16

1035 Kata
Adam's POV Aku, Damian dan Andre berjalan di koridor sekolah menuju rumput panjang yang tidak terawat itu di dekat kolam ikan. Ketika sampai, Andre keluarkan parang untuk memotong rumput yang sangat panjang itu. Butuh waktu 25 menit untuk mengerjakan itu karena parabg hanya satu sedang pisau sudah pasti tidak bisa untuk memotong rumput. Setelah 25 menit memotong rumput itu, aku, Damian dan Andre berjalan beriringan ke tempat dimana aku mendapatkan tangan itu. "Disini." Ucapku sambil menunjuk tanah yang benar-benar basah. Andre berjongkok dan menyentuh tanah itu lalu menciumnya. Yang aneh adalah kenapa ketika Andre mencium tanah itu mukanya langsung berbubah seakan-akan tanah itu sangat bau. Aku tidaj mencium tangan tadi karena aku itu busuk. "Ada apa?" Tanya Damian yang juga berjongkok sedangkan aku berdiri memegang senter ke arah mereka. "Ini.... seperti bau amis dan ada bau darah. Tapi semuanya tercampur." Jawab Andre. "Terus... apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanyaku sambil terus mengernyitkan dahi. Damian menggeleng kepala sedang Andre menunduk. Aku rasa mereka sedang memikirkan sesuatu. Aku tidak tau apa karena aku tidak mempunyai kekuatan atau keahlian apa pun dalam membaca pikiran orang. 10 menit hening. Aku akhirnya berjongkok lalu memberikan senter kepada Andre agar dia pegang. "Apa yang kau lakukan?" Tanya Damian. "Lihat saja." Jawabku singkat lalu menggali tanah basah yang katanya Andre berbau amis dan darah itu. Damian akhirnya mengikuti apa yang aku lakukan. Tidak peduli baunya seperti apa yang penting puzzle pertama tela ditemukan. Kami menggali dan mendapatkan sesuatu lagi. Aku dan Damian mencoba menggalinya agar tau apa yang ada di dalam tanah ini sebenarnya. 5 menit menggali tanah itu dengan tangan akhirnya kita mendapatkan sesuatu yang mengejutkan. Kami bertiga kaget melihatnya. Manusia. Aku mengernyitkan dahi. Aku kenal dengan orang ini tapi wajahnya sudah penuh dengan tanah jadi aku tidak terlalu jelas melihat wajahnya. "Ini kasus pembunuhan." Ucap Andre yang membuatku dan Damian menatapnya sambil mengernyitkan dahi. "Maksudmu ini kasus pembunuhan? Ini mustahil! Karena kalau bel pulang selesai maka semua murid, staff, penjual yang ada di kantin bahkan kepala sekolah langsung pulang. Mustahil kalau ada orang yang bisa masuk tanpa sepengetahuan dari kepala sekolah atau staff lainnya yang bersangkutan untuk menjaga sekolah ini agar tetap aman." Ucapku panjang lebar. Sungguh ini membuatk bingung. "Okay... ini bukan saatnya berdebat. Aku mau kita amankan dulu mayatnya dan kasih Aulia dan Josh biar mereka yang mencari tau siapa mayat ini." Ujar Damian yang ku jawab dengan anggukan, sama dengan Andre. Setalah kasih mayatnya ini kepada Aulia dan Josh yang akan mencari tau tentang siapa mayat ini atau tepatnya menjalankan otopsi. Aku, Damian dan Andre mencuci tangan dengan sabun karena bau dari tanah tadi sangat menyengat. Setelah itu, aku masuk ke kelas dan mengajak Anisa untuk berjalan menelusuri taman sekolah yang berada di belakang sekolah tapi Damian tetap ikut. Katanya dia tidak mau terjadi apa-apa denganku dan Anisa. Dia sudah berjanji kepada orang tua kami agar terus mengawasi dan menjaga kami. "Jadi.. apa yang kau rasakan sekarang?" Tanyaku kepada Anisa yang dari tadi hanya diam. "Panas." Jawabnya singkat. Aku mengernyitkan dahi karena aku merasa suhu disini dingin bahkan sangat dingin. Aku melihat Damian yang menatap Anisa. Aku tidak tau apa arti tatapan itu. "Panas? Disebelah mana?" Tanya Damian. Anisa menunjukkan ke arah bangku piknik yang biasa anak-anak murid gunakan bersama teman-temannya atau biasanya bangku itu dibuat untuk pelajaran kelompok tentang alam. "Okay." Kata Damian singkat lalu pergi ke arah itu. Aku tidak tau apa yang dia lakukan disana. Seperti orang gila. Bukan bukan... lebih tepatnya..... berkomunikasi? Atau mengambil sesuatu dari alam gaib seperti orang yang ada di TV? Atau mengusir semua makhluk halus? Atau menyuruh semua makhluk yang ada di taman ini bahkan sekolah ini untuk keluar samapi hantu yang bernama Aminah itu untuk keluar dan menghantui kami semua yang ada di sekolah ini? Aku mengacak rambutku. Sungguh aku sangat pusing. Aku menatap Anisa yang pandangannya benar-benar kosong. Dia tidak pernah begini sebelumnya. Apakah dia dirasuki? Atau apa? Aku menggenggam tangan Anisa lalu dia menatapku dan tersenyum. "Apa maksud dari senyuman itu?" Tanyaku dalam hati. Tak lama kemudian, Damian menghampiri kami. "Ayo Dam, Nisa. Kita harus pergi ke ruang bawah tanah. Disini banyak energi jahatnya." Ujar Damian lalu mengeluarkan handytalky nya dan memberitahu temannya untuk menjalankan semua rencana sesuai yang tertulis. Aku, Anisa dan Damian berjalan menuju ruang bawah tanah. Damian yang memegang kunci kepala sekolah, mungkin dia pergi ke sekolah ketika pelajaran berlangsung dan meminta pak Tengku untuk memberikan kunci ruangannya. Kami memasuki ruang bawah tanah, hanya memodalkan senter membuat kami sedikit kesusahan. "Dam.. pegang ini." Ucap Damian yang menyuruhku untuk pegang senter sedangkan Anisa hanya diam dan terus menggenggam tanganku erat. Sedikit membuatku risih. "Okay.. arahkan senternya ke bawah." Ucap Damian lagi. Aku arahkan senter itu kebawa dan Damian berjongkok seperti mengeluarkan sesuatu. Batu. Batu bata paling bawah dia hancurkan. Dari situ juga air langsung keluar. Bukan air. Ini berwarna merah dan menyengat. "Darah." Batinku. Aku mundur beberapa langkah. Sungguh.. melihat atau mencium bau darah yang sangat meyengat membuatku pusing dan ingin muntah. "Mundur." Suruh Damian. Aku dan Anisa mundur beberapa langkah tapi aku tetap menyenter ke arah Damian. Disitu aku bisa melihat kalau dia sedang mencoba membongkar batu itu lagi. Dan dengan mudahnya semua batu itu langsung rubuh dna hampir membuat Damian tertimbun di atasnya. "A-apa.. s-sulit di percaya." Gumam Anisa dengan suara sangat kecil tapi aku bisa mendengarnya dengan jelas. "Ya Tuhan..." Ucapku dengan mata yang membulat karena kaget. "Semuanya... damn.. sulit di percaya." Ucap Damian. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Batu panjang dan besar yang menutupi jalan, ternyata adalah ruang rahasia. Seluas inikah ruang bawah tanah sekolah ini? Kenapa semua orang tidak tau akan hal ini bahkan kepala sekolah. Kami berjalan memasuki ruangan itu dengan hati-hati tapi handy talky yang di pegang Damian berbunyi. "Damian.. damian.. apa kau bisa mendengar?" Tanya orang dari seberang sana. "Ya." Jawab Damian singkat lalu melirik ke arahku dan Anisa secara bergantian. "Begini. Saya sudah tau siapa mayat yang kalian temukan tadi." Ucap orang itu yang mungkin bernama Aulia karena suaranya yang mirip perempuan. Damian dan Anisa kaget sedangkan aku sebenarnya juga kaget tapi aku berusaha untuk tenang dengan menaikkan satu alisku. "Siapa?" Tanya Damian. Aku bisa mendengar kalau Aulia sedang menarik nafas panjang lalu menghelanya secara perlahan. "Mayat itu adalah.... k-kepala sekolah disini." ***********
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN