10 (Part 2)

1206 Kata
"Ikuti aku." Ucap Alexandra lalu mengulurkan komitmen lagi untuk aku memegang. "Kemana?" Tanyaku. Dia tersenyum lagi. "Ke tempat yang akan membuatmu tau segalanya ...." Jawabnya dan aku mengikutinya di samping sambil memegangi diminta. Aku tau di ruangan ini gelap, lembab bahkan aku ada air yang menetes dan baunya sangat menyengat. Aku tidak tau apa. Aku menutup hidungku karena aku memang mau melempar tapi tidak bisa. Aku hanya mengambil Alexandra ke tempat yang katanya akan membuatku segalanya. Maksudnya? Apa maksud dari ucapan itu? "Awas .. ada tangga. Naik pelan-pelan." Ucapnya dan aku menurutinya. Aku heran kenapa dia bisa melihat tangga tapi aku tidak melihatnya. Apakah semua yang tahu sudah tiada bisa tahu itu? Mengetahui jika ada tangga di kegelapan? Aku pun tidak tau karena aku memang masih hidup. Setelah naik tangga, akhirnya aku melihat cahaya dari pintu. Cahaya yang menyilaukan mata. "Kita dimana?" Tanyaku. "Kau akan mengetahuinya nanti, adik kecilku." Jawabnya. Aku mengernyitkan dahi setelah mendengarkan ucapan Alexandra, adik kecil? Hei! Apakah dia tidak bisa melihat kalau aku sudah 17 tahun? Aku pun sudah punya jakun dan suaraku pun sudah berat. Saya sudah dewasa Alexa! Aku menembus cahaya yang mengubah suatu tempat ke tempat lain. Aku menutup mataku karena cahaya yang menyilaukan mataku itu. Mataku terbuka dan menyipitkan mataku karena suasana di sini cerah. Setelah aku bisa melihat seisi di ruangan ini, aku sadar kalau aku sekarang berada di ruang kepala sekolah. Ruangan yang tidak pernah berubah. "Aku tidak tau kalau ruang kepala sekolah ada ruang bawah tanahnya." Ucapku. Alexandra yang berdiri di sampingku tersenyum. "Itulah yang namanya misteri. Seperti puzzle, bukan?" Ucap Alexandra yang aku jawab dengan anggukan. "Hey! Aku baru sadar kalau kau sudah besar sekarang. Sudah tinggi di banding aku. Tapi aku bisa lebih tinggi lagi karena aku bisa melayang." Lanjutnya yang aku balas dengan tertawa kecil. Sungguh! Aku rindu dengan leluconnya. Aku rindu suaranya. Seseorang masuk menembus diriku. Tentu saja aku kaget karena orang itu menembusku. Aku seperti arwah. Aku dan Alexandra melihatnya, dan tak beberapa lama ada yang datang, aku tidak tau siapa. Dan orang yang duduk di kursi kepala sekolah itu. Mungkin dia kepala sekolah, tapi orang yang baru datang itu siapa? "Selamat pagi." Ucap orang itu. "Ada apa kau datang lagi kesini?" Tanya kepala sekolah itu yang kalau tidak salah namanya adalah Taufiq. "Wow!! Tenanglah Taufiq.. saya tidak akan memaksamu untuk menandatangi surat itu lagi. Saya juga akan membuat perhitungan denganmu yang akan membuatmu menyesal seumur hidup." Jawab orang itu dengan nada meremehkan. Aku dan Alexandra terus melihatnya. Genggaman tangan Alexandra makin erat. Mungkin dia marah. "Kau tau... orang itu adalah orang jahat." Ucap Alexandra sambil menekankan kata 'orang jahat'. Aku hanya mengangguk setuju kepadanya. Orang itu tertawa terbahak-bahak. "Kau akan menyesal seumur hidupmu! Aku akan melakukan apa saja untuk sekolah ini! Kau tidak pantas menjadi pemimpin di sekolah ini!" Ucap orang itu lagi. Oh Tuhan... aku ingin meninju mukanya. "Kau tidak akan bisa! Ini sudah menjadi tugasku untuk memimpin sekolah. Kau tidak akan bisa mengambil hakku untuk memimpin sekolah ini! Tidak akan pernah bisa!" Ucap Taufiq dan menggebrak meja yang membuatku dan Alexandra kaget. Orang itu tertawa terbahak-bahak lalu keluar ruangan sambil melambaikan tangan kesuatu tempat. Aku mengangkat satu alisku. Orang itu memang benar-benar aneh dan gila. Tak beberapa lama terdengar suara ledakkan yang memengakkan telinga dari arah kantin. Aku tau letak kantin dari ruang kepala sekolah dimana. "Suara apa itu?" Tanya Taufiq yang kaget bukan main lalu keluar. Aku dan Alexandra mengikutinya dan melihat kalau sekolah terbakar. Aku langsung ingat kalau ini adalah bencana kebakaran terbesar di Indonesia pada tahun 23 September 1985. Aku berada disini. Melihat semuanya. Banyak murid, staff dan guru keluar dari ruangannya dan berlari keluar kelas bahkan sudah banyak murid, staff dan guru-guru yang berteriak karena seluruh tubuh mereka terbakar. Semua mencari pertolongan. Aku melihat orang tadi yang berlari keluar dengan tertawa terbahak-bahak. Aku kasihan melihat mereka semua. Teriakan panik, kesakitan, takut dan lain-lainnya bercampur menjadi satu dan membuat suasana seperti ini menjadi sangat mencekam. Aku melirik Alexandra yang terlihat sedih juga. "Kau tau... aku pernah melihat orang yang seperti mereka. Terbakar. Aku melihatnya ketika aku di daerah Kalimantan tepat di tempat itu. Aku dari dulu sampai sekarang belum tau maksud dari itu." Ucap Alexandra yang membuatku penasaran. "Apa yang kau lakukan setelah itu?" Tanyaku. Alexandra tersenyum. "Aku hanya melakukan semua rencana yang telah ku buat bersama teman-temanku. Aku tau kau punya seseorang yang akan membantumu penelusuranmu. Dia Damian. Dia mengenalku baik, kalau kau tidak percaya tanyakan saja dia." Jawab Alexandra yang membuatku tertawa kecil. "Tapi bagaimana kalau semua rencana yang aku bikin tidak sesuai jalan. Maksudku, ada rencana yang tertinggal?" "Hmmm.. buatlah rencana itu sebaik-baiknya agar kau tidak menjadi sepertiku. Mati mengerikan." Alexandra melihat kesuatu tempat dan melihat.... "Kau kenal orang yang disana? Tanya Alexandra sambil menunjuk. Aku menyipitkan mata. Aku tersentak kaget ketika melihat apa yang ditunjukkan Alexandra. "A-aku tau siapa dia. Dia nenek Aminah." Jawabku sambil membuat diriku kembali normal. "Dia yang mengganggumu?" Tanya Alexandra. "I-iya." Jawabku singkat. "Kau tau apa yang akan dia lakukan padamu?" Aku melihat Alexandra. "A-aku tidak tau." "Dia akan mengganggumu sampai akhir hayatmu. Tapi kalau kau bisa membunuh dia maka dia akan akan musnah." Aku mengernyitkan dahi lalu mengangkat satu alisku. "Bagaimana caranya?" Alexandra tersenyum. "Tanyalah Damian. Dia yang lebih berpengalaman dibandingkan aku. Idenya yang gila tapi bagus dan selalu berhasil akan membuatmu bisa membunuh nenek itu." Jelas Alexandra sambil mundur beberapa langkah seperti akan meninggalkanku. Aku menatapnya dan aku melihat cahaya beserta teman-temannya yang berdiri dekat cahaya itu. Cahaya yang menyilaukan mata. Dia sungguh akan pergi meninggalkanku sendiri. "K-kak. Kakak mau kemana?" Tanyaku dengan mata yang sudah berkaca-kaca tapi air. Alexandra menghentikan langkahnya lalu tersenyum dan memelukku. "Aku akan pergi. Pergi ke tempat yang tenang. Aku tau kau belum percaya kalau aku meninggalkanmu tapi aku janji akan menjagamu walaupun dari jauh." Jawab Alexandra. Bau itu. Bau yang sangat aku rindukan. Bau yang membuatku senang. Aku mempererat pelukan itu. "Jangan tinggalkan aku sendiri lagi kak." Ucapku. Alexandra melepaskan pelukan itu lalu menatapku. "Hey.. kau akan baik-baik saja. Banyak orang yang menyayangimu termasuk cewek yang selama ini bersamamu. Cepatlah cari tubuhmu. Oh.. satu lagi, kirimkan salam ku kepada mamamu dan sampaikan kepada mamaku kalau aku merindukannya dan menyayanginya." Ucap Alexandra sambil tersenyum manis lalu pergi bersama teman-temannya itu memasuki cahaya itu dengan senyuman yang mengembang dari mereka semua. Setelah mereka pergi, suasana disini nenjadi panas. Perasaanku tidak enak. Aku menutup mataku lalu membukanya lagi dan betapa terkejutnya aku ketika melihat kalau aku dikepung dengan semua korban yang meninggal karena kebakaran dan pembantaian itu termasuk Aminah. Dia mandangku lalu berjalan mendekatiku. Aku melihat matanya yang tajam. Mereka mengikutiku, aku memutuskan untuk lari kembali ke ruang kepala sekolah. Setelah sampai di ruang kepala sekolah, aku mengunci pintu tapi tidak melihat pintu ruang bawah tanah itu. Aku mengacak rambutku. Sungguh.. aku sangat takut. Pintu itu terus didobrak. "Seseorang tolong aku." Ucapku dalam hati. BUUKK!! Pintu terdobrak dan aku bisa melihat jelas mereka yang sudah meninggalkan karena dua bencana itu. Aku melihat yang sangat familiar di mataku. Taylor dan pak Santos. "MATILAH KAU!!" Aku tersentak dan langsung terduduk di tempat tidurku. Mimpi itu? Mimpi yang selama ini aku takutkan. Aku mengacak rambutku. Badanku basah oleh keringat itu akibat mimpi itu. Mimpi buruk yang membuatku terjaga setiap malam untuk menutup mata. *************
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN