Chapter 24

1546 Kata
"Om Rian, Tante Rina," sapa Alan. Derian dan Rina mengangguk. "Nak Alan," balas Rian. Alan tersenyum tipis. Derian melangkah maju, dia melirik ke arah Hamdan dan berkata, "Nak Hamdan, maaf sebelumnya, tapi Om sedang perlu dengan Nak Alan dan Nisa, bisa tolong memberi kami ruang dan waktu untuk bicara?" Alan dan Finisa melirik ke arah Hamdan. Karena ini adalah permintaan langsung dari orang tua Nisa, Hamdan mengangguk setuju. Dia juga merasa bahwa beradu argumen di depan publik seperti ini tidaklah nyaman karena bisa saja masalah pribadi mereka diketahui oleh banyak pihak. Finisa berjalan masuk ke dalam kantor diikuti oleh Derian dan Alan. Rina melihat sekilas ke arah Hamdan dan dia berkata, "Mungkin ada kesalahpahaman di sini. Saya dan suami telah tahu siapa Nak Alan sebenarnya, mohon agar Nak Hamdan mengerti kemauan anak saya." Setelah mengatakan ini, Rina melangkah menyusul suami dan anaknya. °°° "Om minta maaf mengenai kata-kata dari Mamah Om tadi malam, mohon Nak Alan bersedia hati untuk memaafkan Mamah Om," ujar Derian. Alan mengangguk. "Saya sudah memaafkan Oma." "Tapi Oma benar-benar keterlaluan, Pa." Setengah detik setelah ucapan Alan, Finisa menyambung kalimatnya. Derian melirik ke arah Finisa. "Pa, Ma. Maaf kalau aku lancang mengatakan ini, tapi masa lalu Om Randra itu tidak seindah masa lalu Papa dan Mama. Bagaimana perasaan Papa ketika menyaksikan wanita yang Papa cintai menderita dan cacat permanen karena perbuatan jahat dari orang yang tidak punya hati? apa Papa menerima dengan lapang d**a? lalu Oma mengungkit masa itu, haruskah Oma ungkit bagaimana Tante Momok mendapatkan kursi roda itu hingga sisa umurnya sekarang?" ujar Finisa. "Nisa, cukup," tegur Alan pelan. Finisa melirik ke arah Alan. "Maaf aku tidak tahan karena kelakuan Oma pada kamu tadi malam." Alan mengangguk. "Tidak apa-apa, beliau adalah orang tua dan aku maklumi itu," balas Alan. Finisa menyentuh tangan Alan dan berkata, "Sudah cukup di masa lalu Tante Momok menderita bahkan mungkin hingga sekarang. Membawa beliau dalam hubungan kami tidaklah bijak." Wajah Derian dan Rina terlihat menyesal. "Nak Alan, Tante minta maaf yah, kamu datang ke rumah dengan niat baik, tapi malah tidak … dianggap oleh …," Rina tak jadi melanjutkan kata-katanya. Alan mengangguk. "Tidak apa-apa, Tante." Derian dan Rina dapat melihat raut wajah sedih dari Alan saat Finisa menyebutkan nama ibu dari Alan. "Om, Tante … mengenai lamaran Alan ke Nisa, jika Oma Naila tetap bersikeras tak ingin menerima Alan, apakah Om dan Tante akan mengikuti kemauan Oma Naila?" tanya Alan. "Tidak," jawab Derian tegas. "Masa depan Nisa, biarkan dia yang menentukan sendiri. Nak Alan bisa maju melamar Nisa, Om memberi restu." "Terima kasih, Om." Raut wajah Alan terlihat agak berseri. Dia mendapat restu langsung dari orangtua sang kekasih. °°° Kediaman Busran Nabhan. "Lihat status orang-orang ah." Gaishan yang menjadi bos dari perusahaan hiburan ternama di tanah air itu membuka aplikasi chat dan mulai melihat status dari kontak yang disimpan olehnya. "Hum … status Sira lagi kuliah …*gila, cantik juga dosennya!" puji Gaishan. "Hum … kalau untuk casting putri duyung vs putri monyong film garapanku kayaknya pas," gumamnya. "Yang jadi putri monyong dosennya Sira, kan dia pake behel, buahahahaha!" Gaishan terbahak tak karuan. Setelah melihat status yang dipasang oleh sang adik perempuan, kini status dari adik sepupu laki-laki yang memiliki sifat yang hampir mirip dengannya, siapa lagi kalau bukan Liham. "Status Liham apa ini …?" Gaishan menyipitkan matanya membaca status Liham. "Bagaimana perasaanmu jika melihat Bunda kamu senang luar biasa untuk menyiapkan pernikahan kamu, sementara, ada nenek sihir dari pacar kamu yang dengan sombong menolak lamaran kamu?" Gaishan mengerutkan keningnya. "Liham status apa ini?" "Emang bunda siapa yang sedang menyiapkan pernikahan?" gumam Gaishan. "Ah, balas statusnya ah," gumam Gaishan. Dia mulai mengetik. 'Siapa yang mau nikah? kamu pasang status begini, emangnya buat kamu yah?' Setelah membalas status Liham, Gaishan melanjutkan lagi melihat status orang-orang. Tukang kepo raja gosip itu tentu saja penasaran dengan urusan orang. Ding. Pesan balasan masuk. "Dari Liham … punya Kak Alan." "Ah? punya Alan apa?" Gaishan bertanya-tanya. Dia mulai membalas chat. 'Punya Alan apa?' Lima detik kemudian masuk pesan dari Liham. 'Lamaran Kak Alan.' Gaishan membaca pesan itu. "Lamaran Alan?" kening Gaishan bergelombang. 'Nggak ngerti, yang jelas kek.' Balas Gaishan. Tiga detik kemudian. 'Baca status aku kalau nggak ngerti.' Gaishan melebarkan lubang hidungnya seperti banteng. 'Adik-adik jangan sok merintah yang kakak.' Balas Gaishan. Emoji meleletkan lidah dikirim oleh Liham. Gaishan melotot. "Dasar tukang lapor ke Tante Momok." Gaishan mencebik. Dia membaca kembali status Liham. "Bagaimana perasaanmu jika melihat Bunda kamu senang luar biasa untuk menyiapkan pernikahan kamu, sementara, ada nenek sihir dari pacar kamu yang dengan sombong menolak lamaran kamu?" Untuk tiga detik Gaishan diam memikirkan maksud dari status Liham ini. "Eh?! bukannya Alan kan udah lamar Nisa!" Mata Alan melotot hampir menggelinding ke lantai. "Lah! lah! lah! itu nenek sihir yang dimaksud oleh Liham berarti Oma Naila dong?!" "What the fucek!" Alan langsung menelepon Liham. "Apa?" angkat Liham dari seberang. "Maksudnya itu Oma Naila nolak lamaran Alan!?" Gaishan hampir berteriak. "Aku dan saudara-saudaraku sudah sepakat kalau dari kami tidak ada yang boleh memberi tahu masalah ini pada siapapun, jadi maaf yah untuk Kak Gaishan, Liham menolak menjawab," jawab Liham dengan sok bijak. Mendengar kalimat Liham membuat Gaishan meradang ganas. "Liham mulut ember, itu status kamu kalau bukan kasih tahu ke orang-orang lalu apa?!" Terdengar suara hening selama tiga detik lalu panggilan terputus. "Hiiiii! dasar anak satu ini!" Gaishan geregetan. Setelah Liham memutuskan panggilan, setengah menit kemudian dia menelpon Gaishan. "Liham-" "Sudah Liham hapus statusnya. Anggap saja pembicaraan kita nggak ada-" "Heh! heh! heh! kasih tau jelasnya!" perintah Gaishan. "Maaf Kak Gaishan-" "Bandel kamu yah, aku laporin ke Om Randra, kamu sering ngajak Chana main kuda-kudaan!" ancam Gaishan. "Kak Gaishaaaan, aaah!" Liham mengamuk dari seberang. "Bilang nggak? kalau nggak mau, aku telpon Om Randra sekarang yah, aku bilang lagi kalau kamu sering beli bikini mini untuk dipakai Chana" Gaishan malah tambah mengancam Liham. "Kak Gaishan tukang ngancem orang!" Liham berguling-guling menyesal dari seberang. Gaishan tersenyum syetan. Hahaha, kena kamu. Batin Gaishan. Farikin Seafood, ruang sekretaris Direktur Utama Farikin Seafood. Gea mematikan komputer setelah melihat jam digital di komputer yang menunjukan angka 12.05 siang. Setelah mematikan komputer, dia menekan interkom dan mulai berkata, "Bus, makan siang." Busran yang adalah sang bos mengangguk. Dia berdiri dari kursi bos dan hendak keluar ruangan. Ponsel Gea berdering, dia melihat ke meja kaca tempat di mana dia menaruh ponselnya. "Halo, Gaishan-" "Ma!" teriak Gaishan bagaikan orang yang kesetanan. "Ahk! jangan teriak-teriak! kuping Mama nggak *budek!" balas Gea berteriak. "Uhuk! maaf Ma, Gaishan khilaf," ujar Gaishan dari seberang setelah dia pura-pura batuk. Gea memutar matanya. Alasan saja anaknya yang satu ini. "Ma, lamaran Alan ditolak Oma Naila, perkaranya karena Oma Naila menjanjikan Nisa nikah sama Bang Hamdan anak dari Om Davin," ujar Gaishan. "Aaakh! apa?!" Gea yang malah teriak kaget. Busran buru-buru ke arah sang istri yang bagaikan kesetanan. "Sayang, ada apa? itu si Gaishan bilang apa sih?!" °°° "Kok aku malah kayak nggak ada nafsu makan yah setelah denger kabar dari Gaishan," ujar Gea memandangi makan siangnya. "Ada apa dengan Tante Naila? datang-datang dari Prancis langsung main mutusin untuk membatalkan lamaran Alan?" tanya Busran heran. "Mana aku tahu," sahut Gea. "Untung Bang Davin cepat meluruskan masalah dengan Randra, kalau nggak bisa jadi masalah ini," ujar Busran. "Untung Kakakku belum tahu kabar ini. Ah, padahal minggu lalu ditelpon Kak Momok dengan suara senang tentang lamaran Alan, malah jadi begini. Aku nggak khawatir sama yang lain, aku cuma khawatir ke Kak Momok saja," ujar Gea. "Kita diam saja. Yang penting tutup mulut dan jangan sebarkan, toh kita ini dari dua pihak. Di mana Alan adalah keponakan kamu sementara Hamdan adalah keponakanku," ujar Busran bijak. Gea melirik ke arah sang suami, dia terlihat cemberut dan mengangguk. "Hum … jalan satu-satunya yah hanya netral." "Tapi … pantes saja aku belum dengar kabar lanjutan dari Kak Momok mengenai lamaran resmi ke Nisa, rupanya sudah terjadi masalah dan huuh … kenapa dengan Tante Naila itu? Kak Rian saja nggak maksa Nisa buat nikah sama laki-laki yang nggak Nisa suka, padahal Kak Rian itu ayahnya Nisa," ujar Gea. Busran tidak tahu lagi alasan apa sebenarnya dibalik masalah ini. Dia hanya bisa memijat kepalanya. °°° Di daerah kampus Liham. Lihat terlihat menggigit kukunya takut. "Ah mati! mati! mati! pulang bakal dijambak sama semua orang ini," ujar Liham. Cassilda yang sedang melangkah ke arah Liham, mengerutkan keningnya. "Emang mati kenapa? lagian siapa yang mau jambak kamu?" tanya Finisa yang berada di dekat Liham. "Semuanya!" jawab Liham. "Siapa sih?" tanya Finisa. "Kak Poko, Kak Alan, Kak Bilal, sama si Benjamin kakak ipar, aaah! ada Chana juga!" jawab Liham. "Emangnya kenapa mereka harus jambak kamu? emang kamu buat salah apa sih?" tanya Cassilda. Dia melirik ke arah kantin. "Ke kantin yuk!" Cassilda hendak menarik tangan Liham ke kantin, namun terdengar suara serius dari Liham. "Karena aku udah melanggar janji bahwa jangan beritahu siapapun mengenai masalah lamaran Kak Alan yang ditolak oleh Oma Kak Nisa. Pokoknya Bunda nggak boleh tahu dan kalau aku beritahu ke siapa saja, maka aku pasti akan dimarahi oleh Ayah." Cassilda melirik ke arah Liham dengan tatapan membeo. Tiga detik kemudian Cassilda berkata, "Bukankah sekarang kamu sedang memberitahu aku rahasia itu!" Liham, "!!!!" Nah kan, mempercayakan rahasia pada si Liham ini anggap saja kamu berdiri di antara sisi-sisi jurang. Mundur kena maju kena. °°°
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN