Bab 13: Kemenangan dengan Harga Diri dan Jejak Sang Penyelamat

1092 Kata
Bulan berikutnya terasa seperti rollercoaster. Aurelia dan timnya bekerja tanpa henti untuk menyempurnakan proposal resor Bali. Mereka menggunakan dana $500.000 itu secara strategis: membayar hutang mendesak, meningkatkan kualitas presentasi 3D yang sangat memukau, dan merekrut konsultan lingkungan yang kredibel. Aura memastikan bahwa setiap sen yang diinvestasikan secara rahasia itu menghasilkan nilai maksimal. ​Kompetisi desain resor Bali adalah ajang bergengsi, dihadiri oleh panel juri internasional. Aura Design bersaing melawan puluhan firma besar, termasuk beberapa yang berafiliasi secara tidak langsung dengan PT. Wiratama Karya milik Arjuna. ​Kemenangan yang Mengejutkan ​Pada hari pengumuman, ketegangan menyelimuti auditorium. Aura duduk di antara para pesaingnya, merasakan kembali kegelisahan yang sama seperti saat ia memulai biro desainnya dulu—ketakutan akan jatuh, tetapi juga gairah untuk membuktikan diri. ​Ketika nama pemenang diumumkan, jantung Aura serasa berhenti. ​“...Pemenang untuk desain Resor Tropis Berkelanjutan di Bali jatuh kepada... Aura Design & Co.!,” seru Ketua Dewan Juri. ​Aurelia membeku sejenak, sebelum ledakan kegembiraan Maya dan timnya membawanya kembali ke kenyataan. Mereka menang. Mereka mengalahkan semua pesaing besar dengan desain yang berani dan idealis, desain yang didorong oleh integritas, bukan oleh kalkulasi aman. ​Aura berdiri di atas panggung, menerima penghargaan. Ini adalah kemenangan paling manis yang pernah ia rasakan, karena ini adalah kemenangan integritas atas stabilitas. ​Namun, di balik kebahagiaan itu, ada kesadaran pahit. Kemenangan ini tidak akan mungkin terjadi tanpa suntikan dana rahasia. Kemenangan ini adalah gabungan dari idealismenya (yang diyakini Reno) dan ketelitiannya (yang diakui Juna). ​Reaksi dari Para Pria ​Setelah upacara, ponsel Aura bergetar. Dua pesan masuk: ​Arjuna Wiratama: Selamat. Kamu berhasil. Aku akui desain itu bagus. Tapi ingat, keberanian sesaat bukan stabilitas abadi. Aku akan menunggumu di pasar berikutnya. Jangan sampai kapalmu tenggelam sebelum kamu sempat membuktikan idealismu. (Pesan Juna dingin, mengakui, tetapi tetap penuh ancaman.) ​Reno Adrian: (Tidak ada pesan. Ponselnya tetap hening, tidak ada ucapan selamat.) ​Ketiadaan Reno terasa lebih menyakitkan daripada kehadiran Juna yang mengintimidasi. ​Aura segera mencari cara untuk mengembalikan kebaikan misterius itu. Ia harus melunasi hutang $500.000 secepatnya untuk membebaskan dirinya, baik secara finansial maupun emosional. ​Jejak Sang Penyelamat ​Kemenangan resor Bali membawa banyak sorotan media, yang berarti Aura Design kembali dipercaya. Kontrak proyek itu sendiri sudah lebih dari cukup untuk menstabilkan perusahaan dan memulai proses pelunasan hutang. ​Aura segera meminta Maya melacak perusahaan cangkang yang mengirim dana $500.000 itu. Informasi yang mereka dapatkan sangat minim: perusahaan itu baru didirikan dan hanya memiliki satu direktur. ​Setelah menelusuri data hukum dan perbankan yang rumit, Maya berhasil mendapatkan alamat domisili hukum perusahaan tersebut—sebuah alamat virtual di Singapura. Namun, ada satu nama yang muncul dalam dokumen pendirian perusahaan sebagai pemegang saham minoritas yang memegang kuasa veto atas semua transaksi besar. ​“Ra, ini dia nama pemegang kuasa veto itu,” kata Maya, tangannya menunjukkan sebuah dokumen. “Ini aneh. Nama ini baru muncul dua bulan lalu, tepat saat dana ditransfer.” ​Aurelia mencondongkan tubuh, membaca nama di dokumen itu: Tuan D. Adrian. ​D. Adrian. Bukan Reno Adrian, tetapi D. Adrian. ​“Siapa D. Adrian ini?” tanya Maya. ​Aura teringat. Nama lengkap Reno adalah Reno Destrian Adrian. "D." adalah inisial tengah Reno. ​Rasa syok bercampur dengan haru melanda Aurelia. Ia yakin, Reno telah menjual salah satu aset langkanya, atau bahkan saham kecilnya di studio fotografi yang baru ia bangun, untuk mendapatkan modal awal yang besar ini. Reno tidak hanya melunasi hutang kegagalannya, ia berinvestasi pada kesuksesan Aurelia, tanpa meminta imbalan apa pun, bahkan ucapan terima kasih. ​Konfrontasi Emosional ​Aura tahu ia harus menghadapi Reno. Ia harus mengembalikan integritasnya di hadapan pria yang kini menjadi penyelamatnya. ​Aura mendatangi studio sederhana Reno lagi. Kali ini, ia membawa dokumen legal pelunasan hutang dan proposal perjanjian kemitraan yang baru—kali ini untuk Reno. ​Reno sedang mengemas hasil cetak foto-foto pamerannya. Ia kembali tersenyum sopan saat melihat Aura. ​“Selamat atas kemenanganmu di Bali, Ra. Aku tahu desain itu akan menang,” kata Reno. ​“Terima kasih. Aku tahu kamu yang mengirim uang itu, Reno,” kata Aura, langsung ke intinya. Ia meletakkan dokumen pelunasan di meja. “Aku sudah melunasi $500.000 itu. Aku harus mengembalikannya. Aku tidak bisa membangun kejayaan di atas hutang budi.” ​Reno menatap dokumen itu, lalu ke wajah Aura. “Aku tidak meminta kamu mengembalikannya, Ra. Itu adalah investasiku pada idealismemu. Dan kamu membuktikan aku benar. Kamu memenangkan itu tanpa Juna. Itu sudah cukup.” ​“Tapi ini bukan cara yang benar, Reno. Kenapa kamu tidak jujur?” tanya Aura. ​“Karena aku tahu jika aku jujur, kamu tidak akan menerimanya. Kamu akan berpikir aku mencoba membeli jalan kembali ke hidupmu. Aku tidak. Aku hanya ingin kamu menjadi dirimu yang terbaik, tanpa rasa takut bangkrut karena cinta,” jelas Reno. ​Aura merasa hatinya perih. Reno telah tumbuh menjadi pria yang benar-benar mandiri, bertanggung jawab, dan bahkan altruistik, tetapi ia juga menjadi pria yang secara emosional sangat jauh darinya. ​“Aku mencintaimu, Reno. Dan aku berutang padamu,” bisik Aura. ​“Hutang itu sudah lunas. Sekarang, aku datang ke sini bukan untuk meminta uangmu lagi, tetapi untuk mengambil sesuatu yang penting,” kata Reno. ​Reno mengambil kopernya yang berisi dokumen. Di dalamnya, ada berkas permohonan cerai yang sudah ditandatangani olehnya, tetapi belum diajukan ke pengadilan. ​“Aku memberimu kesempatan untuk menariknya, Ra. Tapi kamu tidak menariknya. Aku akan mengajukan ini besok. Kamu harus bebas, Ra. Bebas dari aku, bebas dari Juna. Bebas untuk menemukan dirimu yang sebenarnya.” ​Aura memandangi surat cerai itu. Ini adalah perpisahan yang dingin dan bertanggung jawab, kebalikan dari pernikahan mereka yang kacau dan penuh gairah. ​“Aku tidak ingin cerai,” bisik Aura. “Aku ingin kamu kembali.” ​Reno tersenyum, tetapi matanya sedih. “Aku sudah kembali, Ra. Aku sudah kembali menjadi pria yang seharusnya. Tapi sekarang, aku butuh wanita yang percaya pada stabilitas yang aku bangun sendiri, bukan wanita yang ketakutan. Aku perlu tahu bahwa kamu mencintaiku karena aku, bukan karena kamu takut aku bangkrut.” ​Reno meletakkan proposal kemitraan baru yang dibawa Aura ke samping. ​“Simpan tawaran kemitraan ini, Ra. Simpan untuk tahun depan. Saat kamu benar-benar yakin dengan fondasimu, hubungi aku. Sampai saat itu, mari kita membangun istana kita masing-masing.” ​Reno mengambil surat cerai itu dan berjalan keluar. Aura kini berdiri di studio yang didanai oleh pria yang mencintainya, tetapi meninggalkannya. Ia telah memenangkan peperangan profesional, tetapi ia baru saja menandatangani surat perpisahan emosionalnya. ​[Akhir Bab 13]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN