Part 11
***
Kemanapun aku pergi, aku akan menjadi anak perempuan yang membanggakan
Aku akan menjaga harapan cintamu ibu
Ibu, aku benar-benar mencintaimu
~Dear mom_ SNSD
.
.
.
.
.
"Hai?"
Nara menoleh ke sumber suara. Seorang gadis cantik tengah tersenyum padanya. Nara buru-buru membungkuk hormat. "Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Nara, ia tau gadis di depannya ini adalah tamu keluarga Arthur.
Gadis itu tersenyum kembali, "aku Kim Yura, apa kau Nara?"
Nara mengangguk lalu tersenyum hangat.
"Aku adalah sepupu Devian, adik Kim Jung Ji," Jelas Yura tanpa ditanya.
Adik kim Jung Ji?kim Jung Ji?
Deg!
Kim Jung Ji, yang waktu itu berkunjung ke rumah ini juga?
Apa gadis ini akan memakinya seperti kakaknya waktu itu?
Yura memperhatikan raut wajah Nara yang terlihat berubah. "Kau baik-baik saja?"
Nara mengangguk cepat dan berniat pamit untuk melanjutkan perkerjaannya namun ditahan oleh Kim Yura.
Setelah mengobrol cukup lama akhirnya Nara tau, gadis ini ternyata tidak seperti yang Nara pikirkan. Sifatnya baik dan sangat ceria, kontras dengan dirinya yang pendiam.
"Bagaimana rasanya?" Saat ini Nara dan Yura sedang berada di taman belakang rumah keluarga Arthur.
Nara menoleh tak mengerti, "hah?"
"Bagaimana rasanya mengandung? Apa bahagia?"
Nara tersenyum, dan mengelus perutnya tanpa sadar. Baru kali ini ada seseorang yang bertanya tentang kandungannya. "Sangat bahagia."
Yura tersenyum menyadari Nara begitu menyayangi bayinya. Gadis ini baik dan Yura menyukainya. Yura pikir, sepupu menyebalkannya Devian sangat beruntung mendapatkan Nara.
"Kau mencintai Devian?" Di benak Yura, Nara mau menikah dengan Devian tentu karena limpahan harta yang dimiliki keluarga Arthur, tetapi saat melihat bagaimana perempuan hamil itu mengerjakan pekerjaan dapur membuat asumsi itu musnah. Sifat kikuk yang tidak dibuat-buat dan raut wajah Nara terlalu polos untuk menguasai harta keluarga Devian. Sangat tidak masuk akal jika bibinya, Kim Sena sangat membenci wanita sepolos Nara dan selalu berpikiran bahwa anak yang di kandung Nara bukan cucu keluarga Arthur.
Mata Nara bergerak gelisah, bingung harus menjawab apa. Selama ini ia bertahan di rumah Devian karena ada beberapa janji yang telah ditawarkan kepadanya. Pernikahan dan juga pengakuan status bayi yang ia kandung. Tidak pernah terpikirkan alasan lain seperti cinta.
Yura menunggu jawaban Nara meski sudah bisa mengambil kesimpulan sendiri. Ia hanya berharap Nara mencintai Devian agar pernikahannya nanti tidak hambar.
"A-aku ... tidak tau," Nara menyahut pelan.
Tertawa kecil, Yura membuat Nara bingung. "Ada yang lucu?"
Yura hanya menggeleng lalu menatap perut Nara antusias, "boleh aku menyentuhnya?"
Nara menahan nafas saat tangan Yura mengelus perutnya perlahan. Ini pertama kalinya ada tangan yang menyentuh perut besarnya selain tangannya sendiri. Nara ingin menangis rasanya saat bayi di dalam perutnya bergerak. Apa bayinya juga bahagia ada tangan lain yang menyapa?
"Dia bergerak!" Yura histeris saat telapak tangannya merasakan pergerakan halus. Mau tidak mau Nara tertawa melihat reaksi teman barunya. "Apa bayimu juga seperti ini saat Devian menyentuh perutmu?"
Nara menggeleng lemah. Tidak ada yang sudi menyentuh perut besarnya selain Yura. Devian pun begitu, kehadiran bayi ini tidak diinginkan olehnya. Nara tidak bisa berbuat apa-apa karena pada awalnya pun Nara tidak bisa menerima bayi ini setelah kejadian naas di apartemen kakaknya. Tapi seperti yang telah Nara tanamkan dihatinya, ia sudah berpasrah diri pada Tuhan yang lebih memiliki kuasa. Menerima dan berusaha untuk menjalani adalah satu-satunya cara.
"Jangan sedih, Devian akan sangat menyesal melewatkan hal seperti ini."
Nara mencoba mengangguk walau tak yakin. Beberapa jam berlalu, Yura dan Nara bahkan tidak sadar langit telah berubah keorenan. Mereka asyik mengobrol di kamar Nara. Para pelayan yang biasanya selalu melimpahkan tugas pada Nara tidak berani menegur saat melihat Yura.
Nara sendiri begitu menikmati waktu bersama teman barunya. Sejak tinggal di rumah Arthur baru kali ini ada seseorang yang terlihat tulus terhadap dirinya.
"Ah ... kurasa hampir malam, sepertinya aku harus pulang."
Nara tidak bisa menutupi raut sedihnya. Ia bahagia bisa tertawa bersama Yura namun lupa bahwa ia akan kembali sendiri saat Yura pergi. "Aku akan datang lain kali, jangan sedih." Hibur Yura saat melihat wajah Nara. Yura sengaja pamit pukul enam sore karena tidak ingin bertemu dengan paman dan bibinya yang belum pulang dari acara perusahaan. Serta Devian yang entah pergi kemana sejak pagi.
"Terimakasih, Yura."
Yura tersenyum lalu memeluk perempuan hamil yang usianya lebih muda satu tahun darinya.
****
Rayden Arthur dan Kim Sena tiba di rumah mereka jam tujuh malam. Sedangkan Devian, datang tidak lama setelah kedua orangtuanya.
Turun dari kamarnya di lantai dua, Devian tidak sengaja melihat Nara berdiri kaku menghadap pintu.
Ada yang berbeda dari wajah Nara. Warnanya pucat hampir seputih kertas dan ketakutan tersirat jelas dari wajahnya bahkan Devian dapat melihat bulir air mata turun dari kedua mata Nara. Gadis itu mematung di depan pintu ruang kerja ayahnya yang tak tertutup rapat. Setelah beberapa kali mengusap air mata dengan langkah cepat ia kembali ke kamarnya.
Devian lalu mendekat ke arah ruang kerja ayahnya. Tidak ada suara apapun dari dalam. Merasa tidak ada yang janggal Devian berlalu menuju dapur sesuai niat awal. Menuju dapur berarti melewati kamar Nara, tidak berniat mengulang kesalahan seperti malam itu, Devian mencoba tidak perduli pada suara gaduh yang terdengar dari dalam kamar Nara.
Suara gaduh yang sempat Devian dengar menghilang, tergantikan suara teriakan. Tanpa pikir panjang Devian melangkah cepat dan membuka pintu kamar Nara hingga pintu itu terbentur tembok di belakangnya.
"Nara!" Devian tanpa sadar berlari ke arah Nara yang tergeletak di lantai dengan darah yang telah merubah warna rok yang di kenakan Nara.
Rintihan kesakitan keluar dari bibir Nara. Orangtua serta kakek Devian yang mendengar teriakan Devian berdiri di ambang pintu dengan wajah terkejut. Tak perduli dengan darah yang mengotori bajunya, Devian mengangkat tubuh Nara dan membawanya keluar menuju mobil di halaman rumah. Mengabaikan Kim Ryung yang melarang.
*****
"Bagaimana jika anak yang perempuan itu lahirkan bukan laki-laki, Ayah?"
"Kau meragukan kepercayaan keluargaku?!"
"Tidak Ayah, hanya saja kita tidak tau apa yang akan terjadi nanti."
"Jika anak yang perempuan itu lahirkan bukan laki-laki ... kita singkirkan mereka. Anak dan ibu harus kita pisahkan supaya perempuan itu tidak memakai bayinya untuk menghancurkan nama baik keluarga kita. Dan Devian juga tidak harus menikahinya. Dia akan bebas dari tanggung jawab pernikahan."
Dengan tangan bergetar Nara memasukkan semua baju yang ia miliki ke dalam sebuah tas yang tidak terlalu besar. Ia harus secepatnya keluar dari rumah ini. Apa yang ia dengar dari ruang kerja ayah Devian membuat hatinya sesak. Terkejut sekaligus takut setelah mendengar pembicaraan Kim Ryung dengan Rayden Arthur.
Bagaimana mungkin mereka berpikir dan seakan memutuskan bahwa bayi yang akan ia lahirkan adalah laki-laki? Sedangkan ia sendiri yakin bahwa anaknya adalah perempuan. Ia yang mengandung tentu perasaannya lebih peka. Dia ikhlas jika Devian tidak mau menikahinya dan memberikan status untuk anaknya, tapi jika di pisahkan dari anak yang susah payah ia pertahankan. Ia tidak sudi.
Saat memindahkan pakaian dari lemari ke dalam tas, Nara tidak sadar satu bajunya terjatuh ke lantai dan menginjaknya hingga terpeleset,
"Aahhhkk!!"
Bokong Nara mendarat keras di atas lantai. Nara memeluk perutnya saat dirasa sesuatu mengalir dari bawah tubuhnya. Tubuh Nara limbung ke belakang saat sakit yang teramat menghantam perutnya. Ya Tuhan ... selamatkan ia.
Brrakk
"Nara!"
.
.
.
.
.
//Trust//