Hari terakhir mereka bertemu

1211 Kata
Sudah seminggu sejak kejadian itu, Dea menjadi sangat dingin dengan Rizal. Perubahan sikap Dea pun di rasakan juga oleh orang tua Rizal. Annisa merasa Dea semakin hari semakin menjauh dari anaknya. Annisa sedih jika membayangkan bagaimana nanti ketika Dea pergi dari hidupnya. Sejujurnya Annisa tak siap kehilangan menantu kesayangan nya itu. Maka dari itu, ia selalu memikirkan segala cara agar anak dan menantunya itu tidak jadi berpisah. "Aku tidak bisa berdiam diri seperti ini, aku harus mencari cara lagi, agar menantu dan anakku tidak jadi berpisah. Jika perlu, aku akan memberikan semua saham dan investasi ku kepada wanita itu!" ucap Annisa penuh tekad, Annisa mengambil tasnya dan keluar dari kamarnya. Saat Annisa turun dari kamarnya, ia berpapasan dengan menantu kesayangan nya. "Mom, mau kemana?"tanya Dea ketika melihat Annisa membawa tas. "Eh, mommy mau ketemu teman sayang."jawab Annisa, Dea menyipitkan matanya. Wanita itu sedikit tidak percaya dengan ucapan mertuanya itu. "Teman yang mana mom?"tanya Dea lagi dengan penasaran, Annisa tersenyum geli. "Ya, teman mommy kan banyak Dea. Hahaha, sudahlah mommy mau pergi dulu."setelah itu Annisa langsung pergi bersama dengan sopirnya. "mommy, ingin kemana ya. Kenapa perasaan ku tidak enak ya?"gumam Dea. Sedangkan itu, Annisa sedang menatap jalanan. Hari ini ia bertekad untuk membujuk keluarga elin agar membatalkan kesepakatan mereka dengan suaminya. Ia akan memberikan semua saham dan investasi miliknya jika perlu. Beberapa menit kemudian mobil nya sampai di sebuah rumah sederhana. "Pak, berhenti di sini,"Annisa berbicara dengan sopirnya, ketika tangan Annisa hendak membuka pintu mobil ntah mengapa tiba-tiba ia mengurungkan nya dan menoleh kearah sopirnya, "Oh ya, bapak ikut keluar juga ya,"imbuh Annisa. Barulah setelah itu ia keluar dari mobilnya. Annisa keluar dari mobilnya dengan di ikuti sopirnya di belakangnya. "Huftt.. tenang Annisa,"ucap Annisa pada dirinya sendiri. Tok tok tok Setelah itu, Annisa mengetuk pintu rumah tersebut. Ceklek Pintu pun terbuka dan menampilkan seorang wanita yang mungkin seumuran dengannya. Annisa tersenyum pada wanita itu, "Selamat siang, boleh saya masuk?"sapa Annisa, wanita itu tak ingin berbasa-basi terlebih dahulu. Wanita yang membukakan pintu itu tersenyum sinis dengan sikap Annisa. "Untuk apa anda kemari!"ketus wanita itu, saat mendengar ucapan ketus wanita didepannya senyum Annisa menghilang. "Bisa kita bicara di dalam! saya ingin berbicara penting dengan kalian semua!"tegas Annisa. "Bicara saja disini!"sahut wanita itu, dengan nada yang tidak bersahabat. "Apakah anda yakin? bagaimana jika tetangga anda mendengar bahwa elin adalah orang ketiga dalam rumah tangga anak saya,"ucap Annisa dengan penuh penekanan. Ya, wanita yang sedari tadi berdebat dengan Annisa adalah ibunya elin. "Kau!"teriak ibu elin dengan marah, Annisa tersenyum penuh kemenangan. "Cepatlah masuk! Dan jangan lama-lama kau disini!"lanjut ibu elin lagi, wanita itu mempersilahkan Annisa dan sopirnya masuk ke dalam rumah. Setelah Annisa masuk ke dalam, ia dan sopirnya duduk di ruang tamu. Sedangkan ibu elin, ia memanggil elin dan suaminya. Beberapa saat kemudian, ibu elin datang dengan elin dan ayahnya di belakang. Mereka bertiga duduk berhadap-hadapan dengan Annisa. "Baiklah karena kalian sudah berkumpul, saya akan langsung mengatakan maksud saya–"Annisa menjeda ucapannya dan mengambil sesuatu dari tasnya. "Batalkan kesepakatan kalian dengan suami saya, Kalian tenang saja saya akan memberikan kompensasi yang besar untuk elin. Dan jika memang benar anak yang di kandung elin adalah bagian dari keluarga Prajawinata saya akan memasukkan anak tersebut ke daftar ahli waris, Bagaimana bukankah ini sangat menguntungkan untuk kalian!" jelas Annisa, Saat itu ayah elin sangat marah dengan tindakan Annisa. Ia berdiri dari duduknya, "Apa maksud anda! Kami bukan keluarga gila harta, kami tidak butuh uang anda."murka ayah elin. "Pergi anda dari rumah saya! Cepat pergi! atau saya seret anda keluar,"teriaknya lagi, Annisa tertegun ia merasa jika ucapannya tidak salah. Lalu kenapa ayah elin harus berekspresi seperti itu. "Saya tidak akan pergi sebelum anda menerima semua tawaran saya!"seru Annisa, ayah elin sangat marah dengan tingkah Annisa yang sombong itu. Dia mencoba menghampiri Annisa dan hendak menyeretnya keluar, namun sopir Annisa serta elin menghalangi dirinya. "Pak, jangan pak hiks, hiks, sudah pak jangan!"Elin memeluk ayahnya dan menangis. Ia melarang ayahnya berbuat kasar kepada seorang wanita. "Nyonya, sudahlah mari kita pulang. Jangan buat keributan disini nyonya,"sopir Annisa membawa Annisa keluar dari rumah elin. Sebelum keluar, Annisa menatap tajam elin lalu berkata, "Jika suatu saat kamu menikah dengan anak saya, saya pastikan pernikahanmu akan menjadi neraka bagimu!" Annisa mengatakan itu seperti seseorang yang tak mempunyai hati. "Hiks, hiks, hiks,"elin menangis di pelukan ayah dan ibunya. "Dasar wanita tidak punya hati. Bagaimana mungkin dia tega berbicara seperti itu!"sungut ibu elin, ibu elin mengelus rambut anaknya dan menenangkan nya. "Aku berharap engkau memberikan jalan keluar untuk masalah anakku ya allah,"batin ayah elin, laki-laki tua itu memeluk anaknya dengan erat. Tak bisa ia pungkiri ketakutan akan ucapan Annisa membayang-bayangi nya. Di mobil, Annisa sangat kesal dengan tindakan sopirnya itu. Ia menatap sopir nya dengan tajam. "Pak Irfan, kenapa menghalangi saya sih!"gerutu Annisa, sopir itu tersenyum ramah kepada majikannya itu. Sudah 29 tahun ia mengabdikan diri pada majikannya itu, maka dari itu ia tadi berani bersikap seperti itu pada Annisa. "Jika saya tidak menghalangi anda, mungkin saja anda babak belur dengan laki-laki tadi nyonya. Ini semua demi kebaikan anda,"ucap Irfan sopir Annisa. "Haa.. "Annisa menghela nafasnya, ia menyandarkan tubuhnya di jok mobil. "Apakah sikap saya tadi keterlaluan pak?" tanya Annisa dengan lirih. Irfan lagi-lagi tersenyum, "Bagi seorang ayah yang mempunyai anak perempuan, mungkin ucapan anda sangat-sangat melukainya nyonya. Seharusnya anda tidak mengucapkan kata-kata yang seperti itu, Karena bagi laki-laki tadi. Anda sama saja menganggap anaknya seperti seorang p*l*c*r yang gila akan harta."ujar Irfan, Annisa termenung ia baru menyadari bahwa tindakannya tadi sangat keterlaluan. "Astagfirullah, lalu apa yang harus ku lakukan pak. Aku benar-benar tidak berpikir panjang saat mengucapkannya tadi,"sesal Annisa, rasa bersalahnya mulai menguasai dirinya. "Jika emosi dari beliau sudah mereda ada baiknya anda meminta maaf terlebih dahulu nyonya,"usul Irfan. "Hmm, bapak benar. Terimakasih atas nasihatnya pak, oh ya jangan bilang kepada siapapun tentang kejadian ini."ucap Annisa kepada Irfan, ia tak ingin jika masalah dirinya bertemu dan membuat keributan dengan keluarga elin didengar oleh keluarga nya. "Ya, nyonya tenang saja. Saya akan merahasiakan semuanya dari siapapun,"balas Irfan, mereka terus mengobrol sehingga tidak terasa mereka berdua pun sudah sampai ke rumah. Annisa turun dari mobilnya, ia berjalan masuk ke dalam rumahnya. Saat Annisa hendak berjalan ke tangga menuju kamarnya, Dea menghentikan nya. "mom, sudah pulang. Kok lama sekali, Dea pikir cuma sebentar."Dea menghampiri Annisa dan menyalami nya. "Iya, tadi jalan nya lumayan macet nak," ucap Annisa, Annisa terus memandangi wajah menantunya itu. Rasa takut kehilangan terus menerus membayangi Annisa. "Mom, kenapa?"tanya Dea ketika melihat wajah wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri itu berubah menjadi sendu. "tidak apa-apa kok, Ya sudah mommy capek. Mau istirahat dulu ya,"pamit Annisa, Dea menganggukkan kepalanya. Annisa pun berjalan ke atas dan menuju kamarnya. Begitu juga dengan dea, wanita itu memilih masuk saja ke kamarnya. Sedangkan itu, mereka berdua tidak tahu. Jika hari ini adalah hari terakhir mereka berdua bertemu. Ya, hari ini Jakson dan Mark sedang bersiap-siap untuk membawa Dea berangkat ke Perancis. Karena desak kan dari kakek dan neneknya, Jakson menyuruh mark mempercepat semua surat-surat Dea. Dan berkat koneksinya, Mark berhasil menyelesaikan semuanya. Saat ini Mark dan Jakson tengah mengendarai mobil mereka menuju ke rumah Prajawinata. Jakson memegangi sebuah foto yang terdapat seorang anak perempuan dan anak laki-laki. Foto itu adalah foto dirinya bersama dengan Dea adiknya. "Kita akan segera bertemu my little girl,"gumam Jakson sambil menatap foto tersebut,
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN