Tania tersenyum menggandeng Delon masuk ke kafe. “Kamu harus kerja, ‘kan mau ngumpulin uang buat mahar. Katanya mau nikahin aku.” Dia tersenyum ramah pada Andri yang menatap mereka. “Aku nggak enak kalau kerja di sini. Masa aku di bayar sama calon istriku sendiri.” Delon mengangguk ramah pada pelayan kafe dan yang lainnya. Sepertinya mereka sedang menjadi sorotan. “Bukannya kamu dibayar pake uang pelanggan. Sama aja kayak Gea dan yang lainnya.” Tania meletakkan tas di meja, lalu mendaratkan bokongnya. Diikuti Delon sembari berujar, “Aku diajak Dimas jadi vokal di bandnya.” “Wah? Aku bakalan punya suami penyanyi dong.” Tania terkikik. “Nanti aku coba dulu.” Bahu Tania turun. Bibirnya mengerucut. “Aku belum paham ngurus kafe dan aku nggak mau di tinggalin manggung.” Delon tertawa

