Jeza menghentikan mobilnya di sebuah gedung yang sama sekali belum selesai dibangun dan juga terlihat seperti diabaikan bertahun-tahun. Sangat sepi dan gelap bahkan Jeza tidak yakin apakah istrinya berada di dalam sana atau tidak. Beruntung karena ia membawa ponsel Riga bersamanya, sehingga bisa ia manfaatkan sedikit untuk menjadi petunjuk tentang arah, tujuan dan juga tentang musuh yang dihadapi. Jeza menyempatkan melirik Iqbal yang sedang sibuk bersiap-siap untuk membenahi diri dengan perlengkapan andalannya. Apa itu? Sebuah kain panjang yang terlilit di telapak tangan layaknya sarung sang petinju yang siap ke atas ring. Iqbal memang selalu berbeda. Tangan kosong saat beraksi adalah menjadi andalan. “Detektif Bara milik gue. Jangan coba sentuh! Lo udah ambil bagian dengan menyingkirk

