Emma melangkahkan kakinya masuk ke dalam sebuah bangunan bergaya timur tengah yang didominasi warna coklat muda. Di setiap sudut ruangan di taruh pot-pot tanah liat yang diisi dengan tanaman imitasi. Beberapa kali Emma hampir tersandung karpet yang melapisi seluruh lantai ruangan. Dia terlalu gugup karena belum sepenuhnya siap untuk dipertemukan dengan orang tua Nicholas. Jika saja hubungan mereka berdua masih seperti dulu, mungkin ia tidak akan se depresi ini menghadapi detik-detik sebelum bertemu dengan kedua orang tua Nicholas. “Nicholas!” Emma mendengar nama Nicholas di panggil dengan seruan yang riang. Tersirat rasa kerinduan yang teramat dalam dari suara itu terhadap Nicholas. Emma mempercepat langkahnya menyusul Nich

