Bibi Teya keluar dengan mengenakan celana jins dan kaos oblong. Rambutnya yang basah digerai hingga menyentuh pundaknya. Dia lalu duduk di salah satu kursi yang tersisa. "Jadi bagaimana?" "Oh," kataku. "Kami ada sesuatu untuk ...." "Itu nanti dulu. Gimana rotinya?" Bibi Teya menarik ujung bibir dengan mata berbinar penuh harap. Kukira dia bertanya tentang tujuan kami datang ke sini. "Enak sekali. Pengin nangis," jawab Teta. "Bibi, aku nggak ngerti ini dibuat dari apa sih? Kok bisa seenak ini?" Bibi Teya tersenyum puas dan bangga. Dia lalu menceritakan bahan dasar pembuatan roti itu. "Semua mentega, s**u, Bibi dapat dari desa ini. Terigu yang digunakan juga dari penduduk sekitar sini. Hampir semua bahannya original dari daerah ini, Teta. Cuma kalau ragi dapat dari kota, di sini belum ad

