Sembari Andin memakan bekalnya dari Beni, Beni melajukan mobil putihnya. Sesekali Beni memandang gadis cantik yang makan di sebelahnya. “Manis juga anak ini,” batin Beni tergelitik. Perasaan Andin merasa tidak enak, sampai akhirnya ia mencoba memandangkan arah matanya ke Beni. Kebetulan Beni juga sedang memandang Andin. Spontan mereka saling terkejut dan sama-sama memalingkan padangan mereka. “Hehehe,” tawa Beni ringan. Andin hanya menunduk dan melanjutkan makannya. Walaupun dalam hati Andin terus memberontak ingin tersenyum. “Kalau mau senyum, senyum aja kali gak usah ditahan begitu,” gelitik Beni. “Apa sih Kak Beni, ganggu orang makan aja,” protes Andin. Namun, Andin yang bibirnya seperti menahan senyum, diketahui oleh Beni. “Tuh kan, kamu mau senyum kan? Gak usah bohong, deh,” bala

