Lagi-lagi ruangan yang serba putih yang menjadi tempat tinggal Jeza dan Seira untuk kesekian kalinya. Tidak ada yang bisa mengerti lagi bagaimana takdir berjalan di tengah mereka. Jika dilihat secara detail dari awal, sepertinya takdir memang sangat senang bermain di kehidupan yang serba pas-pasan itu. “Jez, Ganti pakaian lo dan istirahatlah sebentar.” Iqbal menyerahkan paper bag ke Jeza dan menyuruh sang sahabat untuk istirahat sebentar saja. Ia sangat khawatir bukan main ditambah lagi mata Jeza yang sudah sangat memerah dan membengkak. Pakaian yang ia kenakan juga masih belum bersih dari darah. Jeza menatap Iqbal sesaat, lalu kembali fokus pada Seira yang tertidur dengan bantuan alat pernapasan dan juga ada alat detak jantung serta infus yang terpasang di lengan. “Apa Seira akan baik

