I INVITED YOU

1835 Kata
                Permainan yang kau mulai dengan mengandalkan banyak pemain handal hanya akan membuat perpecahan. Beberapa orang tidak akan berhenti sampai salah satu dari mereka terluka atau mati, lalu menurutmu siapa yang akan menanggung semua sakit pada akhirnya? Ya, kau sendiri.                 Jika ingin berbicara tentang cinta, aku tidak bisa memberimu saran lain selain memintamu untuk berhati-hati dalam mengambil langkah. Kalau pun kau benar-benar mencintainya, rintangan yang akan menghadangmu lebih kuat daripada yang kau duga sebelumnya.                 Jujur saja, aku membenci mereka berdua. Aku benci karena aku bahkan tidak bisa membantumu jika sudah berhubungan dengan mereka. Dinding itu cukup kuat karena mereka juga memiliki landasan cinta, karena itulah.. jangan bermain-main sebab semua orang bisa melakukan apapun dengan alasan cinta.                 Aku tumbuh dengan kebencian, aku tahu betul jika ketulusan dan rasa cinta yang dalam mampu menghancurkanku dalam sekali hantaman. Jadi, bermainlah dengan logikamu dan carilah cara untuk bisa lolos dengan kebahagiaan yang akan menantimu.                 Ini emosi yang tersisa dariku, dari masa kecil Oleander Kai yang penuh siksaan sehingga berhasil menumbuhkan Oliver Kei yang hanya menjadi bayangan: tertawalah lepas suatu hari nanti. -Monster in My Dream- ***                 “Menjauhlah dari Oleander Kai!”                 Mataku dan Daniel saling bertatapan, kami duduk seperti teman akrab tetapi dalam suasana penuh ketegangan. Sejak tadi dia terus tertawa meskipun aku tahu itu palsu dan mulai beraksi ketika hanya ada kami berdua di ruangan ini.                 “Kenapa aku harus melakukannya?” tanyaku santai, aku menaikkan alisku. “Siapa kau sampai aku harus menuruti keinginanmu?”                 “Kau masuk ke dalam hidup orang yang salah,” katanya. “Oleander Kai hanya milik Kakakku, Aprilia Jivanna. Berani-beraninya orang baru sepertimu merebut kebahagiaan Kakakku, kau tahu bahwa kau sekarang sedang melangkah di atas bara?”                 “Oh ya? Lalu kenapa aku tidak merasa kepanasan?” aku mendengus geli. “Lagipula aku memiliki hak untuk melakukan apapun dan orang sepertimu tidak bisa menahanku.”                 Daniel mengatupkan mulutnya, dia menatapku tajam dan aku hanya bersikap menyebalkan dengan terus menebarkan senyumku.                 “Oh, Kinan!” panggilku ketika melihat Kinan baru keluar dari dalam kamar mandi.                 “Ya, mbak?”                 Aku melirik Daniel sekilas sebelum menatap Kinan ramah. “Ayah dan Ibu masih akan kembali nanti malam, kau mau tetap disini?”                 “Kinan, ayo pulang!”                 Mencoba menahan tawaku, aku menunduk sebelum menatap Daniel. Dia pasti merasa sangat kesal dengan jawabanku, dia pasti merasa kesal karena tidak bisa mengintimidasiku. Bagaimanapun, aku mengasihaninya. Menurutku April baik-baik saja dan keluarga mereka juga tampak sempurna, lalu kenapa Daniel harus berjuang untuk kebahagiaan Kakaknya? Apa April juga melakukan hal yang sama?                 “Biar aku yang mengantarkan Kinan pulang,” ucapku sambil tersenyum. “Kau bisa pergi.”                 Daniel tersenyum, dia mendekatkan wajahnya padaku sampai aku bisa mendengar suara terkesiap dari Kinan. Tetapi aku adalah aku, aku bahkan tidak memundurkan wajah maupun langkahku dan memilih diam, mendengarkan apa yang akan Daniel bisikkan.                 “Mari bertemu lebih sering setelah ini,” bisiknya.                 Aku menahan tawaku karena merasa ini semua sangat lucu. Hah, sepertinya aku memang lebih mudah tersenyum dan tertawa akhir-akhir ini, tetapi tidak apa-apa karena aku menyukainya.                 “Kinan, sepertinya saudaramu suka rumah mbak,” kataku.                 “Huh?” Kinan tampak kebingungan. “Suka rumah mbak? Maksudnya?”                 “Bukan apa-apa,” Daniel menarik tangan Kinan. “Ayo pulang.”                 Kinan meraih tasnya, dia kembali menoleh padaku yang mengikuti mereka dari belakang. Aku mengamati sikap Daniel, jadi dia benar-benar menyayangi kakaknya seperti yang aku dengar waktu itu, ya? Lucu sekali.                 “Mbak, aku pulang, ya?!”                 “Ya, hati-hati di jalan.”                 Daniel memberi helm kepada Kinan sebelum memakai helmnya sendiri. Aku berdiri di samping mereka dan menaikkan alisku ketika Daniel melirikku dengan wajah datarnya. Wah.. dia memiliki aura yang mirip dengan Oliver Kei, sayangnya aku tidak menyukai auranya seperti aku menyukai aura Oliver Kei.                 “Mbak tidak apa sendiri?” tanya Kinan tepat sebelum dia naik ke atas sepeda motor.                 “Ya,” jawabku, aku melirik Daniel yang tampak memasang telinga. “Tetapi sepertinya tidak hari ini.”                 “Tidak? Apanya?”                 Aku tersenyum dan menggelengkan kepalaku. “Bukan apa-apa.”                 Daniel menyalakan sepeda motornya, aku melambaikan tanganku kepada Kinan. Aku menikmati permainan ini, aku ingin mengetahui kenapa Daniel begitu mencintai Kakaknya sehingga harus ikut campur dengan urusan percintaannya. Selain itu aku juga bertanya-tanya kenapa April tidak mengungkapkan perasaannya jika dia tahu bahwa Kai tidak sepeka itu dan dengan polosnya menganggap tingkah laku April normal bagi sahabat dekat.                 Aku meraba saku celanaku ketika merasakan ponselku bergetar. Dua detik kemudian senyumku melebar, aku membalikkan tubuhku untuk masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu. Hari ini aku tidak akan menikmati kopi atau membaca novel karena aku ingin merankai ceritaku sendiri.                 “Halo?” sapaku, suaraku terdengar jutek dengan nada datar, itu karena aku malu sekarang. “Ada apa?”                 “Kau ada dimana?”                 “Rumah, kau?”                 “Aku baru menyelesaikan satu operasi,” katanya, dia menguap. “Aku harus kembali masuk ruang operasi setengah jam lagi.”                 “Lalu istirahat, kenapa menelponku?”                 “Kau bilang aku boleh menelponmu tanpa pemberitahuan.”                 Sudut bibirku terangkat. “Tetapi kau mengirim pesan bahwa kau akan menelponku tadi.”                 “Karena aku takut mengganggu,” sahutnya. “Sedang apa?”                 “Tidak ada, hanya menikmati waktu.”                 Aku membaringkan tubuhku di atas kasur dan rasanya ternyta sangat nyaman. Aku adalah tipe orang yang selalu waspada, tetapi aku bahkan menerima laki-laki ini tanpa prasangka. Sepertinya aku terlalu mengikuti kemauan hatiku akhir-akhir ini.                 Ini memang pertama kalinya jantungku berdebar begitu kencang karena seseorang. Anehnya kami bahkan baru mengenal dan semuanya dimulai dengan begitu mudahnya sampai aku tercengang kepada diriku sendiri. Aku mengkhawatirkan seseorang dan bahkan tersenyum padaya seperti tidak memiliki beban. Sesuatu yang baru ini, aku menyukainya.                 “Krys,” panggilnya.                 “Hm?”                 “Kau tahu kemarin malam April datang ke rumahku, bukan?”                 “Ya, lalu?”                 “Dia memintaku untuk menjauhimu.”                 Untuk sejenak aku terdiam, aku mengedipkan mataku sebelum kembali bertanya. “Lalu?”                 “Aku mengatakan padanya jika kau sudah menjadi kekasihku dan dia marah,” Kai menghela napas. “Dia bahkan tidak menyapaku di rumah sakit hari ini. Menurutmu dia benar-benar menyukaiku lebih dari ‘sahabat’?”                 Jadi April secara terang-terangan meminta Kai untuk menjauhiku, ya? Lalu apa dia juga memberitahu Daniel tentang ini sehingga adiknya itu memintaku untuk menjauhi Kai?                 “Aku sudah mengatakan padamu sebelumnya, bagaimanapun aku juga wanita dan aku bisa langsung tahu dia menyukaimu hanya dengan melihat caranya tersenyum dan berbicara.”                 “Sebenarnya aku sudah menanyakan hal ini sebelumnya ketika kami kuliah dulu,” ungkapnya. “Saat itu banyak anak-anak mengatakan hal yang sama jadi aku bertanya kepada April tetapi dia menjawab tidak. Dia bilang dia tidak pernah memiliki perasaan semacam itu kepadaku dan mengataiku konyol.”                 Ah, jadi Kai sudah pernah menanyakan perasaan April sebelumnya tetapi gadis itu menyangkalnya. “Mungkin dia malu,” kataku. “Lalu bagaimana denganmu? Kau memiliki perasaan untuknya?”                 “Aku menyayanginya sebagai adik. Aku tumbuh sebagai anak tunggal dan sejak kecil April dan Daniel suka membuntutiku kemanapun aku pergi, sejak itu aku menganggap mereka sebagai adikku.”                 Perasaannya setulus dan sepolos itu, ya?                 “Lalu siapa cinta pertamamu?” tanyaku, mengalihkan pembicaraan. “Aku?”                 “Tidak juga- maksudku jangan kecewa dulu,” dia terdengar panik bahkan sebelum aku sempat mengatakan sesuatu. “Sebelum ini aku pernah menyukai seseorang tetapi aku tidak pernah bertemu dia lagi. Aku rasa itu sekitar.. lima belas tahun lalu? Aku tidak begitu ingat.”                 “Siapa namanya?” tanyaku.                 Kai tertawa. “Aku tidak tahu.”                 “Cih,” aku melihat jam di nakas. “Lima belas menit lagi, lebih baik kau istirahat sebentar sebelum kembali masuk ke ruang operasi.”                 “Kau akan menemaniku besok malam bukan?”                 “Tentu saja,” aku tersenyum meskipun aku tahu dia tidak akan bisa melihatnya. “Berusahalah untuk berbaikan dengan April.”                 “Krys?” panggilnya lagi.                 “Apa?”                 “Selamat istirahat.”                 Aku terkekeh kecil. “Ya, selamat bekerja untukmu.”                 Bahkan aku masih mendengar kekehan Kai sebelum sambungan telpon benar-benar terputus. Sebenarnya aku sangat menyukai cara Kai berbicara, suaranya memiliki pesona tersendiri dan ketika dia tertawa rasanya hatiku terisi dengan penuh. Aku menyukai bagaimana dia memberiku perasaan seperti itu sekaligus takut jika aku kehilangan kesempatan untuk mendengar suara tawanya dalam jangka waktu yang lama.                 Meletakkan ponselku di atas nakas, aku menatap langit-langit kamar dan mencoba untuk kembali merangkai semua hal yang aku lewati.                 Aprilia Jivanna sudah mengetahui mengenai hubunganku dengan Kai, Daniel memintaku untuk menjauhi Kai secepatnya dan sosok lain yang juga memiliki ketertarikan padaku dalam hal yang lain. Mereka berempat bisa membuat hidupku berubah dengan sangat cepat, mereka juga berhasil menarikku keluar dari kebiasaanku dan memberiku pengalaman lain yang mungkin saja lebih habat.                 Sebenarnya ada yang membuatku lebih penasaran: kasih sayang Daniel pada April. Daniel tidak mungkin menyukai April lebih dari seharusnya karena dia sangat mendukung Kai menjadi kekasih Kakaknya. Lalu kenapa cintanya kepada April begitu besar sampai dia bisa mengancam orang yang baru ditemuinya? Aku yakin ada sesuatu yang membuat Daniel melakukan itu.                 “Aprilia Jivanna,” gumamku. “Aku ingin mengetahui tentang dirimu, maka dari itu masuklah ke dalam permainanku.” ***                 “Kenapa kau tidak bisa menembus dinding itu?”                 Kei berjalan mengelilingiku. Pada akhirnya aku harus kembali berkomunikasi dengannya lewat mimpi seperti sebelum-sebelumnya.                 “Kau tahu kenapa aku bisa menyentuh dan bahkan membunuh kedua orangtua Kai?” tanyanya. “Karena mereka menyiksa Kai dengan rasa benci. Jika saja, jika saja ada cinta yang tersisa di hati mereka untuk Oleander Kai, mereka mungkin tidak akan terbunuh dengan cara seperti itu.”                 “Apa kau sedang mengatakan kepadaku jika Daniel melakukan segalanya untuk April karena cinta?”                 “Daniel adalah pembuat onar dalam keluarganya, Krys. Semua orang di dalam keluarga tidak menyukainya kecuali April,” Kei terkekeh. “Setiap orang membutuhkan cinta dan karena itu mereka terikat karenanya. Kau tahu? Daniel menjalani hidupnya dengan pilihan Kakaknya, dia tidak memiliki pendirian dan karena itu aku membencinya. Dia hanya laki-laki lemah yang berpura-pura kuat.”                 Kei menunjukkan sebuah video kepadaku dimana Daniel kecil sedang dipeluk oleh April dengan penuh kasih sayang. Sepertinya Daniel terjatuh karena ada luka di lututnya, aku juga bisa mendengar suara seorang laki-laki yang memarahi Daniel karena dia terlalu nakal. Kei benar, dari semua video yang dia tunjukkan padaku, Daniel benar-benar tumbuh dengan cinta April dan membuatnya bergantung kepada Kakak perempuannya itu.                 “Menyedihkan, bukan?” Kei tertawa. “Daripada Daniel, kau harus lebih berhati-hati pada Kakaknya. Karena kau tahu? Apapun yang diinginkan oleh April, Daniel yang akan berjuang mendapatkan semua itu untuk Kakaknya.”                 Aku mendengus. “Gila.”                 “Ingin melihat yang lebih gila?” tawar Kei. Sebenarnya dia tidak perlu bertanya karena pada akhirnya dia yang mengungkapkannya sendiri. “Daniel hampir membunuh dua orang teman Kakaknya hanya karena mereka mengomentari gaya rambut April.”                 Dengan mata memicing, aku melihat bagaimana Daniel mengeluarkan pisau dan mengarahkannya tepat di leher salah satu perempuan yang memakai baju berwarna putih, namun April datang dan menghentikan perbuatan adiknya itu.                 “Apa April menyuruh dia melakukan itu? Tidak mungkin, kan?”                 “Tidak secara langsung,” jawab Kei. “Tetapi April akan menangis kepada Daniel sampai emosi adiknya itu tersulut. Karena itu aku katakan padamu, Krys, jangan mengundang para pemain handal pada permainanmu.”                 “Aku yakin Daniel tidak akan membunuhku,” aku menoleh pada Kei. “Bagaimana menurutmu?”                 “Kau memang memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Kemana perginya sikap waspadamu?”                 Aku tersenyum dan menatap dalam ke arah layar yang menunjukkan wajah marah Daniel.                 “Aku tidak akan kalah dari mereka, Kei,” jawabku. “Bukankah kali ini aku harus ‘melepaskan’ dua orang dari belenggu mereka?”                 “Kau akan melakukannya?” tanya Kei meremehkan. “Bagaimana jika kau yang tersingkir pada akhirnya?”                 “Lalu aku akan menariknya lagi dan mendapatkan semuanya. Bukankah aku memilikimu?”                 Kei berhenti tertawa, dia menatapku tajam sehingga aku kembali meerasakan dingin yang mencekikku di dalam ruangan hampa yang kami tempati. Aku tidak bereaksi dan hanya menatapnya, aku tahu dia setuju untuk membantuku meskipun dia membuatku merasakan hal seperti ini.                 “Oliver Kei, masuklah ke dalam permainanku. Kau tidak ingin hancur sendirian, bukan?” ***                   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN