Part 9
***
This too will pass, right?
.
.
.
.
.
Banyak manusia tidak sadar, Tuhan memberikan ujian bukan hanya dengan kesedihan namun juga kebahagiaan. Manusia bersenang-senang tanpa ingat bahwa yang mereka miliki tidaklah abadi. Apa yang mereka rasakan tidak akan bertahan selamanya.
Nara tercenung saat teringat nasihat ibu panti yang sudah ia anggap ibu kandung sendiri. Sebelas tahun Nara tinggal di panti asuhan. saat umurnya yang ke limabelas tahun Hwan mengajaknya keluar dari panti. Mencoba hidup mandiri, berharap lebih baik.
Nara rindu suasana di panti. Ramai dengan anak-anak semua usia. Sejak dua tahun lalu, aktivitas Nara adalah bersekolah dan bekerja sebagai pelayan kafe setelah pulang sekolah.
Kini, semua berbeda.
Hamil di luar nikah membuat Nara berada di rumah keluarga kaya raya pemilik perusahaan
e-commerce terbesar di Korea Selatan. Disembunyikan dari dunia luar karena mengandung keturunannya.
"Ya! Jangan hanya malas-malasan. Meskipun kau adalah calon istri Tuan Devian, kau tetap harus melakukan tugasmu."
Suara dari seorang pelayan membuat Nara berdiri dari kursi kayu yang ia duduki. Berjalan menuju tempat cuci piring yang telah ia tinggalkan. Terlalu lama berdiri saat mencuci piring membuat Nara merasa lelah. Kandungan yang semakin besar penyebabnya.
Karena merasa tidak kuat Nara memilih duduk di kursi yang ada didapur. Nara tidak ingin jatuh sakit seperti beberapa hari lalu karena ia sadar tidak akan ada yang mau merawatnya.
Pekerjaannya saat ini memang tidak beda jauh dari yang dulu. Mencuci piring, membersihkan dapur, dan menyiapkan makanan. Hanya saja, di rumah ini ia selalu di marahi. Apapun pekerjaan yang ia lakukan benar atau salah selalu di tegur. Baik oleh sesama pelayan atau oleh si pemilik rumah.
Nara melihat Devian masuk ke dapur. Mengambil minuman dingin dari kulkas dan meminumnya langsung. Nara bahkan tidak berkedip melihat sesuatu di leher putih Devian bergerak turun naik saat menelan air yang ia minum. Belum lagi, kerah baju Devian yang terbuka.
Ya Tuhan, Nara ingin menyentuhnya
Devian memandang bingung pada Nara yang melihat ke arahnya tanpa berkedip. "Ada apa? Kau mau?"
Nara tersadar saat Devian berjalan kearahnya dengan membawa botol yang isinya telah Devian minum setengah. Devian pasti membentaknya karena telah lancang memperhatikan kegiatan laki-laki itu.
"Ini," Devian menyodorkan bibir botol pada Nara. "Kau mau, kan?"
Seakan terhipnotis, Nara membuka mulutnya, menenggak minuman tanpa menyentuh botolnya sama sekali. Devian bahkan tidak protes harus memberi minum Nara layaknya anak kecil. Cara minum Nara justru membuat Devian senang. Senang karena bisa melihat bibir menggoda Nara dari dekat.
Di pintu dapur, Kim Sena membatalkan niat untuk masuk ke dalam. Melihat apa yang anaknya lakukan dengan si calon menantun miskin membuat Kim Sena khawatir. Ia takut Devian menerima perempuan itu sebagai istrinya dengan senang hati.
Nara menatap malu pada Devian. Air di dalam botol yang Devian pegang habis tak bersisa. Padahal tadi, ia sama sekali tidak haus.
"Terimakasih," pelan Nara berucap.
Devian mengangguk lalu berlalu dari hadapan Nara.
Devian tidak marah?
Nara mengelus d**a akan sifat Devian tadi. Selamat~
******
"Iya, sekitar sebulan lebih rumah ini kosong. Terakhir yang aku lihat, dua laki-laki dan dua perempuan dengan berpenampilan formal masuk ke rumahmu, lalu mereka keluar membawa beberapa kardus. Aku tidak tau isinya apa."
Hwan hanya bisa menghembuskan nafas lelah. Hampir dua bulan ia mencari Nara. Adik kandung sekaligus satu-satunya keluarga yang ia miliki di dunia, kini hilang entah kemana. Hwan tidak tau bagaimana kabar adiknya saat ini. Nara tidak lagi pergi ke sekolah. Hwan tau karena ia selalu menunggu Nara di gerbang sekolahnya. Pergi ketempat Nara bekerja pun ia tidak ada. Saat ia bertanya kemana Nara, semua orang hanya bungkam.
Pagar rumah yang dulu ia tempati bersama Nara juga tergembok. Menandakan tidak ada siapapun di dalam. Tetangga yang Hwan tanya pun enggan memberi informasi banyak tentang Nara. Mereka hanya bilang bahwa biaya sewa rumah Hwan dan Nara sudah di bayar oleh orang tidak di kenal untuk satu tahun ke depan.
"Terimakasih, atas informasinya. Saya harus pergi mencari Nara kembali."
"Sama-sama. Tapi, jika nanti kau bertemu dengannya, aku harap kau tidak terkejut atau marah. Ia hanya gadis polos yang malang."
Dahi Hwan mengerut. Yang malang? Kenapa kata-kata itu seakan mendeskripsikan kondisi Nara saat ini?
******
Bayi yang ada di perut Nara berulah. Menginginkan air dingin dari kulkas saat jam di dinding telah menunjuk pukul 11 malam.
Pengaruh kejadian siang tadi di dapur ternyata belum hilang. Bayangan akan cara minum Devian membuat Nara tiba-tiba merasa haus. Dengan langkah lambat Nara beranjak dari tempat tidur, keluar kamar menuju dapur.
Saat membuka kulkas Nara melihat semua makanan dan minuman yang ada di dalamnya dengan perasaan senang yang tiba-tiba hadir. Apalagi, saat melihat botol kaca berisi air yang tadi siang sempat Devian dan ia minum. Botol itu kini telah terisi air kembali.
Nara tidak sadar, seseorang memperhatikan semua gerak geriknya dari bangku kayu yang ada di dapur. Lampu dapur yang tidak di nyalakan membuat keadaan dapur temaram. Beruntung Nara maupun orang yang memperhatikan telah hapal seluk beluk dapur di rumah ini.
"Kau menginginkannya?" Bisik Nara pada bayi di dalam perutnya. Seakan menggoda si bayi yang bahkan tidak akan menunjukkan reaksi apapun.
Nara memutar tutup botol yang ia pegang lalu menenggak isinya.
Rasa segar seketika ia rasakan. Benar-benar senang meskipun hal yang ia lakukan adalah hal yang terlihat tak penting.
Sosok yang memperhatikan Nara bergerak menghampiri, membuat Nara hampir berteriak kaget sebelum mulutnya di bekap dari arah belakang.
"Jangan berteriak, bodoh!"
Botol yang Nara pegang telah di ambil paksa oleh Devian. Nara pikir ia sendirian di tempat ini.
Devian tidak menyia-nyiakan sikap diam Nara dalam dekapannya. Dengan kurang ajarnya ia mengelus lengan dan bagian belakang tubuh Nara. Rontaan Nara tidak berarti apa-apa untuk Devian.
"Jangan ..."
Kata-kata itu terdengar terdengar tertahan. Keringat dingin mulai keluar dari tubuh Nara yang ketakutan.
"Devian! Nara! Apa yang kalian lakukan?"
Baik Devian dan Nara sama-sama terkejut dan menjauhkan tubuh mereka masing-masing.
Di depan mereka berdiri Kim Sena yang sudah menghidupkan lampu dapur. Terlihat jelas bagaimana raut wajahnya.
Nara mencoba mengatur nafasnya yang terputus-putus.
"Apa yang kalian lakukan di tempat ini?"
"Kami tidak melakukan apapun ibu, aku tidak sengaja melihat orang masuk ke dapur ini dengan mengendap-ngendap jadi aku mengikutinya. Aku tidak tau kalau si bodoh ini yang masuk."
Kim Sena memincingkan matanya tak suka akan jawaban Devian, lalu beralih memindai tampilan Nara yang raut wajahnya terlihat pucat.
"Cepat kembali ke kamar mu!"
Nara mengangguk lalu segera pergi dari tempat itu dengan mata yang berkaca-kaca serta tubuh gemetar. Untunglah Kim Sena datang. Kalau tidak, ia tidak tau apa yang akan terjadi.
.
.
.
.
//Trust//