Bab 9. Siapa?

1181 Kata
Sampai di rumah, Bianca langsung masuk ke dalam kamar. Kepalanya agak pusing karena siang tadi sempat menangis. Begitu pula Namira dan Daniel, pasangan suami istri masuk kamar berbarengan. "Kamu mau langsung mandi?" Pertanyaan Daniel membuat langkah kaki Namira terhenti. "Iya. Emang kenapa?" "Enggak kenapa-napa. Ya udah kamu mandi duluan." "Oke." Kalau saja Namira tidak haid, ingin rasanya Daniel mandi bersama. Akhirnya lelaki itu hanya menunggu. Sambil menunggu istrinya selesai mandi, Daniel membuka handphone, mengecek email dan beberapa pesan yang masuk salah satunya dari Hesti. Daniel memejamkan kedua mata sejenak, meredam emosi yang mulai terpancing. Hesti menghubungi Daniel menggunakan nomor baru. Sedangkan Daniel, sejak dulu tidak pernah mengganti nomor handphone-nya. [Daniel, ini aku, Hesti. Kenapa kamu menikahi anak angkatmu, Daniel? Apa enggak ada wanita lain sampe anak ingusan itu kamu nikahi? Apa kamu udah jadi p*****l? Menjijikan!] Daniel langsung menghapus pesan itu dan memblokir nomernya. Dia sudah tidak ingin berurusan dengan Hesti lagi. Sejak perceraiannya delapan tahun lalu, kehidupan Daniel sudah jauh lebih bahagia. Apalagi ada Bianca yang selalu mendukung dan membuat hari-harinya sepi. Awalnya Daniel berpikir, apa Bianca akan terpuruk jika kedua orang tuanya bercerai? Ternyata tidak. Justru perceraian itu membuat hati Bianca tenang. Dia sudah terluka atas pengkhianatan mamanya terhadap papanya. Hesti sudah beberapa kali kepergok selingkuh oleh Bianca. Ia sangat kecewa dan bersedih. Bianca tahu kalau papanya kerja keras siang dan malam untuk memenuhi kebutuhan Hesti dan dirinya. Tetapi Hesti, justru tidak menghargai kerja keras Daniel sampai akhirnya merasa muak dan Daniel pun menceraikan Hesti. Daniel membuka kancing kemeja. Ia hanya mengenakan kaos oblong. Langkah kakinya menuju balkon kamar. Menikmati senja yang sebentar lagi akan tenggelam. Perjalanan rumah tangganya dengan Hesti yang kandas di tengah jalan membuatnya takut membuka hati untuk wanita, masih trauma melakukan pernikahan lagi. Namun, ketika Namira secara terang-terangan mencintainya, Daniel berusaha menata hati dan merabanya. Apakah benar, rasa sayang Daniel pada Namira melebihi kasih sayang seorang ayah pada anak angkatnya? Pada mulanya Daniel masih enggan menanggapi cinta yang diungkapkan Namira. Bianca, anak tersayang Daniel tidak tinggal diam. Ia terus-menerus membujuk Daniel menikahi Namira karena ia ingin memiliki adik lagi. Akhirnya Daniel menyadari ada cinta untuk Namira. "Mas, ngapain di situ? Mau mandi gak?" Daniel menoleh mendengar suara istrinya. Ia membalikkan badan, terlihat Namira mengenakan handuk sebatas d**a. Seketika Daniel menelan saliva. Namira terlihat s3ksi. "Mau. Mas mau mandi." "Ya udah sana, sebentar lagi mau Magrib." "Iya." Daniel bergegas masuk ke dalam toilet, sedangkan Namira mengenakan pakaian ganti. Setelahnya, Namira keluar kamar. Membantu Bi Rusmi menyiapkan makan malam. "Masakannya udah siap semua, Bi?" tanya Namira melihat nasi dan beberapa lauk pauk sudah terhidang di atas meja makan. "Sudah, Non Namira." "Wah, baru aja aku mau bantuin," ucap Namira, menarik kursi, duduk. "Enggak usah bantuin, Non. Non Namira kan baru pulang kuliah, pasti capek," ujar Bi Rusmi yang memang sudah mengenal Namira cukup dekat. Namira menoleh ke anak tangga yang menghubungkan ke kamar sahabatnya. "Bianca belum keluar kamar, Bi?" "Belum, Non. Mungkin masih mandi," jawab Bi Rusmi. Wanita yang usianya sekitar 50 tahunan itu beranjak, pergi meninggalkan Namira seorang diri di ruang makan. Namira menoleh kanan kiri, sepi. Dari pada ia sendirian di ruang makan, lebih baik ke kamar Bianca. "Bi, buka pintunya. Bianca ...." panggil Namira sambil mengetuk pintu kamar anak sambungnya. Cukup lama, tidak ada jawaban dari dalam kaamr Bianca. Namira memutar handle pintu, terbuka. Rupanya Bianca tidak mengunci pintu kamarnya. Namira masuk, memanggil nama Bianca. Terdengar suara kucuran air dari dalam toilet, mungkin Bianca masih mandi. Namira duduk di kursi meja rias. Ia menunggu sahabatnya selesai membersihkan diri. Pintu toilet terdengar terbuka, Namira berdiri. "Astaghfirullah, Namira! Kamu ngagetin aja deh!" Bianca terkejut ketika menyadari kehadiran Namira di kamarnya. "Sorry aku masuk tanpa izin. Habisnya pintu kamarmu gak dikunci," jawab Namira menyesal, meminta maaf pada Bianca. "Gak apa-apa. Ada apa ke kamarku? Mau minta pembalut lagi?" "Enggak. Aku pengen ke sini aja. Emang gak boleh, ya?" "Bolehlah. Maksudku, tumben kamu ke sini menjelang Magrib. Biasanya kan udah duduk di mushola." "Yeh, aku kan lagi mens." "Oh iya, lupa. Nah terus kenapa ke sini?" Bianca telah selesai mengenakan pakaian ganti. Ia duduk di sisi ranjang. Namira pindah, duduk di sisi sahabatnya. "Bi, kira-kira ... Malam ini Mamahmu datang ke sini gak?" Pertanyaan Namira membuat Bianca terkejut. Apa sejak tadi sahabatnya itu kepikiran tentang kedatangan Hesti? "Kalau dia ke sini, aku akan menyuruhnya pergi. Kamu kenapa? Masih kepikiran papah mau balikan sama mamah?" tanya Bianca memastikan. Namanya juga gadis belasan tahun, kadang masih labil perasaan dan pikirannya. Kadang Namira percaya seratus persen kalau suaminya akan setia. Kadang, Namira juga ragu kalau akhirnya Daniel mau kembali pada Hesti demi Bianca. "Jujur, iya. Aku takut, Bi ...." "Duh kamu tuh. Pokoknya percaya aja kalau Papah enggak akan mau balikan lagi sama dia. Aku aja gak mau papah sama mamah balikan lagi. Sekarang kamu gak boleh banyak pikiran, nanti darah mens-mu tambah banyak lho. Tambah lama selesai mens-nya." Kedua mata Namira membeliak, mencubit pelan bahu Bianca. "Jangan gitu dong. Aku kan pengen cepet-cepet kasih kamu adik." "Hehehe ... iya deh." "Ya udah, kamu sekarang salat Magrib dulu gih! Papahmu kayaknya udah nunggu di mushola. Bi, tapi kamu jangan bilang ke papahmu ya kalau aku takut dia balikan lagi sama tante Hesti, janji?" Namira menunjukkan jari kelingking di depan wajah Bianca. "Iya, janji." Bianca menempelkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Namira. Mereka saling melempar senyum. Namira dan Bianca keluar kamar. Bianca menuju mushola yang terletak di samping rumah. Ternyata benar, sudah ada Daniel yang menunggu anaknya. Biasanya kalau Namira tidak menstruasi, ia dan Bianca yang jadi makmum. Namira menunggu suami dan anak sambungnya selesai salat Magrib di ruang tengah sambil menonton televisi. Baru sekitar sepuluh menit Namira nonton televisi, terdengar suara bel. Bi Rusmi datang tergopoh-gopoh dari arah dapur. Ia berjalan ke arah pintu depan. Namira berdiri, hendak mengikuti Bi Rusmi karena ingin tahu siapa yang datang? Hati Namira mulai gelisah, dia takut sekali kalau yang datang adalah Hesti, mantan istri suaminya. Kalau Hesti yang datang, Namira suka serba salah. "Namira? Ngapain kamu berdiri di situ?" Suara Daniel terdengar. Lelaki yang masih mengenakan kain sarung dan peci itu berdiri di belakang Namira. "I-itu, Om, eh Mas ... ada yang ketuk pintu. Bi Rusmi lagi ke depan, bukain pintunya," jawab Namira gugup. Bianca dan Daniel saling pandang. "Pah, jangan-jangan yang datang mamah." Dugaan yang diucapkan Bianca membuat Namira semakin gelisah. Ia mendekati suaminya, menggamit lengan Daniel. "Papah lihat dulu," kata Daniel hendak ke depan. "Jangan!" cegah Namira, mengeratkan gamitan tangannya. "Mas cuma mau mastiin aja, Sayang. Soalnya tadi Mas juga sempat nyuruh Yuda datang ke rumah, bawa laporan yang belum Mas selesaikan di kantor. Kali aja yang datang Yuda," jelas Daniel, berusaha menenangkan istrinya. "Enggak mau. Pokoknya Mas gak boleh ke depan. Bi, tolong ya, siapapun yang datang, kasih tau ke mereka, kalau aku dan papahmu lagi di kamar, gak bisa diganggu!" Namira justru menitip pesan pada Bianca. "Oke siap. Ya udah, Pah. Papah sama Mamih di kamar aja. Biar aku yang lihat siapa yang datang." Daniel tak bisa berkutik. Baru saja Bianca hendak ke depan, dan Namira serta suaminya mau ke kamar, Bi Rusmi datang menemui mereka. "Bi, siapa yang datang?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN