Seminggu berlalu Raline dan Ia belum menjawab tawaran Arbiaz, tetapi seminggu ini juga Biaz mengantar Raline pulang, hanya mengantar dikarenakan sebentar lagi libur panjang dan banyak pekerjaan yang ingin dikejar membuat Raline haarus lembur. Tidak ada hubungannya namun ya sudah lah memang akal-akal an Biaz saja.
"Ara loe kan sepupu Pak biaz, pak Biaz itu orang nya gimana?"
"Napa lu nanya - nanya? Biasnya benci bangedds"
"Nanya doang elahhh"
"Hehehe candaa , biaz tu orang nya dingin , tapi kalo orang nya udah deket dia ga kokk"
"Ohh gitu"
"Kenapa lu di ajak pacaran ya sama dia?"
"Nggakk, gw gamau sama dia, dingin gitu kaku , banyak perintah , tepat waktu."
"Alaahh wkwkw masih gw liatin line"
"Ckkk kalo ceo kan cwek nya banyak males gw"
"Whahaha Biaz mah engga kok dia ga se haus itu"
"Gw duluan ya Linee, ati ati ya "
"Ati - ati raaa"
Raline mengecek halaman terakhir di map terakhir pekerjaannya, akhirnya .
"Raline, gimana sudah selesai?"
Raline terkejut dengan hadirnya Arbiaz secara tiba - tiba dan langsung mengambil kursi Ara dan duduk di samping Raline.
"Eehmm tinggal ini pa terakhir"
"Oke karena Olivie sudah pulang dan Abrio juga sudah tidak ada, ruangan saya terasa sepi, jadi saya boleh disini?"
"Silahkan pa"
"Lanjutkan "
Arbiaz membuka hape nya mengecek beberapa email masuk , sambil memandangi Raline , dengan rambut berantakan, sekeras ini kah Raline? Pikir Biaz dalam hati . maaf ya bila saya membuatmu agak tersiksa.
"Ini pa sudah selsai"
"Oke saya urutkan disini saja ya"
"Ini sudah,hmm oke,oke ,oke,"
"Hmm "
"Oke selsai semua,terimakasih Raline"
"Iya sama - sama pa"
"Hmm ini saya taruh di meja kamu dulu yah, besok pagi saya minta olivie membawa ke ruangan saya"
"Iya pa tidak apa - apa"
Arbiaz berdiri dari kursi nya dan mengembalikan kursi Ara ke tempatnya, Raline membereskan laptop dan iphone nya ke dalam tas ,dan merapihkan kursinya.
"Raline ikut saya yah..."
*****