Emma tidak melakukan apa pun saat melihat Rose dan Nicholas kebingungan mencari keberadaan dirinya yang tidak ada di ruang manapun di rumah sakit. Wanita itu hanya mengamati dari balik pintu menuju tangga darurat, menikmati proses turunnya air mata yang menggenang di pelupuk matanya mengaliri pipinya. Masih belum terlambat jika ia ingin kembali dan mengubah keputusannya. Tapi, Emma mengeraskan hati nya. Katakanlah dia lemah, pengecut sehingga lari begitu saja dari masalah yang mungkin memang benar, hanya sebuah kesalah pahaman. Hanya saja, Emma tidak yakin dirinya akan cukup kuat menerima, jika nyatanya ucapan Hayley memang adalah sebuah kebenaran. Paling tidak ia memilih untuk merasakan sakit yang belum seberapa ini, daripada harus menanggung rasa s

