Saat ini gue udah pulang ke rumah bareng Duncan. Setelah nganterin Duncan ke rumah sakit gue pun langsung nidurin Duncan di kamar biar dia bisa istirahat.
Karena tadi waktu di rumah sakit Duncan udah makan dan minum obat jadi dia langsung pules tidurnya. Semuanya berkat bantuan temennya Duncan sih, si item.
Gue pun langsung membaringkan tubuh gue disebelah Duncan. Gue pun mulai memandang lelaki disebelah gue yang sedang tidur dengan polosnya.
Entah kenapa hanya memandang dia sebuah senyuman sudah terukir di bibir gue. Mengingat yang dilakukan Duncan tadi membuat pikiran kotor gue bekerja.
Kenapa Duncan selalu pinter buat gue gak marah lagi sama dia. Entah dengan ciuman atau rayuan manisnya, sakit hati yang gue rasain tiba-tiba hilang entah kemana.
Bodoh? Memang gue merasa jadi cewek terbodoh setelah apa yang gue alami selama ini.
Melihat suami berinteraksi berlebihan dengan mantan. Lalu bertengkar hebat dan meminta cerai.
Tapi dengan satu ciuman panas mampu menghilangkan kebencian dan rasa sakit yang gue rasain. Konyol bukan?
Gue pikir itu gak konyol. Karena gue merasa kalau gue udah mulai jatuh cinta sama lo Can. Iya gue gak bisa bohongi kenyataan bahwa gue udah jatuh di pelukan lo.
---
Ting nong ting nong~
Suara bel rumah membuat gue menghentikan aktivitas masak gue. Langsung saja gue berjalan kearah pintu untuk melihat siapa yang bertamu di siang bolong begini.
"Lah Lin ngapain kesini? Eh sama Alden juga, masuk masuk."
Gue langsung mempersilahkan Franklin sama Alden untuk masuk. Alden ini temen seperbangsatannya Franklin.
Jadi sama lah bentukannya kayak Franklin. Iya sama-sama dedek b*****t. Dia itu adek tingkatan gue juga.
Setelah mereka duduk di sofa ruang tamu. Langsung saja gue mempertanyakan alasan mereka kesini.
"Ngapain kesini?"
"Dih gak boleh gitu mbak?" Kata Franklin sewot banget.
"Lah kok lo nyolot sih?"
"Udah kali Lin jangan digodain mbak Alaina nya." Alden langsung senyum ke gue.
"Kita kesini mau minta ajarin nyuntik mbak. Gue ikut boleh kan mbak hehe." Tanya Alden memastikan.
"Dengan senang hati dek, eh tapi sebelah lo usir dulu ya."
"Hehe siap." Kata Alden sembari ketawa bahagia yang bikin dia tambah lucu.
"Orang ganteng diusir nih."
"Dih baperan lo, yauda habis ini gue ajarin tapi gue kelarin masakan gue yak. Nanti kalian sehabis belajar bisa makan."
"Siap bosku!"
---
"Lin kalau mau nyuntik itu pakai perasaan jangan main nyubles aja. Lo kira tangan manusia kayak ban mobil apa."
"Hehe maaf lah mbak gue kan baru nyoba."
"Mangkanya jangan ngasal aja lo."
"Mbak gini kan?" Tanya Alden sembari menunjukkan daerah tangannya ke gue.
"Iya lo cari yang pas kayak gitu biar nanti kalau waktu nyubles gak salah. Kalau salah bisa bengkak deh."
"Duh pusing gue." Franklin ngurut kepalanya sambil berdecak pelan.
"Jadi dokter itu susah Lin. Jangan cuman main-main aja kalau lo mau jadi dokter. Nyembuhin orang gak sebercanda itu."
"Iyaaa mbak, si Franklin dari kemarin galau aja tuh." Sahut Alden bikin gue kaget.
"Hah? Bocah ingusan ngegalauin siapa? Perasaan sianjer gak pernah deketin kaum berlubang deh."
"Dih dikata gue gay apa." Franklin muterin bola matanya males.
"Lah serius lo aja gak pernah bawa cewek ke kampus. Yang gue liat selama ini lo kan selalu homoan sama si Alden."
"Dih mbak amit-amit gue. Gue masih lurus mbak gak belok kayak dia." Alden natap jijik Franklin.
"Ikan hiu makan permen. Fakyu men." Kata Franklin sambil nunjuk-nunjuk Alden. Suka kenapa sih otaknya Franklin itu.
"Masa ya mbak dia kemaren curhat ke gue pingin jadi atlit renang aja." Kata Alden bikin gue bingung.
"Hah kok bisa?"
"Katanya dia pingin rajin berenang biar gak tenggelem sama kenangan masa lalunya."
Seketika gue ngakak denger perkataan Alden barusan.
"Lo tuh ya mulut lo minta disumpel sama k****t emang." Franklin udah kesel banget tuh.
"Dih bisa galau juga ya lo Lin."
Gue sama Alden langsung ketawa lihat ekspresi keselnya Franklin.
"Dih yang gue galauin malah ngetawain gue sekarang." Kata Franklin samar tapi masih kedengeran.
"Hahaha-hah apa Lin?" Tanya Alden.
Gue langsung diem ketika denger perkataan Franklin barusan begitupun juga dengan Alden yang langsung natap Franklin bingung.
"Jadi bener lo suka sama istri orang hah?"
Gue pun lantas menoleh ke belakang saat mendengar suara khas berat milik seseorang. Siapa lagi kalau bukan...
"Duncan?"