Sepanjang perjalanan, Seira dan Jeza hanya diam membisu. Tidak ada percakapan dari dua makhluk yang berbeda jenis kelamin itu. Seira memilih menempelkan pipinya di kaca jendela bus, sedang Jeza memilih terhanyut dengan ponselnya. Entah apa yang ia perhatikan dari benda pipih itu. Saat turun dari kendaraan umum pun, mereka tetap membisu hingga tiba di studio milik Jeza. Mega adalah satu-satunya yang menyambut heboh kedatangan keduanya. “Pak Bos, calon? Wah, cantikkan ini dari yang kemarin. Yang kemarin banyakan dempul sana sini. Itu muka apa tembok.” Mega seperti itu. Meskipun Jeza adalah atasannya, tetap saja di anak buah tidak takut untuk berkata frontal. “Meg,” kata Jeza memanggil. “Lo bikin minum sana. Haus gue.” “Oke. Itu keahlian seorang Mega,” puji Mega untuk dirinya sendiri.

