Bab 10: Harga Sebuah Fondasi

1040 Kata
​Pameran foto Reno meninggalkan bekas luka yang lebih dalam pada Aurelia daripada semua pertengkaran mereka tentang uang. Melihat Reno berhasil tanpa bantuannya, menjadi pria stabil yang ia impikan—tetapi tanpa dirinya—adalah kenyataan paling pahit. Aura menyadari, ia telah memenangkan perang finansial, tetapi ia telah kehilangan segalanya. ​Aura tidak pergi ke penthouse Arjuna malam itu. Ia pulang ke rumah, mencabut kalung berlian dari lehernya, dan meletakkannya di samping cincin perak milik Reno. Ia menghabiskan malam itu merenungkan perbedaan antara stabilitas yang dibeli dan kehangatan yang hilang. ​Konfrontasi Idealism ​Keesokan paginya, Aura mendatangi kantor Juna. Ia tidak membawa desain baru; ia membawa blueprint lama yang memuat desain atap tropis berani yang dicintai Reno dan ditolak Juna. ​Juna menyambutnya dengan senyum puas. “Aku senang kamu sudah memikirkannya, Ra. Desain minimalisnya sudah final, kan?” ​Aura meletakkan blueprint lama di meja. “Aku tidak mengubahnya, Juna.” ​Senyum Juna menghilang. “Apa maksudmu? Aku sudah perintahkan untuk diganti. Aku tidak akan mempertaruhkan investasi kita untuk idealisme yang berisiko.” ​“Risiko adalah bagian dari desain, Juna,” balas Aura, nadanya tenang tetapi tegas. “Desain minimalis itu generik. Itu aman, tapi itu membunuh signature perusahaan kita. Aku mendirikan Aura Design bukan untuk membuat desain aman yang disukai investor, tetapi untuk membuat karya yang dicintai orang.” ​Juna berdiri, ekspresinya mengeras. “Kita bicara bisnis, Aurelia. Sekarang kamu adalah bagian dari bisnis besar, bukan seniman idealis yang berjuang. Aku menyelamatkanmu dari kehancuran karena idealismemu itu.” ​“Justru idealisme itu yang membuatku sukses sejak awal, Juna!” bentak Aura. “Aku melihat apa yang terjadi di sini. Kamu ingin mengontrol risikomu, yang berarti kamu ingin mengontrol desainku. Kamu membeli stabilitas perusahaan, dan sekarang kamu berusaha membeli jiwaku sebagai arsitek.” ​Juna menatap Aura dengan dingin. “Kamu benar. Aku berinvestasi padamu karena kamu adalah yang terbaik. Tapi kamu harus bermain sesuai aturanku. Aku memberikanmu fondasi yang kamu butuhkan. Aku memberimu kepastian finansial. Dan aku memberimu kompensasi yang pantas.” ​“Fondasi itu berharga mahal, Juna. Harganya adalah kebebasan berkreasi dan integritas seni yang selama ini aku junjung tinggi. Itu adalah hal yang tidak pernah Reno minta dariku!” Aura berdiri, menghadapi Juna tanpa gentar. ​“Reno tidak memintanya karena dia tidak mampu membelinya!” seru Juna, meninggikan suaranya. “Dia hanya memberimu janji kosong dan membuatmu bangkrut! Aku memberikanmu realitas! Kamu memilih untuk bersamaku karena aku stabil, Aurelia. Jangan berpura-pura sekarang kamu merindukan drama kemiskinan.” ​Kata-kata Juna menusuk, tetapi Aura sudah siap. ​“Aku memilih stabilitasmu karena aku takut, Juna. Aku takut kehilangan uang dan aku takut sendirian. Tapi sekarang aku tahu: Reno mungkin tidak stabil secara finansial, tetapi ia tidak pernah berusaha mengubahku, atau membunuh idealismeku. Ia mendukungku, bahkan ketika ia tidak punya apa-apa,” jelas Aura. ​“Dia adalah masa lalu yang rapuh,” kata Juna. “Aku adalah masa depanmu yang kokoh.” ​Aura menggeleng. “Tidak. Kamu adalah penjara yang kokoh. Aku tidak bisa membuat desain yang hanya aman dan menghasilkan uang. Aku tidak bisa bekerja di bawah kendali yang membunuh jiwaku.” ​Keputusan Kematian dan Kehidupan ​Aura mengambil napas panjang. Keputusan ini jauh lebih sulit daripada menolak tawaran saham. Ini adalah keputusan yang mempertaruhkan semua kestabilan yang baru ia capai. ​“Aku tidak bisa melanjutkan kemitraan ini, Juna,” kata Aura. ​Wajah Juna berubah menjadi merah padam. “Kamu gila? Kamu akan memutuskan kontrak proyek mercusuar di tengah jalan? Kamu tahu konsekuensinya? Kami akan menuntutmu. Kamu akan menghadapi denda yang akan membuatmu kembali bangkrut!” ​“Aku akan menanggung konsekuensinya. Aku akan membayar dendanya. Aku akan menggunakan semua keuntungan yang baru aku dapat dari kemitraan ini untuk melunasi dendanya,” kata Aura, matanya berkilat dengan determinasi baru. “Aku akan bangkrut, mungkin. Tapi setidaknya, aku akan bangkrut dengan jiwaku utuh.” ​Aura mengambil surat pengunduran diri sebagai mitra dari tasnya. “Kontrakmu memang solid, Juna. Tapi kamu tidak bisa mengikatku. Aku memilih keluar dari kemitraan ini sekarang. Silakan gunakan tim internalmu untuk menyelesaikan desain. Aku akan memastikan transisi berjalan mulus.” ​Juna menatapnya dengan campuran amarah dan kekaguman. “Kamu benar-benar gila, Aurelia. Kamu memilih kehancuran yang kamu hindari dengan susah payah. Semua karena bayangan pria yang sudah meninggalkanmu?” ​“Tidak,” kata Aura. “Aku memilih diriku. Dan aku memilih untuk percaya pada diriku, seperti yang Reno percaya pada dirinya sendiri saat dia menjadi kuli angkut untuk membayar utangnya. Aku akan membangun fondasiku sendiri, Juna. Tanpa campur tanganmu, dan tanpa tergantung pada uang suamiku.” ​Juna menghela napas panjang, kekalahannya tampak jelas. “Baik. Aku tidak akan menuntutmu gila-gilaan, Ra. Aku menghormati keberanianmu. Tapi jangan pernah kembali kepadaku saat kamu bangkrut.” ​“Aku tidak akan kembali,” janji Aura. ​Aura berjalan keluar dari kantor Juna, meninggalkan semua kenyamanan, kemewahan, dan stabilitas finansial di belakangnya. Ia tahu, beberapa minggu ke depan akan menjadi neraka finansial. Ia mungkin harus menjual aset pribadinya untuk menutupi denda dan memulai dari nol lagi. ​Menghadapi Masa Depan yang Tidak Pasti ​Aura kembali ke kantornya. Maya panik setelah mendengar berita perpisahan dengan Wiratama Karya. ​“Ra, apa yang kamu lakukan? Kita akan kehilangan segalanya!” seru Maya. ​“Kita akan kehilangan stabilitas, May, tapi kita tidak akan kehilangan identitas. Kita akan berjuang lagi,” kata Aura, kini matanya memancarkan semangat yang sudah lama hilang. ​Malam itu, Aura pulang ke rumah yang terasa asing. Ia mengambil cincin perak Reno dan memegangnya. Ia tidak tahu di mana Reno sekarang, atau apakah ia akan kembali. Reno telah mengajarkannya bahwa cinta sejati tidak butuh stabilitas, tetapi butuh keberanian untuk berdiri sendiri. ​Aura tersenyum, senyum yang nyata, bukan senyum profesional yang tegang. Ia memang telah membuat pilihan yang salah di masa lalu, memilih ketakutan di atas cinta. Tetapi sekarang, ia memilih jalan yang paling sulit: jalan yang independen, tanpa Juna, dan tanpa Reno. ​Ia mengambil kunci mobilnya dan memutuskan pergi ke tempat yang dulu selalu menjadi escapism mereka berdua—warung kopi kecil yang bau asap, tempat Reno mengajarinya filosofi kebebasan. ​Di sana, ia berharap menemukan jejak suaminya, atau setidaknya, menemukan kembali dirinya sendiri. ​[Akhir Bab 10]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN