2 - Gadis Gila

1180 Kata
Gadis itu cantik --sangat cantik. Ia tidak memakai make up, tapi wajahnya bercahaya seperti rembulan, menggantikan sinar matahari yang tengah bergelut dengan awan kelam. Ia tinggi dan ramping, dan kulitnya sebening kristal. Mungkin, jika mengenakan seragam yang sedikit lebih ketat, ia akan terlihat sebagai primadona, incaran berbagai jenis siswa pria. Tidak ada satu pun kecacatan fisik yang menjadi kekurangannya. Bahkan meski tak ada aksesoris yang menempel di tubuhnya, ia masih tetap terkesan elegan. Berdiri dengan rambut terikat di belakang dan senyum lebar membuatnya tampak polos, sederhana, dan ... gila! Iya, gila. Ia tanpa berbasa-basi, dan bahkan dengan sangat percaya diri tiba-tiba mengatakan ingin menjadi muridnya, seolah Acay adalah guru les kelas rendah yang tengah berputus asa mencari anak didik demi gaji sepuluh ribu per bulan! Terlebih, ia memanggil Acay apa tadi? Bapak? Bagaimana mungkin Acay tidak tersinggung? Apa ia sudah terlihat begitu tua sampai berhak mendapatkan gelar kehormatan? Usianya memang sudah 35 tahun, tapi ia belum menjadi ayah apalagi menikah! Terlebih, ia masih terlihat muda. Bahkan jika ia memainkan peran sebagai siswa SMA, akan ada jutaan umat yang akan mengelu-elukan betapa cocoknya ia. "Terima aku sebagai murid Bapak! Aku sangat mengagumi Bapak, dan ingin seperti Bapak!" Gadis itu membungkuk setinggi pinggang. Acay terbangun dari kebekuannya, perlahan mulai mencerna situasi yang ada. Di matanya, gadis itu tidak lebih dari seorang fans baru yang mulai tertarik dengan dunia metafisika. Wajar, remaja memang gudangnya penasaran. Acay menghela napas dalam, memaksa diri untuk mempertahankan keramahannya. Ia tersenyum, lalu berkata, "Dek, jadwal Bapak sangat padat, jadi nggak bisa nerima murid." Acay terkesan santai saat mengatakan 'Bapak', tapi sebenarnya hatinya teriris sedih. Namun, ia harus menahannya. Image-nya sebagai public figure membuatnya harus ekstra menjaga sikap. Sekali saja gagal mengendalikan diri, nama dan karirnya akan hancur dalam hitungan detik. "Aku bisa menyesuaikan diri dengan jadwal Bapak." Acay kehabisan kata-kata. Ia tidak terbiasa berdebat. Selama ini, semua orang yang datang selalu menurut pada nasehatnya, patuh pada perkataannya. Tidak ada yang membantah, tidak ada yang menyanggah. Namun kali ini, ia harus menghadapi remaja labil yang keras kepala, yang bahkan mungkin tidak tahu apa yang bisa ia lakukan padanya. Ia dikenal sebagai pakar metafisika, yang sebagian masyarakat mendewakannya, takut padanya, menganggap ia bisa membunuh orang hanya dengan kibasan tangannya. Beruntung, hujan datang menyelamatkannya. Memanfaatkan moment sesaat itu, ia minta maaf setulus mungkin, lalu berbalik dan berlari memasuki mobil, mengabaikan gadis yang tengah berteriak dan mengejarnya. "Bapak, aku benar-benar ingin menjadi murid Bapak!" Mesin menyala, tapi suaranya masih kalah nyaring dengan derasnya rintikan hujan. Bahkan teriakan gadis itu, dan gedoran di kaca mobilnya. hanya terdengar samar saat sampai di telinganya. "Bapak, aku harus menjadi dukun!" Mengabaikan hujan yang sangat lebat, ia berlari menyejajari mobil yang tengah melaju. Namun, itu hanya bertahan sesaat; dalam hitungan detik, ia sudah kalah cepat. Ia terjatuh, tersungkur di jalan beraspal. Acay melihatnya. Merasa bersalah, ia memperlambat laju kendarannya, berniat turun dan menolongnya. Namun, keinginan itu seketika lenyap saat ia memandang spionnya. Melihat lampu rem menyala, mata gadis itu berkilau cerah. Ia bergegas bangkit, dan dengan menahan nyeri di lututnya, ia berlari mendekati mobil itu. Sebuah harapan memancar dari wajahnya. Ia sangat yakin Acay telah luluh karena melihat keseriusannya. Namun, belum sampai ia bisa mengungkapkan kebahagiaan, kaca jendela mobil itu terbuka, menampakkan sosok Acay yang tengah tersenyum iba, dan tangannya menyodorkan sebuah payung lipat. "Dek, aku benar-benar minta maaf nggak bisa nerima murid. Pulanglah." Kata-katanya santai, kalimatnya sopan, tapi penuh dengan penekanan yang jelas. Nada suaranya pelan, dan bahkan hampir kalah dengan derasnya hujan, tapi seolah berisi ancaman; jika gadis itu tidak segera enyah dari hadapannya, maka jangan salahkan siapa-siapa kalau ia sampai binasa. "Bapak, aku harus jadi dukun!" Gadis itu masih belum menyerah? Biasanya, jika bersama klien, saat ia mengatakan 'pulanglah' dan menyodorkan sebotol air mineral, itu artinya sesi konsultasi sudah selesai. Tak peduli seberapa banyak masalah lain yang ingin mereka ungkapkan, tak peduli seberapa rumit persoalan yang ingin mereka utarakan, dan tak peduli seberapa sulit syarat yang harus mereka lakukan, mereka akan bergegas pamit. Segala jenis keberatan yang ingin mereka tunjukkan akan menyusut menjadi dua kata, yaitu 'terima kasih'. Ini adalah peraturan tak tertulis yang diketakui oleh semua orang, bahkan oleh orang yang baru pertama kali bertemu dengannya. "Aku punya banyak masalah yang hanya selesai kalau aku menjadi dukun." Acay mendesah pelan, dan tidak mengatakan apa-apa. Kali ini, ia diam bukan karena kehabisan kata-kata, melainkan tidak ingin membuang nasehatnya untuk sesuatu yang sia-sia. Gadis itu jelas mengada-ada. Masalah apa yang hanya bisa selesai jika ia menjadi seorang ahli metafisika? Bahkan anak kecil pun tidak akan percaya dengan alasannya. "Pulanglah," ucapnya lagi sambil menyodorkan lebih jauh payung di tangannya saat gadis itu tidak juga mengambilnya. "Pak, aku akan bersedia melakukan apa saja untuk menjadi murid Bapak." Gadis itu sadar bahwa apa pun yang ia katakan tidak akan cukup untuk memggerakkan hati Acay. Namun, ia bukan tipikal orang yang biasa memohon. Ia tidak bisa menyusun kalimat bagus yang bisa menyakinkan orang. Semua usaha terbaiknya hanyalah mengulangi perkataannya lagi dan lagi, bahkan jika harus sampai seribu kali, ia akan melakukannya. Hanya itulah yang ia bisa untuk menunjukkan keseriusannya. Sebenarnya, ia bisa saja menceritakan berbagai pengorbanan yang ia lalui sehingga bisa sampai di sini. Bagaimana ia sudah sering berkunjung ke tempat tinggal Acay, tapi tidak pernah dibukakan pintu. Bagaimana ia sudah ribuan kali memohon kontak pribadi kepada admin official pemegang akun media sosial Acay, tapi tidak pernah ditangapi. Atau bahkan, untuk hari ini saja, ia sampai membolos demi bisa datang ke lokasi syuting yang jauhnya lebih dari seratus kilometer dari sekolahnya, itu belum termasuk seluk beluk perjalanannya, mulai dari salah angkutan umum sampai ditipu oleh tukang ojek yang tidak dikenalnya. Bukan tidak pernah memikirkanya, tapi ia memang tidak ingin menunjukkannya. Ini sudah menjadi kebiasannya. Tak peduli seberapa berat dan sakit, baginya itu hanyalah masa lalu. Ia tak perlu membahasnya. Orang lain hanya perlu tahu inilah ia yang sekarang, ia yang hanya fokus ke masa depan. Meski begitu, bukan berarti ia menutupinya. Siapa pun yang memperhatikannya, sebenarnya bisa melihat jejaknya jika mereka mau. Terlebih, Acay adalah paranormal. Bahkan jika hanya harus berdiri diam, gadis itu yakin Acay sudah mengetahui. Satu-satunya yang ada dipikirannya hanyalah mengeluarkan sepatah kata singkat untuk menghindari kecanggungan. Sayangnya, Acay tidak ingin mengetahuinya. Ia benar-benar mengabaikannya. Bahkan, karena gadis itu tak kunjung menerima payungnya, ia sampai harus meletakkan langsung ke tangannya, lalu bergegas menginjak gas sebelum sempat mendengar protesnya. Dari spion, ia melihat gadis itu jatuh lagi dan lagi. Bukan ia tidak peduli, tapi ia hanya tidak mau melakukan hal yang sama dua kali. Ia sebenarnya tidak tega, dan ingin memberikan tumpangan untuknya, tapi ia sadar itu hanya akan menyulitkannya. Meskipun ia tahu mereka berasal dari kota yang sama, ia memutuskan untuk tetap mengabaikannya. Untungnya, jalanan itu jauh dari pemukiman penduduk, dan ditambah hujan yang turun cukup lebat, membuat orang yang berkeliaran pun juga lebih sedikit. Jadi, tidak banyak yang melihat kejadian ini. Acay merasa, situasi telah menyelamatkan wajahnya. "Saat hujan reda, pasti akan banyak angkot yang berlalu lalang. Kalau dia bisa datang ke sini sendiri, seharusnya dia juga bisa pulang dari sini sendiri." ------------------------------ . .. ... Gimana bab 2 ini? Apa menurut kalian Acay jahat?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN