Lili berguling ke kanan dan ke kiri di atas tempat tidurnya setiap beberapa menit. Ia tak mampu memejamkan matanya. Pikirannya berkeliaran kemana-mana, banyak hal yang mungkin seharusnya tidak ia pikirkan. Ia telah menghabiskan waktunya dengan hal-hal bodoh. Lili tidur telentang, menatap langit-langit kamarnya. Bayangan wajah Julie saat memaki dengan amarah yang meletup-letup kembali menghiasi isi kepala Lili. “Kau benar-benar bodoh, Lili. Jika dia penipu untuk apa dia menyamar di kandang mafia. Kau tahu mereka berbahaya. Tapi kau lihat dan kau saksikan sendiri apa yang telah William lakukan untukmu?!” “Tidak kah kau memiliki perasaan? Untuk apa ia menyewa apartemen di sebelah jika itu bukan karenamu?” Lili langsung menarik banta

