Chapter 9

1771 Kata
Bang Hamdan? Alan tidak salah dengar kan? Aku tidak salah dengar, kan? batin Alan. Alan melirik ke arah pria yang berusia sekitar hampir mendekati tiga puluh tahun. Pria itu tersenyum penuh rasa sayang dan cinta kasih pada Finisa. Tuhan! inikah yang pria yang bernama Hamdan Farikin itu? Lebih tampan diriku! batin Alan berteriak setelah membandingkan dirinya dan pria bernama Hamdan itu. Di ruang tamu itu ternyata sudah ada Hamda dan tentunya nenek Finisa yang bernama Naila. Naila melirik ke arah Tuan Muda Basri. Waktu yang tidak tepat untuk mempertemukan dua pria ini, tapi dia harus membuat Tuan Muda Basri mengerti bahwa sang cucu telah ada pendamping yang telah dipilihkan sendiri olehnya. "Nisa, kamu sudah pulang kerja?" tanya Hamdan Nisa memilih untuk tidak menjawab. Dia mencubit pelan pergelangan tangan Alan yang masih menatap penuh jengkel pada pria itu. Alan tersadar karena cubitan kecil dari Finisa. "Selamat sore, Oma Naila," sapa Alan. Naila yang sedang berdiri hendak menyambut Finisa pulang itu mengangguk. "Ya, selamat sore juga, Tuan Muda Basri." Mendengar nama Tuan Muda Basri yang terucap dari mulut Naila, Hamdan berganti arah lirikan dari Finisa ke Alan. Keningnya berkerut saat dia melihat gandengan tangan mesra dari dua orang beda gender itu. Jadi ini adalah Tuan Muda Basri? kenapa dia berada di rumah calon istriku dan saling bergandengan tangan dengannya? batin Hamdan berkhayal bahwa Finisa adalah calon istrinya. Ok, mari kita sadarkan Hamdan agar tak terlalu hanyut dalam khayalan, takutnya dia akan tenggelam dan mati. "Saya datang ke sini sore ini ingin berbicara langsung dengan Oma Naila," ujar Alan tanpa rasa takut atau terintimidasi oleh tatapan tegas dan tajam dari Naila. Tatapan yang diberikan oleh Naila itu tidak ada apa-apanya dari tatapan mematikan sang ayah. "Apa yang ingin dibicarakan oleh Tuan Muda Basri denganku? mari silakan duduk dulu," ujar Naila. Alan mengangguk, dia dan Nisa memilih sofa panjang dan duduk berdekatan. Tiba-tiba Hamdan melihat tautan tangan Alan dan Finisa. Jujur saja, ini sangat mengganggu dirinya. Hamdan tidak terima gadis yang dia sukai bergandengan tangan dengan pria lain. Hamdan saja yang bukan siapa-siapa dari Finisa merasa terganggu melihat Finisa dengan seorang pria, apalagi Alan yang notabenenya adalah sang kekasih dari Finisa, tentu saja dia tidak terima baik jika Finisa dengan pria lain. "Maaf, mengapa Anda memegang tangan calon istri saya?" tanya Hamdan tanpa rasa malu pada siapapun. What?! Calon istri? Hei, apakah Anda waras wahai pria yang bernama Hamdan ini? batin Alan meradang panas. Alan berusaha untuk tidak langsung menghadiahi sebuah bogeman mentah pada Hamdan ini, sebab dia masih menghargai Naila yang adalah nenek dari sang kekasih. Alan mengabaikan Hamdan untuk sementara dan dia melirik ke arah Naila. Finisa sendiri terlihat cuek dan tidak menaruh Hamdan berada dalam pandangannya. Dia tidak peduli dengan pria yang bernama Hamdan itu ada di sini. "Terima kasih karena Oma Naila telah memberikan saya tempat dan waktu berharga Anda untuk saya di sini," ujar Alan mulai mengucapkan maksudnya, "Saya datang ke sini untuk berbicara dengan Oma Naila bahwa saya tidak bisa membatalkan lamaran saya pada Nisa, apapun yang terjadi." "Apa?!" Hamdan melotot ke arah Alan. "Apa maksudmu lamaran pada calon istriku?" tanya Hamdan tak terima baik. Mendengar pria lain menyebutkan kekasihnya sebagai calon istri, kuping Alan panas, dia melirik ke arah Hamdan dan berkata, "Maaf, tarik kembali kata-kata Anda yang mengatakan Nisa sebagai calon istri Anda. Nisa adalah calon istri saya." "Tidak!" Hamdan menolak ucapan Alan. Alan mulai merasa gerah dengan pria ini, belum lima menit saja bertemu bahkan mereka belum saling berkenalan dan bersapa ria, ah lupakan saling berkenalan dan bersapa ria, Alan tak sudi berkenalan dengan pria pengkhayal itu. "Apa maksudmu lamaran?" tanya Hamdan. "Tuan Hamdan Farikin, dengan segala hormat saya pada Anda, bahwa saya mengatakan bahwa Nisa adalah calon istri saya. Kamis lalu saya dan orangtua saya telah datang untuk melamar Nisa," jawab Alan. Hamdan syok. Dia memandang ke arah Naila dengan tatapan penuh penjelasan. Naila merasa bahwa hari ini keberuntungan tidak berpihak padanya. "Oma Naila, bukankah Oma memanggilku ke sini untuk membicarakan lamaran pada Nisa nanti?" tanya Hamdan. Alan ingin sekali mencebikkan bibirnya di depan Hamdan dan Naila. Naila menelan air ludahnya dan dia menjawab, "Memang benar aku memanggilmu ke sini untuk membicarakan lamaran Nisa. Kamu bisa melamar Nisa setelah pembatalan lamaran dari Tuan Muda Basri dibatalkan-" "Tidak akan!" Alan dan Finisa sama-sama angkat bicara. "Oma, sudah aku bilang, jangan memaksaku untuk menikah dengan orang lain. Aku dan Alan telah berhubungan sejak lama dan kami saling mencintai," ujar Finisa terang-terangan. "Oma Naila, tindakan atau keputusan Anda ini tidak bijak. Jangan mempermainkan lamaran Nisa," timpal Alan. "Justru itu, aku tidak ingin mempermainkan lamaran Nisa, sebab aku sudah berjanji pada Hamdan dari dulu untuk menikahkan dia dengan Nisa," balas Naila tanpa rasa bersalah sedikitpun pada Alan. "Apa?!" Alan dan Finisa terlihat agak syok dengan pengakuan dari Naila. "Maksud Oma apa? dari dulu telah berjanji akan menikahkan aku dan dia?" tanya Nisa, raut tidak suka terlihat jelas di wajah Finisa. Bisa-bisanya sang nenek melakukan hal itu tanpa sepengetahuannya. Sangat wow dan tentunya sangat mengesalkan. Dia berpikir ucapan tadi malam sang nenek itu tidak benar, namun ini sudah dari dulu neneknya berjanji akan menikahkan dia dan pria lain. Naila mengangguk. "Maka dari itu, Oma bilang padamu, batalkan lamaran dia. Karena kamu telah dijanjikan akan menikah dengan Hamdan." "Nisa bukan barang yang bisa dijanjikan!" Alan angkat bicara. Dadanya terasa panas setelah mendengar pengakuan mengejutkan dari Naila. Alan tidak habis pikir dengan jalan pikir sang nenek tua ini. Wanita tua ini benar-benar keras kepala dan sekarang ada satu penilaian lagi yang masuk ke otak Alan, yaitu wanita tua tidak tahu malu. "Oma Naila, saya sama sekali tidak setuju. Saya tetap pada pendirian saya. Saya akan tetap melamar Nisa. Dan mohon katakan pada Tuan Hamdan Farikin ini untuk tidak lagi mengingat janji itu sebab Nisa sendiri tak tahu bahwa dia telah dijanjikan untuk menikah. Hal ini melanggar hak asasi dan kebebasan seseorang untuk menentukan hidupnya dan menikah, ini telah melanggar undang-undang." Alan tidak mau tahu, dia tetap pada pendiriannya. "Tidak bisa seperti itu, saya yang lebih dulu menyukai Nisa," ujar Hamdan. Mendengar suara Hamdan membuat Alan dan Finisa melirik lagi ke arah Hamdan. "Bang Hamdan, aku minta maaf, tapi aku sama sekali tidak ada perasaan apapun pada Abang Hamdan. Baik itu rasa suka atau cinta, aku hanya menghargai Bang Hamdan yang adalah kerabat dari keluarga Nabhan, di mana aku juga adalah kerabat keluarga Nabhan," ujar Finisa jujur. "Tapi Nisa, kamu tidak bisa melakukan ini padaku. Aku sudah lama menyukaimu semenjak Filisa meninggal," balas Hamdan. Nisa mengerutkan keningnya. Filisa, itu adalah nama dari mendiang istri Hamdan. "Maaf Bang Hamdan, aku tidak punya perasaan seperti itu padamu. Aku hanya punya perasaan cinta pada Alan, dia adalah kekasihku, sudah dua tahun kami bersama, jadi tolong hapus perasaan itu dari hatimu," ujar Finisa. "Nisa, kamu tidak bisa-" "Apakah Anda tidak mendengar jelas apa yang dikatakan oleh calon istri saya?" potong Alan terhadap ucapan Hamdan yang masih tetap ingin pada pendiriannya menikahi Finisa. "Calon istri saya mengatakan bahwa dia tak ada perasaan yang serupa dengan perasaan yang Anda rasakan. Perlu Anda tahu Tuan Hamdan, saya dan Nisa saling mencintai, tidakkah Anda berdosa memisahkan kami?" Alan mulai mengeluarkan jurus penceramah. Jurus ini selalu dikeluarkan oleh adik bungsunya saat dalam pembelaan dari tuduhan apapun. Bibir Hamdan terlihat diam dan tak bisa lagi membalas kata-kata Alan. Hamdan melihat ke arah Naila dan dia berkata, "Aku datang dari Padang ke sini dengan harap ingin segera melamar Nisa, bukan untuk mendengar semua pernyataan ini. Kenapa tidak Oma katakan lebih awal mengenai Tuan Muda Basri ini?" Naila kebingungan untuk menjawab. Alan melirik ke arah Naila. "Oma Naila, Anda harus bijak, tidak bisa memaksakan kehendak Anda pada orang lain, meskipun dia itu adalah cucu Oma sendiri," ujar Alan. Naila tiba-tiba sakit kepala dan dia merasa pusing. "Ah … kepalaku oh tidak! leherku!" Naila meringis sakit setelah memijat belakang lehernya yang tiba-tiba nyut-nyutan. "Mamah!" Derian yang baru pulang dari kantor cabang Nabhan's Bank itu buru-buru menghampiri sang ibu. Rina yang sedari tadi takut keluar menghadapi ibu mertuanya, kini keluar dari tempat persembunyian dan melangkah mendekat ke arah Naila. Finisa yang melihat sang nenek kesakitan itu terlihat diam dan berusaha untuk tidak lagi membalas ucapan sang nenek. Alan terlihat khawatir dengan Naila. Biar sifat nenek tua itu menyebalkan, namun Naila tetaplah nenek dari Finisa. Pada akhirnya Alan angkat bicara, "Saya rasa Oma Naila butuh istirahat lebih. Masalah mengenai lamaran ini ditangguhkan dulu mengingat kondisi Oma Naila yang sekarang sudah terlihat tua dan agak linglung." Alan langsung mengeluarkan isi hatinya. Naila memang sudah tua dan linglung. Masih cantikan dan waras Nenek Laras, ah,masih muda Nenek Laras juga meskipun sudah berumur, batin Alan menilai. Ya, masih waras neneknya yang berada di rumah sekarang. Derian mengangguk, syukurlah Tuan Muda Basri ini pengertian dengan kesehatan sang ibu. "Ya, saya rasa itu benar. Nak Alan, terima kasih atas pengertian Nak Alan," ujar Derian. Alan mengangguk. "Ya, Om. Sama-sama. Saya juga punya nenek di rumah, usia beliau tidak beda jauh dengan Oma Naila, jadi saya cukup tahu mengenai kesehatan dari orangtua," balas Alan mengambil hati Derian. Derian mengangguk. Dia berkata pada Rina. "Ma, bawa Mamah ke dalam kamar." Rina mengangguk mengerti. Dia membantu ibu mertuanya berdiri dan berjalan ke arah kamar Naila. Derian memilih berada di ruang tamu. Dia melirik ke arah Hamdan dan Alan. Jujur saja, dia merasa tidak enak hati pada Alan. Sementara itu, dia belum tahu tabiat Hamdan jadi merasa agak tidak nyaman. "Nak Hamdan, tolong pulang dulu ke rumah Anda. Kami tidak bisa membicarakan masalah ini sekarang, kondisi Ibu saya kurang baik." Hamdan mau tak mau mengangguk mengerti. "Baik, Om. Saya permisi pulang," balas Hamdan. Derian mengangguk. Hamdan melirik ke arah Finisa dan berkata, "Nisa, aku pulang. Nanti akan aku hubungi kamu." Alan yang jengkel atas ucapan Hamdan. Nisa tidak mengangguk atau menyahut, dia diam saja. Hamdan pergi tanpa mendapat balasan dari Nisa. Sepeninggal Hamdan, Derian memandang ke arah Alan dengan tatapan tidak enak hati dan agak merasa malu. "Nak Alan … saya … saya merasa malu bertatap muka secara langsung dengan Nak Alan … padahal saya sudah menjanjikan bahwa saya akan menghubungi ayah dari Nak Alan mengenai lamaran Nisa, saya … tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi ayah dari Nak Alan." Alan mengangguk mengerti. "Om Rian, saya mengerti. Pulang nanti, saya akan bicara baik-baik dengan Ayah saya mengenai hal ini." "Terima kasih Nak Alan, Om tidak tahu harus melakukan apa lagi," ujar Derian dengan tatapan penuh syukur. Alan mengangguk mengerti. "Kalau begitu saya undur diri dulu, Om. Harap Om dan sekeluarga dalam keadaan sehat-sehat, aamiin." "Terima kasih, Nak Alan," balas Derian. "Saya permisi pulang, sampaikan salam saya pada Tante Rina dan Oma Naila." Alan melirik ke arah Nisa dan berkata, "Nisa, aku pulang." Finisa mengangguk. °°°
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN