Bab 3

1359 Kata
Sairish masih duduk nyaman di Cafe Carammel setelah metting usai. pandangannya masih fokus melihat ke luar jendela ke arah tempat parkir motor dan mobil. Hari sudah menjelang magrib, lampu-lanpu jalan sudah mulai menyala, bahkan hujan sudah turun sejak satu jam yang lalu. Metting yang alot membuat kepala Sairish sedikit berdenyut, ditambah rekan bisnisnya yang sangat tidak tau diri. Bagaimana bisa hanya karna cafe ini milik saudaranya, dia melakukan meeting di tempat terbuka seperti ini. Sairish tidak mempermasalahkan tempatnya, tapi suasananya. Suasana bising dan terbuka seperti ini membuat Sairish tidak nyaman. Konsentrasinya benar-benar buyar, alhasil sepanjang meeting Mita lah yang mengambil alih. Sekretarisnya tau kalau suasana hati bosnya tidak baik, semuanya akan rusak. Dari pada nanti dia kena imbas dimarahi ibu Gloria, lebih baik sekarang mengalah pada mood buruk Sairish. "Belum mau pulang?" suara Mita sedikit membuyarkan lamunan Sairish. Gadis itu menggeleng pelan. "Ntar dulu, aku masih mau disini?" "Kenapa? masih nyaman disini?" Perkataan Mita yang disusul kekehan pelan itu langsung mengalihkan atensi Sairish secara penuh. Gadis itu memandang asistennya dengan raut jengkel. Dia mendengus sinis. "Nyaman? in your dream mbak." Gadis itu memutar bola matanya malas. Pandangannya kembali fokus ke arah luar. membuat Mita mengernyit heran, apa yang membuat Sairish sampai fokus melihat ke bawah sana sedari tadi. Gadis itu bangun untuk berpindah tempat duduk menjadi diseberang meja, yang langsung berhadapan dengan Sairish. Matanya langsung fokus mengarah ke bawah kearah tempat parkir mobil dan motor. Tapi dia tidak menemukan apa-apa, hanya beberapa orang yang berteduh menunggu hujan reda saja, dan tukang parkir yang mondar-mandir mengatur keluar masuknya kendaraan. Tidak ada yang spesial menurutnya, gadis itu hanya bisa menggaruk kepalanya, bingung. "Kamu dari tadi liatin apa sih ,Rish? kok fokus banget. giliran metting aja langsung bad mood." Tanpa mengalihkan perhatiannya, Sairish berucap. "Beruntung ini metting final-nya, kalo diawal, udah aku batalin kerja sama ini, ngga profesional." Gadis itu kembali mendengus kesal, "lain kali, cross check dulu tempat meeting-nya. Gimana bisa mbak langsung acc tempat meeting penting di tempat kayak gini. Ini cafe baru buka, masih ada banner promonya lagi. Ya, jelas rame lah, suara dari lantai bawah aja sampai kedengaran dari sini." Gadis itu sangat kesal, benar-benar merusak moment terakhir dia bekerja. "Sorry, Rish. Ini terakhir deh." Mita memasang wajah memelasnya, membuat Sairish menjadi tidak enak sendiri. Gadis itu Akhirnya mengalah, dia terkekeh pelan. "Iyalah terakhir mbak. abis ini kan, aku libur panjang." Sekarang gantian Mita yang mendengus kesal. "Untung gajinya gede ya, Rish." perkataan Mita membuat Sairish mau tidak mau tertawa juga. "Pulang yuk, aku udah bosan disini." "Aku malah udah bosan sedari tadi. suara musiknya bener-bener ganggu." Mita berucap sambil bangkit dari tempat duduknya. "Baru nyadar sekarang bu? setelah tiga setengah jam berlalu?" Sairish menyindir sambil berdiri, membenahi blazer-nya yang sedikit kusut, lalu berlalu dari sana disusul Mita yang hanya bisa tersenyum polos mendengar sindiran bosnya. Sairish berjalan sambil memainkan ponselnya, dia tersenyum sendiri mendengar rentetan voice note yang dikirim keponakannya yang menyuruh dia cepat pulang karna mereka sudah berada di rumah. Tidak lupa lollipop yang bertengger di tangannya yang sesekali dia masukkan kedalam mulut. Itu adalah kebiasaan Sairish, mengemut lollipop dimanapun dia berada. 'Penampilan boleh tua, tapi kelakuan tetap aja kayak bocah.' Mita membatin. Ditangga terakhir, Sairish tidak sengaja menyenggol bahu seseorang karna terlalu fokus dengan ponselnya. Bunyi gelas dan piring jatuh menambah bising suasana cafe itu, jangan lupakan tumpahan jus dan mie goreng yang berserakan membuat Sairish meringis pelan. Tumpahan jus itu bahkan mengenai sneakers putihnya, 'Anjiirrr, sepatu 67 juta gue.' Gadis itu berteriak dalam hati. Sairish diam mematung begitupun orang yang disenggolnya. Perlahan pandangan gadis itu terangkat. Didepannya berdiri kaku seorang laki-laki dengan ampron hitam di tubuhnya, sambil menatap nanar pada pecahan gelas dan piring beserta isinya yang berserakan di bawah lantai. Belum sempat mereka bersuara, tiba-tiba dari arah belakang seseorang menarik keras lengan laki-laki itu sampai membuat sang empunya meringis pelan. "Lo apain client gue, pelayan?" Bentakan keras yang dilayangkan orang itu sontak membuat Sairish terjengkit kaget. Gadis itu buru-buru mengeluarkan lollipop yang masih bertengger di mulutnya. Berniat memasukkan lollipop itu ke dalam saku blazer-nya untuk di sembunyikan, tapi belum sempat tangan itu masuk, sebuah tangan lain memegang erat lengannya. Sairish menoleh dan mendapati tatapan tajam dari Mita, sebuah gelengan pelan diberikan sekretarisnya membuat Sairish menyengir tanpa dosa. Mita meraih lollipop itu dan meremasnya kuat. Lebih baik tangannya yang kotor, dari pada blazer Christian Dior yang harganya bikin ginjal Mita kejang-kejang itu yang terluka. Walaupun Sairish pemiliknya, tapi Mita lah yang mengasuh baby-baby mahal itu. 'cukup sneakers, jangan lagi blazer. bisa beneran pingsan gue.' Mita membatin. "Maaf pak Ryan, ini murni salah saya. Tadi saya yang ngga fokus karna sibuk bermain ponsel." Sairish akhirnya bersuara untuk memecah suasana canggung itu. Seseorang yang tak lain rekan bisnis Sairish yang melakukan meeting dengannya tadi langsung mengalihkan perhatiannya pada Sairish. Sambil tersenyum, Ryan kembali berucap. "Bukan salah bu Sairish kok, pasti pelayan ini yang ngga bisa fokus bekerja." Sairish memutar bola matanya jengah, 'dasar penjilat.' Sairish mengumpat dalam hati. Tatapan tajam kembali Ryan layangkan pada laki-laki itu. senyumannya terlihat sangat meremehkan. "Kalo lo ngga niat kerja, keluar sekarang. Cafe ini baru buka, jangan bikin masalah lo." "Mas apa-apaan sih? kenapa bentak Sean kayak gitu?" tiba-tiba dari arah dapur Cafe, muncul seorang gadis dengan raut kesalnya, Carramel Macha. Owner sekaligus adik dari Ryan Prayoga. Laki-laki itu mendengus sinis melihat raut kesal adiknya. "Pelayan kesayangan lo nih bikin ulah, pecat dia gih." Carramel memelototkan matanya kaget. "Mas ini ngomong apa sih?" "Ngga usah macam-macam lo. Gue laporin papa, mampus deh." Ryan tertawa keras yang terdengar menyebalkan ditelinga Sairish 'Bocah prik. Badan doang gede, tapi kelakuan udah kayak bocah tukang ngadu karna ngga diajak main sama teman-temanya. Attitude nol, ngga ramah ah, kasih bintang satu aja!' lagi-lagi Sairish mendumel dalam hati. "Begini saja pak Ryan dan mbak Carramel, berhubung yang salah memang bos saya, jadi sepantasnya lah bos saya yang bertanggung jawab, bukan malah melempar kesalahan pada orang yang tidak tau apa-apa." Akhirnya Mita menengahi drama persaudaraan ini, mungkin dia sama kesalnya juga dengan Sairish. "Jadi, berapa yang harus kami ganti?" Kembali Mitha bersuara. "Tidak usah ganti rugi bu Mitha, bu Sairish tidak salah. mungkin tadi beliau tidak sengaja." Ryan tertawa canggung melihat wajah serius Sairish dan Mitha. "Saya akan menyuruh pelayan ini untuk minta maaf pada ibu Sairish, bila perlu dia harus berlutut agar masalahnya cepat selesai." Terlihat jelas raut terkejut dari laki-laki itu, tangannya terkepal erat. Terlihat menahan marah tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Sedangkan Sairish juga sudah benar-benar jengah mendengar kata-kata tidak sopan dan terkesan arogan yang dilayangkan Ryan pada laki-laki itu. Apa haknya dia sampai berani merendahkan orang lain. Bahkan laki-laki itupun tidak pernah mengeluarkan suaranya sedari tadi walaupun dikata-katai. "Saya yang harusnya minta maaf pak Ryan, karna saya yang salah. sangat tidak sopan kalau saya bertingkah seolah saya yang tidak bersalah disni. lagi pula saya bukan tuhan, untuk apa dia harus berlutut. saya bukan orang yang haus pengakuan, tapi kalau pada orang-orang sombong sih, boleh juga!" Ppffftt ... Mita berusaha menahan suara tawanya mendengar ucapan sarkas Sairish, Gadis itu selalu bisa diandalkan untuk menjatuhkan mental orang-orang sombong. Dan Mita sangat bangga untuk itu. Sedangkan Ryan yang merasa disindir langsung bungkam dan hanya bisa memberikan senyum kakunya. "Saya minta maaf mas ... Sean?" Sairish meraih tangan laki-laki itu, mengurai pelan kepalan tangannya dan menjabatnya erat. Tidak peduli wajah shock yang ditampilkan laki-laki yang bernama Sean itu. Tangan Sean terasa hangat. Sairish pernah merasakan tangan hangat seperti ini, mungkin sekitar ... 7 atau 8 tahun lalu? entahlah, Sairish lupa. Merasakan lagi hangat telapak tangan seperti ini membuat Sairish menginginkan lebih.Tapi sangat tidak mungkin untuk mengajak Sean berjabat tangan setiap hari. Mereka tidak saling kenal, dan itu akan terlihat sangat aneh kalau Sairish mendekati Sean terlebih dahulu hanya karna perkara tangan hangat saja. Akhirnya masalahnya selesai juga, hampir 20 menit berdiri membuat kaki Sairish pegal dan sedikit kesemutan. Setelah berpamitan, Sairish dan Mita berniat pergi. Tapi sebelum mereka sampai di pintu keluar, Sairish kembali melihat ke belakang, kearah gadis yang sedang berbicara dengan Carramel itu, gadis yang dibawa oleh Ryan tadi. Gadis yang bernama Tiana, gadis yang sama yang dia temui sedang bergumul dengan Regan seminggu yang lalu di kamar apartemen laki-laki itu. Sairish tersenyum miring, "b***h ...."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN