Arnis baru saja selesai makan siang di kantin kantor bersama dengan Bu Ita. Sebelum masuk lagi untuk pelayanan, Arni bercermin memastikan penampilannya masih tetap on. Tangan kanannya cekatan memoles lipstik merah di bibirnya yang telah memudar.
'Lo, itu kayaknya nasabah yang kemarin deh. Bu Ranti kata Arni dalam hatinya. Ia berjalan perlahan ke arah mejanya sambil menebar senyum. Begitu ia sampai di mejanya, Ranti langsung duduk di kursi yang berada tepat di depan Arni. Untung saja sedang tidak ada antrian, jadi ia bisa langsung melayani Ranti.
"Selamat siang Bu Ranti, ada yang bisa saya bantu?" tanya Arni ramah.
"Terima kasih buat bantuannya tempo lalu ya," ucap Ranti yang dibalas dengan senyuman juga anggukkan kepala Arni secara bersamaan.
"Bu Ranti, ada yang bisa saya bantu?" tanya Arni lagi.
Untuk beberapa detik Ranti terdiam.
Ranti memasang nama yang tertera di name desk. "Arjani Prissy mau bantu saya?"
"Kalau saya bisa bantu, pasti saya bantu Bu?" Maniknya bersinar memandang Ranti.
"Mau jadi cucu menantu saya gak?" Perkataan Ranti membuat Arni tertegun. Tak bisa berkata apa-apa.
"Ehm … ehm…"
"Aduh, maaf ya. Uti ngomongnya suka bener," ucap Ranti sambil tertawa kecil.
'Maksudnya apa nih' batin Arni.
"Ini, Uti mau penempatan deposito aja deh," ucapnya lagi sambil mengeluarkan buku tabungan dan meletakkannya di meja.
Arni menarik nafas lega. Ia kemudian menjelaskan mengenai bunga deposito dan menanyakan berapa lama akan menempatkan depositonya.
"Panggil Arni aja Bu," ucap Arni.
"Oh iya, kalau gitu panggil saya Uti aja ya. Biar lebih akrab."
Setelah selesai menyerahkan berkas depositonya, Arni mengantarkan Ranti sampai kedepan pintu kantornya. Meski sedikit menjadi pikiran terhadap ucapan Ranti tadi, Arni berusaha melupakannya.
***
Di lain tempat, masih di kota yang sama, Jakarta. Seorang laki-laki dengan tinggi seratus tujuh puluh lima sentimeter menggunakan celana chino coklat, atasan jas hitam dengan dalaman kaos oblong, serta sepatu sneakers putih, tampak sibuk berkutat di balik layar laptopnya. Ruangan besar bercat warna putih itu terlihat megahnya dengan desain dan berbagai furniture yang melengkapinya.
"Iya. Pokoknya kalian coba dulu urus izinnya. Biasanya kan juga bisa? Gak usah dibikin ribet lah. Saya mau terima laporannya dalam dua hari." Lelaki bermata coklat itu menutup teleponnya dengan kasar.
Dipa Guinandra Tama. Lelaki itu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, merilekskan badannya yang menegang akibat telepon yang baru diterimanya tadi. Ia mengambil handphonenya dan beranjak dari kursi. Berjalan menuju lift yang terletak di dekat pintu masuk ruangannya. Lift itu mengantarkannya turun tepat di parkiran mobilnya.
"Kemana kita bosku?" tanya Lian yang bertugas mengantar jemput Dipa kemanapun.
"Kita nyari makan aja. Lapar. Pusing kerjaan gak ada yang beres." Gerutunya sambil membuka pintu depan mobil dan menjatuhkan dirinya di kursi yang sudah diatur dalam posisi setengah berbaring.
Lian mengemudikan mobil keluar dari basement, membaur di macetnya ibu kota Jakarta. Sesuai permintaan Dipa, Lian melajukan mobilnya ke salah satu restoran Jepang yang berada di salah satu kawasan elit.
Jam masih menunjukkan pukul empat sore saat mereka tiba di sana. Nanggung sih kalau untuk makan malam, tapi karena Dipa sudah merasa lapar karena sarapan tadi sudah agak siangan, akhirnya ia memutuskan untuk memesan beberapa menu makan yang mengenyangkan. Lian menerima kartu debit yang diserahkan Dipa.
"Aduh maaf," ucap seorang wanita dengan pakaian minimalis entah sengaja atau tidak menyenggol tangan Dipa.
"Oh, gak apa-apa." Dipa tersenyum dan langsung menjabat tangan wanita itu duluan.
Dari jauh Lian sudah menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah bosnya itu. Buru-buru ia menghampiri Dipa dan mengajaknya pergi.
"Baru juga sebentar Ian, kamu udah datang aja. Cantik kan?"
"Cantik lah bos, seksi gitu. Tapi ingat kan pesan Uti, apa bos? Cewek dengan penampilan kayak gitu mana mungkin diterima sama keluarga bos," ucap Lian sambil menekan tombol power pada remote mobil. Meninggalkan restoran itu kembali menuju kantornya.
***
Dipa menyuruh Lian untuk langsung pulang begitu mereka tiba kantor.
"Jangan aneh-aneh ya bos, ntar Uti marah lagi," pesan Lian sebelum pulang.
"Iya. Iya." Dipa mengambil kartu debitnya dari tangan Lian kemudian masuk ke dalam lift yang akan mengantarkannya ke ruangannya.
Setibanya di ruangan, ia melihat berkas yang masih menumpuk. Alisnya saling bertaut. Bingung. Perasaan sebelum pergi tadi, mejanya bersih dari tumpukan berkas. Ia menghempaskan diri ke kursi seraya menekan tombol pada telepon yang langsung terhubung ke meja sekretarisnya.
"Ini berkas-berkas apa Bu Tia?" tanyanya pada wanita berusia empat puluh tahun yang masih tampak segar itu, saat membuka pintu.
"Berkas yang harus Pak Dipa cek dan tanda tangani." Bu Tia berdiri di samping Dipa sambil membuka beberapa berkas dan menjelaskan isi berkas itu.
"Kenapa jadi numpuk gini sih? Semua berkas ini dari divisi mana? Panggil kepala divisinya!" Dipa melengos kesal. Ia paling kesal kalau ada kerjaan yang menumpuk seperti ini. Tertumpuk di mejanya lagi.
Tok tok tok
Pintu ruangan dibuka oleh seorang laki-laki. Ia berjalan dan tertunduk begitu sampai di depan meja Dipa. Ingin marah dengan kepala divisi itu tapi rasanya sungkan. Usianya yang jauh di atas Dipa membuatnya segan. Ia masih memegang adat ketimuran, yang tetap harus hormat dengan orang yang lebih tua.
Dipa membenarkan posisi duduknya. "Pak Andi kan sudah tahu, kalau saya tidak suka dengan pekerjaan yang menumpuk seperti ini." Dipa memukul pelan tumpukan berkas dengan tangan kanannya. "Lain kali tolong jangan diulangi! Kalau saya sedang tidak ada di tempat, Pak Andi bisa titipkan dengan Bu Tia berkas yang harus saya cek dan tanda tangani. Tolong di ingat ya Pak Andi!" ucapnya tegas.
"Baik Pak. Mohon maaf sebelumnya." Masih dalam posisi tertunduk, ia tak berani menatap Dipa.
"Ya sudah. Pak Andi silahkan keluar."
Dipa kemudian beralih menatap Bu Tia. Tatapannya mengisyaratkan minta ditemani untuk menyelesaikan pengecekan berkas itu.
Dan akhirnya, setelah dua jam lebih berkutat dengan tumpukan berkas itu, tugas Dipa yang dibantu oleh Bu Tia akhirnya selesai juga.
"Makasih banyak ya Bu Tia. Saya minta tolong berkasnya dibereskan. Setelah ini Bu Tia bisa pulang." Dipa mengambil handphone dan meninggalkan Bu Tia di ruangannya.
Dipa melirik jam berwarna coklat di tangan kirinya. 'Sudah jam setengah delapan' gumamnya. Padahal rencananya tadi hendak hangout dengan teman kuliahnya di salah satu klub. Tapi diurungkannya, karena moodnya jelek akibat pekerjaan kantor tadi. Ia melajukan mobilnya menuju rumah.
Pagar coklat tinggi dengan desain bunga itu dibuka oleh satpam saat lampu mobil Dipa berkedip dimainkannya. Satpam tadi nyengir menatap Dipa.
Ia masuk ke dalam rumah dan langsung melenggang menuju tangga ingin langsung menuju kamarnya. Dari arah tengah ruangan, sebuah suara yang sangat dikenalnya terdengar memanggil namanya lengkap.
"Dipa Guinandra Tama."
Orang yang memiliki nama itu menghentikan langkah kakinya yang telah menginjak anak tangga pertama seraya membalikkan badannya, menghadap ke sumber suara. Ia melihat beberapa orang tengah berkumpul di ruang tamu. Uti, kedua orang tuanya, dan ada beberapa orang yang tak dikenalnya.
Uti menggeleng-gelengkan kepala. "Bukannya say hello sama orang rumah, kamu malah sibuk sama handphone."
Dipa duduk di samping Uti.
'Jangan bilang mau dijodohkan lagi' gumamnya sambil melirik wanita yang duduk tepat di samping orang tuanya.
"Kamu kenalan dulu sama Yuni," ucap Abimana Kalandra Tama yang merupakan anak kedua dari Ranti Wijiarti yang merupakan Paman Dipa. Dipa kembali melirik Yuni.
"Dia--"
"Sepupu jauh kamu yang bakal mengisi posisi kosong di bagian keuangan," terang Ranti.
"Oh," sahut Dipa tak bersemangat. "Dipa masuk duluan ya. Mau bersih-bersih sekalian istirahat." Secara bergantian Dipa menatap anggota keluarganya yang masih berada di ruang tamu kemudian meninggalkan ruangan luas itu menuju kamarnya yang ada di lantai dua.
"Untung aja. Aku kira Uti bakal jodohin aku lagi," ucapnya sambil melepas semua pakaiannya dan masuk ke kamar mandi yang ada di kamarnya.