"Memang beruntung kamu, Ar," decak Anis yang sore ini datang ke apartemen Dipa yang saat ini Arni tinggali. Anis berjalan mengitari ruangan demi ruangan yang ada di apartemen itu. Kagum dengan desain apartemen yang Arni tinggali. "Apartemen orang, Nis. Bukan punya aku," sahut Arni. Ia membawakan beberapa minuman dingin dan menyediakan kue kering. "Ya nanti jadi punya kamu juga kan?" Anis menghampiri dan duduk di sofa bersama Arni. "Ya gak gitu juga kali, Nis." "Tapi kamu sudah serius kan sama Dipa?" "Iya, Nis." "Baguslah. Jadi gak perlu ada kejadian kayak kemarin. Kabur-kabur gak jelas," kata Anis. Ia lalu mengeluarkan undangan pernikahan dan memberikannya pada Arni. "Akhirnya, Nis," ucap Arni membuka dan membaca undangan pernikahan temannya itu. "Iya, Ar. Harus datang ya, ajakin D

