Bab 7

1433 Kata
Namanya Ocean Tyaga, dipanggil Sean. Jurusan Akuntansi semester 4. Pintar, ganteng, kalem, pendiam, yang paling penting, dia pekerja keras. Cuma satu kurangnya, miskin. Kuliah saja mengandalkan beasiswa, Hanya tinggal berdua dengan ibunya. Suka dibully sama cowok-cowok populer di kampus karna banyak cewek yang naksir dia, walaupun dia ngga pernah ngeladenin, sih. Mungkin mereka kalah populer dari kak Sean yang sudah jelas miskinnya, hanya bermodalkan wajahnya yang tampan saja tapi bisa memikat kaum hawa borjuis. Nah, yang lagi semeja sama dia itu namanya Bagus Hendrawan, sahabatnya. Begitulah inti dari penjelasan panjang lebar Adena tentang laki-laki yang dia klaim cocok menjadi suami Sairish. Satu yang membuat gadis itu berpikir sampai sekarang, tentang Sean yang hanya menyukai satu cewek, teman sekelasnya yang bernama Carramel. Tapi mereka tidak pernah terdengar berpacaran, atau memang mereka backstreet. Kalau yang dimaksud Carramel oleh Adena adalah Carramel pemilik cafe itu, berarti fix, mungkin memang benar. Adena bilang, perjalanan Sairish akan berat. Karna selama ini tidak ada seorang cewekpun yang berhasil menggeser posisi Carramel di hati Sean. Sairish mendengus, apa dia mencari kandidat lain saja? Sairish paling malas berurusan dengan kisah cinta yang rumit apalagi yang belum selesai, ribet!. Tujuan Sairish mencari suami itu untuk hidup bahagia, bukan malah menangisi kisah cinta sang suami yang belum selesai sama masa lalu. Berat banget hidup Sairish kalau seperti itu. Ibarat kata, lepas dari Regan yang penjahat kelamin, eh, malah masuk kedalam hidup Sean yang gagal move on dari mantan. Tapi ketiga sahabatnya malah menyemangatinya untuk mendekati Sean. Mikayla bilang, itu adalah tantangan buat Sairish. seperti prinsip wanita itu, sebelum bendera kuning berkibar, lo masih bisa nikung walaupun lewat jalur pelakor. Emang sinting sih, si Mikayla. Keempat gadis itu masih sibuk bergosip setelah menuntaskan makan siangnya. Suasana kantin fakultas yang penuh membuat udara semakin panas saja, tetapi mau keluarpun rasanya sangat malas. Di luar juga sangat panas. sedangkan jadwal kuliah masih dua jam lagi. Pantas saja Gina ngebet ingin tidur siang di Mushola. Terdengar suara ribut-ribut di bangku dekat pintu keluar kantin. Suara mereka yang besar mampu membuat sebagian penghuni kantin menengok ke arah mereka, tidak terkecuali ke empat gadis itu. "Itu bukannya si Regan ya?" Mikayla mengedikkan dagunya ke arah cowok yang sedang berdiri merangkul bahu seorang gadis. Adena dan Rara reflek menoleh, "wooaaah, mangsa baru lagi bosqiuuu." Adena menatap sinis ke arah komplotan yang sedang adu urat itu. "Mau kesana ngga? gue kepo." Adena yang berniat bangun, langsung di tahan oleh Rara. "Ngapain? dari sini aja udah kedengaran. "Lo ngga bisa cari cewek lain Bro? lo tau kan, tuh cewek bekas gue?" Regan tersenyum sinis menatap lawan bicaranya yang sedang duduk berdua dengan Tiana. Laki-laki itu Atta, salah satu mantan pacar Sairish yang baru jadian langsung ajak bobo bareng. Sairish bergidik jijik membayangkan kejadian itu. "Lo ngga amnesia kan, kalo cewek yang lo rangkul itu juga bekasan gue? Atta membalas ucapan Regan tak kalah sinis. "Ada ya laki-laki mulut lemes kayak gitu. Adu mulut udah kayak banci aja, kenapa ngga sekalian jambak-jambakan juga?" Mikayla terlihat menatap jengah ke arah mereka. Akibat perang ego kedua laki-laki bangs*t itu, ada dua perempuan yang menanggung malu atas perkataan mereka. Bekasan? bukankah yang membuat dua perempuan itu menjadi bekas, mereka juga ya? Terdengar kasak kusuk dari penghuni kampus yang terang-terangan membicarakan aib kedua gadis itu, terutama Tiana. Laki-laki mana yang tidak kenal Tiana di kampus ini? Tiana bukan terkenal karna cantiknya, walaupun memang dia cantik. Tapi dia terkenal dengan julukan piala bergilir, mantan pacarnya ada dimana-mana. Tapi memang Tiananya yang muka tembok sih, malah dia bangga bisa memacari cowok-cowok tampan di kampus ini. Padahal mungkin saja cowok-cowok itu hanya ingin memanfaatkan dia saja. Secara, gratis kan? dari pada bayar lont*, lebih baik pacarin dengan modal kata cinta. Selesai "t***l. Dikasih speak bidadari, malah pilih speak babu." Mikayla mendengus sinis. "Yoi, dikasih rejeki halal, malah pilih kerjaan haram." Rara ikut menimpali, membuat ketiga sahabatnya melongo takjub. "Lo ngga takut dosa Lagi, Ra?" "Kenapa emangnya?" Rara bertanya polos. "Ya, karna ikutan ghibah bareng kita, lah." "Gue udah berdosa dari tadi karna dengerin lo bertiga ngeghibah, jadi ngga papa lah diterusin aja sekarang." Rara menjawab enteng. "Waaahh, Rara udah besar ya, udah pintar ghibah juga. Semangat ghibahnya ya sayang, biar dosanya makin numpuk. Biar kelak kita juga bisa ngumpul di neraka." "Anj*ng lo, Den. Lo aja yang ke neraka sendiri, gue mah ogah." Sairish mengumpati Adena yang sudah tertawa terbahak-bahak, disusul Rara dan Mikayla. **** Sean memasukkan kotak bekalnya ke dalam tas, lalu menandaskan sisa air di botol minumnya. Laki-laki itu berdiri lalu mencangklok tas di pundak kanannya, berjalan keluar beriringan dengan Bagus. Saat melewati tempat duduk yang dihuni Atta dan teman-temannya, tangan Sean di tahan oleh Carramel. Gadis itu tersenyum manis menatap Sean. "Kenapa?" Sean melirik pergelangan tangannya yang masih di pegang Carramel. "Kamu ngga ke Cafe?" Carramel bertanya tanpa melepaskan tangannya dari Sean. Senyuman gadis itu tidak luntur sedikitpun. "Ini, gue mau jalan." Sean berkata datar sambil melepaskan pergelangan tangannya dari pegangan Carramel. Membuat senyum manis gadis itu berubah kecut. "Mau samaan ngga? pake mobil aku aja." "Ngga usah, gue bawa motor kok. Ya udah, gue duluan ya." tanpa menunggu respon Carramel, Sean berlalu begitu saja menyusul Bagus yang sudah keluar terlebih dahulu. "Ih, ngga sopan banget gebetan lo." Tiana mendumel, bibirnya mengerucut kesal membuat Atta mencubit pelan bibir itu. "Udahlah, ngga usah peduliin si cupu itu, peduliin gue aja, sayang." Atta mencolek dagu Tiana membuat gadis itu tersenyum malu." "Ih, najis. Kalo sange, cari kamar hotel sana." Carramel mengernyit jijik melihat pergerakan tangan Atta yang masuk ke dalam kemeja yang dipakai Tiana. "Muna lo. padahal tadi malam, lo juga habis garap sawah tuh sama si Brian." Atta tersenyum mengejek sambil tangannya tetap bekerja di balik kemeja maroon itu. Sedangkan Tiana sudah blingsatan tak karuan merasakan gelenyar aneh di perut dan selangkangannya. Dia menggigit bibirnya pelan menahan gairah, membuat Atta semakin kencang meremas dad* gadis itu. "Anj*ng. jangan disini, tol*l." Carramel mengumpat pelan, sambil mengalihkan perhatiannya dari dua orang m***m yang tengah duduk dihadapannya itu. Terdengar kekehan dari Atta membuat pandangan carramel kembali mengarah ke depan. Terlihat Tiana yang merapikan kemejanya sambil tersenyum malu ke arah Carramel. "Hai, Rish." Atta tersenyum lebar saat melihat wajah Sairish. Terlihat binar bahagia ketika melihat wajah mantan pacarnya, membuat Tiana mendengus sinis. Sairish yang berjalan hendak keluar kantin, reflek menoleh ketika mendengar suara sapaan itu. Mikayla yang berada tepat di sebelahnya pun ikut menoleh. "Oh ... hai kak," Sairish menyadari arah pandang Tiana yang menatapnya sinis, sedangkan Carramel hanya menatap biasa, seperti orang yang menilai ... mungkin? "Makin cantik aja, beb." Mikayla yang mendengar itu reflek bergerak seperti orang yang mau muntah, Sairish yang melihatnya hanya bisa terkekeh geli. "Gue kan selalu cantik, kak." Dengan gerakan pelan, Sairish menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, sambil tersenyum malu-malu menatap Atta. Sedangkan gadis yang duduk di sebelah laki-laki itu sudah mengepalkan tangannya, wajahnya terlihat menahan marah. "Heh, bisa ngga, lo ngga usah sok genit gitu. jijik banget gue liatnya." Sairish mengulum bibirnya ke dalam, dia berusaha untuk tidak tertawa mengikuti Mikayla yang sudah terkikik geli di sebelahnya. "Sorry ...." "Ya udah, kak. Gue duluan ya." Sairish berniat pergi tapi lagi-lagi perkataan Atta menghalanginya. "Kok cepet sih? duduk dulu sini, bareng gue." "Eh, ngga usah kak. Cewek kakak marah tuh." Sairish mengedikkan dagunya ke arah Tiana. "Dia bukan cewek gue." Atta menjawab santai, membuat Tiana sontak menoleh ke arah laki-laki itu. Terlihat wajah merah padam Tiana, antara malu dan marah menguasai. "Ohh ...." Sairish tersenyum, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai yang terlihat menyebalkan di mata Tiana. "Sorry, dosen gue bentar lagi masuk." Sairish sekali lagi menolak. Sebelum berlalu dari hadapan ketiga seniornya, Sairish merogok dompet di dalan totebag-nya, mengeluarkan uang 100 ribu lalu di letakkan di atas meja yang di duduki mereka. "Sewa losmen sejam pake duit itu kak, kasian cewek lo udah blingsatan karna lo grepe-grepe dari tadi. Sekalian beliin dia celana dalam, takutnya yang di bawah udah basah." Setelah mengatakan itu, Sairish berlalu diiringi tawa Mikayla. Masih Sairish dengar umpatan dan cacian yang dilontarkan Tiana untuknya. Tapi, mana Sairish peduli. Yang penting dia sudah membalas ucapan gadis itu yang mengatainya genit tadi. Padahal dia cuma pura-pura. 'Najis, ngapain genit. Gue diam aja, tu cowok udah meleyot.' Gadis itu membatin. Sairish menyaksikan semua apa yang di lakukan Atta dan Tiana sedari tadi. Bahkan interaksi Carramel dan Sean yang membuat alis Sairish mengkerut karna berpikir. 'Apa mungkin interaksi seperti itu bisa dikatakan mereka pacaran? malah terlihat Carramel yang antusias, sedangkan Sean ogah-ogahan. Apa karna mereka backstreet ya? ah, bodoh lah. Besok gue harus temuin cowok yang namanya Sean itu. Gue harus ngajak dia nikah secepatnya.' Sairish memainkan lollipop di mulutnya tanpa mendengar ocehan Mikayla sedari tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN