Bab 3 - Kebohongan Mama

1122 Kata
*** Sudah hampir satu jam Jenna mencoba menghubungi mamanya, tapi telepon itu tak kunjung diangkat. Perasaan tidak enak menyelimutinya sejak dia pulang tadi. Begitu melangkah masuk ke rumah, langkahnya terhenti. Ruang tamu kacau. Bantal sofa terlempar ke lantai, vas bunga kristal kesayangan mamanya pecah berserakan. Asisten rumah tangga tampak sibuk merapikan sisa berantakan itu. "Ini ada apa, Bik? Kenapa rumah berantakan begini? Apa ada maling masuk?" suara Jenna meninggi, jantungnya berdetak kencang. Tapi logikanya menolak dengan penjagaan seketat ini, maling mustahil bisa masuk. "Bibik juga nggak tau, Non. Tiba-tiba sudah begini… tadi bibik di belakang." Suara sang asisten bergetar, seperti menyimpan sesuatu. Kening Jenna mengernyit. Aneh. Tidak mungkin ada kekacauan sebesar ini tanpa suara ribut sama sekali. "Mama mana?" Pertanyaan itu lolos begitu saja. Asisten itu terdiam. Pandangannya gelisah, tapi bibirnya terkunci. Jenna tak menunggu jawaban, kakinya langsung berlari menuju kamar sang mama. Saat pintu terbuka, tubuh Jenna seakan kehilangan tenaga. Kamar itu lebih berantakan dari ruang tamu. Laci-laci terbuka, isi lemari pakaian berhamburan, kaca rias hancur dengan pecahan yang berkilau di lantai. Aroma parfum mamanya bercampur dengan bau logam samar, membuat bulu kuduk Jenna berdiri. "Mama…" gumamnya parau, segera menekan nomor sang mama lagi. Untuk kesekian kalinya, tak ada jawaban. Pikiran buruk berkelebat. Apa mama dan papa bertengkar lagi? Sampai seberat ini? Tapi kenapa sampai menghancurkan kamar? Jenna buru-buru mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Arga. Arga baru saja turun dari mobil ketika notifikasi masuk. Pesan dari Jenna. Hanya beberapa kata singkat, tapi cukup untuk membuat langkahnya membeku 'Arga, Mama aku hilang' 'Hilang gimana maksudnya' 'Aku nggak tau apa yang terjadi. Tapi kondisi rumah berantakan. Aku udah cari mama kemana-mana tapi nggak ketemu. Pas aku telfon juga gak ada jawaban' 'Kamu tenang dulu. Aku ke sana sekarang. Kita cari mama kamu bareng-bareng' Tanpa pikir panjang, Arga langsung mengarahkan mobilnya menuju kediaman keluarga Jenna. Jalanan malam itu terasa panjang, padahal ia sudah menekan pedal gas lebih dalam dari biasanya. Pikiran buruk terus berputar di kepalanya. Sesampainya di halaman rumah Jenna, suasana langsung terasa ganjil. Lampu-lampu rumah memang menyala, tapi ada hawa dingin yang menekan. Arga bergegas masuk, menemukan Jenna yang berdiri di depan pintu kamar mamanya dengan wajah pucat. "Arga…" suara Jenna bergetar, matanya merah menahan tangis. "Mama nggak ada. Kamu lihat, semua berantakan." Arga menatap sekeliling kamar yang kacau. Ia menarik napas dalam, berusaha tetap tenang. "Kamu udah coba telepon lagi?" "Udah… tapi nggak diangkat. Nomornya aktif, cuma nggak dijawab." Arga langsung mengeluarkan ponselnya. "Kita coba lacak aja lewat GPS. Nomor Mama kamu masih bisa dideteksi, kan?" Jenna mengangguk cepat, tangannya gemetar ketika menyerahkan ponsel yang sudah membuka aplikasi pelacak. Titik lokasi muncul, masih di sekitar kota, tapi jelas bukan di rumah. "Mama ada di sini?" Jenna menunjuk layar dengan bingung. Arga menatap titik itu, rahangnya menegang. "Lokasinya jalan terus. Kita harus segera nyusul sebelum ponselnya dimatiin." Tanpa banyak bicara lagi, Arga menggenggam tangan Jenna. "Ayo, kita cari Mama kamu sekarang." Mereka berdua berlari menuju mobil Arga, meninggalkan rumah yang masih berantakan dengan pertanyaan besar menggantung di kepala. *** Mobil Arga melaju pelan mengikuti petunjuk GPS yang ada di ponselnya. Layar ponsel menunjukkan titik merah kecil yang berhenti di sebuah kawasan perumahan lama, agak jauh dari pusat kota. Sepanjang jalan, d**a Jenna terasa sesak. Antara cemas, takut, dan berharap. "Masih di sini, kan?" tanya Arga sambil sesekali melirik peta digital. Jenna menelan ludah, matanya tak lepas dari ponsel. "Iya... sinyalnya stabil. Kayaknya mama nggak jauh lagi dari sini." Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah rumah dengan pagar besi sederhana yang dipenuhi tanaman rambat. Lampu teras menyala redup, menimbulkan kesan tenang namun asing bagi Jenna. "Ini.... rumah siapa?" gumam Jenna lirih. Ia benar-benar tak mengenali tempat itu. Arga ikut menatap rumah tersebut dengan alis berkerut. "Aku juga, tapi titiknya berhenti di sini." Jenna menggenggam Arga semakin erat, langkahnya terasa berat ketika keluar dari mobil. Ada perasaan ragu menyelinap di dadanya. Rumah itu asing, tapi entah kenapa terasa hangat dan aman. Arga menatapnya, mencoba memberi dorongan. "Kita tanya dulu ya." Jenna mengangguk pelan, meski jelas terlihat tangannya bergetar. Ia menghela napas panjang lalu melangkah menuju pintu rumah yang tak lama kemudian akan membuka jawaban tentang di mana ibunya berada. Jenna menatap pintu kayu itu lekat-lekat, jantungnya berdegup kencang. Tangannya sempat ragu sebelum akhirnya mengetuk pelan. Suara ketukan terdengar jelas di tengah malam yang sunyi. Tak lama kemudian, pintu terbuka perlahan. Seorang perempuan paruh baya muncul. Wajahnya lembut, namun terlihat sedikit terkejut melihat Jenna berdiri di depan rumahnya. "Jenna…?" suara itu lirih, seolah mengenalinya. Jenna mengerjap bingung. Dari mana perempuan asing itu tahu namanya? Bahkan Jenna sendiri belum pernah bertemu perempuan itu. "Tante… maaf, ini rumah siapa ya? Aku, aku lagi cari Mama. Pas aku lacak keberadaan Mama. Ternyata Mama ada di sini." Perempuan itu menatap Jenna dengan iba, lalu membuka pintu lebih lebar. Dari dalam rumah, samar-samar terdengar suara isakan yang sangat familiar bagi Jenna. "Masuk dulu, Sayang. Mama kamu ada di sini." Arga dan Jenna saling berpandangan. Ada rasa lega sekaligus getir menyergap d**a Jenna saat ia melangkah masuk. Begitu melewati ambang pintu, barulah ia sadar siapa perempuan itu. Jenna, pernah melihat wajah perempuan itu ada di album foto mamanya. Perempuan itu pasti teman baik mamanya. Dengan langkah gemetar, Jenna mendekati sosok perempuan yang tengah terisak di ruang tamu. Tanpa berkata sepatah kata pun, ia langsung menjatuhkan diri dalam pelukan ibunya. "Mama…" suaranya pecah, hampir tak terdengar. Ratna terkejut merasakan dekapan itu. Tangisnya seketika terhenti. Aroma lembut parfum yang begitu dikenalnya membuat hatinya mencelos. Dengan mata sembab, ia perlahan berbisik, "Jenna?" "Mama kenapa di sini? Apa yang sebenarnya terjadi?" Jenna menatapnya penuh cemas, matanya basah. Namun alih-alih menjawab, Ratna justru balik bertanya dengan suara bergetar, "Kenapa kamu bisa ada di sini, Jenna? Kamu sama siapa?" Pandangan Ratna terarah ke pintu. Saat melihat Maya berdiri bersama seorang pemuda yang sangat dikenalnya---Arga---napasnya tercekat. Seakan semua pertanyaan di kepalanya langsung terjawab. "Mama.... Mama baik-baik aja, kan? Apa yang Papa lakuin? Papa nyakitin Mama?" Ratna buru-buru menggeleng, meski air matanya tak kunjung berhenti. "Enggak, sayang... jangan pikir macam-macam. Mama baik-baik saja." Tapi kebohongan itu terlalu kentara. Sorot matanya yang berkaca-kaca, jemari yang bergetar, dan isakan yang terus tertahan justru mengkhianati ucapannya. Ratna berusaha keras menutupi luka batinnya, karena ia tahu, putrinya sudah cukup menderita. Jenna tak boleh tahu betapa hancurnya rumah tangga yang ia pertahankan mati-matian. Jenna mengguncang bahu Ratna, emosi dan rasa takut bercampur jadi satu. "Mama jangan bohong sama aku! Aku lihat sendiri rumah berantakan, aku tahu ada sesuatu! Apa Papa nyakitin Mama?!" Ratna memalingkan wajah, tak sanggup menatap mata putrinya. Ia menggigit bibir, menahan kata-kata yang ingin meledak keluar. Rahasia itu terlalu pahit untuk diungkapkan. Maya maju satu langkah, menaruh tangan di bahu Ratna, mencoba menenangkannya. Sementara Arga berdiri kaku di ambang pintu, menatap Jenna yang hampir hancur melihat ibunya terpuruk begitu dalam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN