Bianca memeluk tas sekolahnya sangat erat, seolah jika terlepas sesuatu yang buruk akan terjadi. Dan nyatanya memang iya. Dihadapannya sekarang berdiri dua orang pria berbadan besar dengan wajah yang sangar, beberapa luka dan bekas sayatan menambah kesan menyeramkan pada kedua orang itu. Preman. Bianca menoleh kesana kemari, melihat ke seluruh arah untuk mencari jalan keluar. Tapi tidak, dirinya sudah terpojok sekarang. Jalan ini buntu, dan entah kenapa Bianca tadi berbelok kesini. Di sekelilingnya kosong. "Woy! Diem aja!" Tersentak kaget, genggaman pada tas merahnya semakin mengerat. "Ke-kenapa, b-bang?" Tanya Bianca takut. Tubuhnya berkeringat. "Kenapa-kenapa. Siniin tas lo!" Bentak preman yang lebih tinggi. Tangannya diulurkan seolah-olah meminta sesuatu. Pakiannya yang ketat dan

