Rasa khawatirnya akan kondisi Aby membuat Reymond meninggalkan kediaman keluarga ibunya saat itu juga, setelah menerima telepon dari Pak Hadi Sanjaya. “Putraku sakit, Mbah,” katanya, memberi alasan ketika neneknya menahannya untuk tinggal beberapa hari lagi. “Aku harus kembali ke Jakarta. Dia membutuhkanku.” “Janji untuk sering mengunjungi Mbah Uty di sini, ya, Rey,” pinta neneknya seraya mendekapnya erat. “Sekalian bawa istri dan anakmu. Kenalkan mereka pada kami.” Reymond meringis. Wanita tua ini mengira ia telah menikah, padahal anak yang dimaksud olehnya bukan dari hasil pernikahan, melainkan sebuah kesalahan satu malam yang tidak pernah disesalinya. “Doakan putraku lekas sehat, Mbah, agar aku bisa memperkenalkannya pada kalian.” Doakan pula aku dapat memiliki ibunya. Batin Reymon

