Aletha tak sadar kalau ia tertidur sambil meneteskan air matanya. Aletha langsung terbangun, ia mengusap wajahnya kasar, ia berpikir mengapa ia harus memimpikan kejadian itu lagi, saat dimana kehidupannya berubah 180 derajat, ia tak lagi merasakan kebahagiaan yang amat berarti, Aletha merasa hidupnya sangat kosong. Aletha ikut dengan Mamanya pindah dari rumah lamanya dan memulai kehidupan baru di Jakarta.
Hingga akhirnya ia bertemu dengan Edgar tepat setelah ia pindah ke Jakarta. Edgar adalah tetangga kompleks nya, Aletha dan Edgar bersahabat sejak kecil hingga sekarang. Ia mulai menemukan warna hidupnya saat bersahabat dengan Edgar ketika Mama nya selalu sibuk dengan pekerjaannya tapi hal itu tak membuat ia marah kepada Mama nya, ia tahu kalau Mama nya sibuk untuk kebahagiaan dirinya.
Jam kini menunjukkan pukul lima sore, Aletha berjalan keluar rumahnya dan duduk di teras rumahnya. Ponsel Aletha berdering ada pesan masuk.
Edgar : Sini ke lapangan
Aletha : Oke gue jalan sekarang
Aletha menutup ponselnya dan langsung berjalan menuju Lapangan Basket di sekitar kompleks nya. Aletha melihat Edgar yang sedang bersemangat memasukkan bola basket ke dalam ring basket.
“Semangat bener mainnya” ucap Aletha setelah menghampiri Edgar di Lapangan.
“Ayok main duel sama gue nih” tantang Edgar kepada Aletha.
“Siapa takut” Aletha mengiyakan tantangannya tanpa memperhatikan kondisinya yang semakin hari semakin melemah. Dan benar saja baru sepuluh menit Aletha bermain basket, sakit kepalanya kambuh, sebelum Edgar melihatnya, Aletha langsung buru-buru duduk untuk menenangkan dirinya sendiri.
“Kok udah duduk?” tanya Edgar.
“Gue capek tadi jalan dari rumah juga” jawab Aletha berbohong.
“Baru sepuluh menit udah nyerah aja lo” Edgar menggerutu.
“Hahahah biarin” balas Aletha sambil tertawa.
Edgar masih meneruskan permainan basketnya hingga ia merasa lelah. Bisa dibilang Edgar memang jago bermain basket. Edgar mempunyai banyak penggemar di Kampusnya, Aletha yang sering mendapat tatapan sinis dari para penggemar Edgar hanya bisa tertawa. Edgar berjalan ke arah Aletha dan duduk disamping Aletha karena lelah.
“Cape juga kan lo” ucap Aletha yang melihat Edgar duduk.
“Ya iyalah capek orang udah dari tadi” balas Edgar sambil mengusap keringatnya sedangkan Aletha hanya tertawa.
“Oh iya ntar malem nonton aja gimana?” tawar Edgar mengajak Aletha.
“Mmm mau gak ya?” Aletha memperlihatkan ekspresi layaknya sedang berpikir.
“Etdah pake mikir, eh yang lain aja pada ngantri pengen pergi sama gue, lah lo gue ajakin malah mikir dua kali, sebuah kesempatan emas loh bisa kencan sama Edgar” Edgar memuji dirinya sendiri.
“Halah, itu kan berlaku cuman buat penggemar lo, gue heran kenapa mereka pada ngefans sama lo ya, padahal nggak ada yang menarik dari lo kalau gue liat-liat” Aletha bergurau kepada Edgar.
“Idih sok iye lo” Edgar menoyor kepala Aletha.
“Hahahahaha, biarin” Aletha tertawa terbahak-bahak.
“Eh gue haus nih” Aletha memberi Edgar kode.
“Terus kenapa?” tanya Edgar.
“Yaelah beliin kek” omel Aletha yang kesal ketika Edgar tak peka.
“Hahaha, makanya bilang nggak usah pake kode-kode an” balas Edgar sambil tertawa.
“Lagian lo jadi cowok nggak peka, makanya nyari cewek sana” ucap Aletha.
“Yang ada juga lo nyari cowok sana kasian jomblo ngenes, gue mah tinggal pilih tuh satu dari sekian penggemar gue” balas Edgar menyombongkan dirinya.
“Dih, sombong banget jadi orang, sana buruan gue udah haus banget malah diajakin ngobrol jadi tambah haus ntar” omel Aletha sembari mendong Edgar agar segera pergi membelikannya minum. Edgar akhirnya berdiri dan berjalan keluar Lapangan untuk membelikan Aletha minum, sembari menunggu Edgar, Aletha memasangkan headset ke telinganya untuk menikmati lantunan musik yang ada di ponselnya.