13

795 Kata
Adam kaget dan tidak salah lagi. "Aku tau ini kalungnya siapa... ini kalungnya.... nenek Aminah." Ucap Adam. Damian membulatkan matanya. Adam melihat keadaan sekitar. Bau darah masih sangat menyengat. "Nenek Aminah? Yang korban pembantaian itu?" Tanya Anisa yang di jawab oleh anggukan dari Adam dan Damian serempak. "Berarti nenek Aminah itu mungkin juga di buang disini." Ucap Damian. Adam menggeleng kencang. "Tidak tidak.... dalam artikel yang pernah saya baca kalau nenek Aminah itu di bunuh lalu mayatnya juga di kubur secara layak." Jelas Adam. Damian menghela nafasnya pelan. "Wait... lo kan pernah bilang, Dam, kalau nenek Aminah itu dibunuh terus hanya tinggal tulang belakang dan kepalanya saja kan? Berarti organ lainnya kemungkinan besar di buang disini." Ujar Anisa yang membuat Adam dan Damian menatapnya. "Kemungkinan besar itu benar." Ucap Damian. Adam mengangguk pelan. "Jadi?" Tanya Adam. "Jadi.. kau masih mau melanjutkan ini? Karena aku rasa ini mustahil untuk dihancurkan. Ini membutuhkan gergaji mesin atau palu atau apalah yang semacam itu." Jawab Damian yang membuat Adam memegang linggisnya lalu keluar dengan menggenggam tangan Anisa. Damian melihat sekitarnya. "Ditembok ini... ada sesuatu yang disembunyikan. Aneh, kenapa aku tidak bisa melihatnya lebih jauh lagi?" Ucap Adam dalam hati. *** Adam menghempaskan dirinya di tempat tidur. Kepalanya terasa sangat pusing. Dia tau kalau banyak mata yang melihatnya sekarang. Mata tajam yang selalu membuat Adam takut dan terjaga. Anisa mengepal tangannya. Ketika pulang orang tuanya tidak berhenti-henti memarahi dia. Mereka selalu membuat hati Anisa sakit. "Apa kau gila ikut dengan Adam masuk ke dalam sana? Apa kau mau mati? Kau tau disana berbahaya! Kau memang anak durhaka! Jangan dekat dengan Adam lagi atau kamu tidak saya anggap sebagai anak kami!" Itulah yang Reza katakan kepada Anisa. Kata-kata kasar yang tidak pantas di keluarkan untuk anak polos seperti Anisa. "Kalau papa maunya gitu, okay! Aku bakalan keluar dari rumah ini tapi dengan 1 syarat..." "Apa?!" "Jangan pernah cari aku!" Anisa menarik rambutnya lalu melempar semua barang yang ada di dekatnya. Menangis adalah satu cara yang ampuh untuk meluapkan semua kekesalan di dalam hati. Damian duduk disofa kantornya. Dia mengacak rambut gondrongnya. Memikirkan sejarah dari Indonesia International School yang sampai sekarang masih menyimpan misteri. "Aku tau ini kalungnya siapa... ini kalungnya.... nenek Aminah." Itulah yang ada dalam pikiran Damian. Hanya itu. Misteri yang terlupakan sekarang muncul kembali dengan hadirnya Adam, Damian dan Anisa. Merekalah yang akan memecahkan misterinya. Semua misteri yang terkubur dalam-dalam di sekolah itu akan dipecahkan. Semua puzzle yang ada disana akan di dapatkan. Salah satu cara untuk melakukan semua itu adalah dengan membuat rencana yang brilliant dan yakin kalau rencana yang dibuat tidak akan gagal/berantakan. *** Malam telah tiba, Adam dan Anisa pergi ke apaterment Damian untuk membicarakan soal rencana bagus untuk memecahkan semua misterinya. Sesampainya disana, mereka masuk kedalam apaterment Damian dan duduk di sofa depan sambil menunggu Damian datang menemui mereka. Damian sedang membuat laporan pekerjaannya dan menghubungi semua temannya untuk membantu pemecahan misteri ini. "Lo serius? Lo mau melakukan apa saja demi kak Alexandra?" Tanya Anisa. "Iya." Jawab Adam. "Kenapa?" Adam menghela nafas. "Karena dia adalah kakak gue." Jawab Adam. Anisa yang mendengarnya hanya mengangguk lalu menyalakan televisi. Tak beberapa lama kemudian, akhirnya Damian keluar membawa sejumlah kertas lalu duduk di samping Adam. Wajahnya terlihat capek dan terlihat jelas kalau dia sedang punya banyak pikiran. "Ini rencananya. Kalian tinggal baca dan tanda tangan." Ucap Damian dan memberikan pulpen kepada Adam dan Anisa. "Alat: 1. Kaki ayam. 2. Pakai baju hitam. 3. Bawa senter. Rencana: 1. Bawa masing-masing 2 kaki ayam. 2. Ada salah satu dari kita jadi umpan bersama kaki ayam yang akan dipegang. 3. Adam akan pegang kalung nenek itu lalu pergi dengan Damian ke ruang bawah tanah. 4. Hanya Adam dan Damian saja yang di ruang bawah tanah. 5. Anisa sama teman yang Damian suruh. 6. Jangan banyak tanya. 7. Tetap diam. 8. Jalankan semua tugas." Tulis rencana dan alat yang Damian tulis. "Om... rencananya aneh." Ucap Anisa. "Kenapa Anisa sama temannya om dan dia jadi umpan dengan kaki ayam?" Tanya Adam. Damian menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. "Hm... kalian akan tau tugas kalian nanti." Jawab Damian. "Om sakit ya?" Tanya Anisa sambil menanda tangani kertas itu sedangakan Adam hanya memperhatikan Damian dengan tatapan aneh. Adam mengambil pulpen dari Anisa dan menanda tangani kertas itu lalu menghembuskan nafasnya pelan. "Ingat... ini hanya rencana gila, bodoh dan aneh. Rencana yang seru ada di temanku. Sudah saya bikin, jadi kalian jangan khawatir. Bawa saja alat yang ada di kertas itu dan jangan banyak tanya." Jelas Damian panjang lebar yang dijawab dengan anggukan serempak dari Adam dan Anisa. "Okay... kita tos!" Lanjut Damian yang mengulurkan tangannya. "We are rock! We are team! We are Win!" Teriak Damian, Adam dan Anisa serempak lalu tertawa bersama-sama. "Semuanya akan berjalan dengan lancar dan kita semua akan menang!" ********
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN