Airin duduk di balkon kamarnya di depan laptopnya yang menyala dengan mengenakan kacamata berbingkai bulat. Ia sudah berada di sana sejak hampir 2 jam yang lalu, namun lembar kerja Microsoft Word-nya masih kosong.
"Astaga, aku bisa gila!" Airin mengacak-acak rambutnya yang diikat dengan asal itu hingga menjadi lebih berantakan dari sebelumnya. Suara tangisan Riu yang sangat kencang terdengar di seluruh penjuru rumah itu, membuat Airin yang memang sedang kacau itu menjadi semakin kacau.
"Apa kau tidak bisa mendiamkannya?!"
Arthur yang berlutut di bawah tempat tidurnya di hadapan Riu yang terus menangis di atas tempat tidur, menolehkan kepalanya saat tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Airin berdiri di sana, menatapnya dengan tidak bersahabat saat menambahkan, "Suruh anak itu untuk diam! Suara tangisannya benar-benar membuat kepalaku sakit!"
"Kau pikir aku tidak menyuruhnya untuk diam sejak tadi?" sahut Arthur terdengar sama kesalnya dengan Airin. Ia lalu menatap Riu dan membentaknya. "Apa kau tidak lelah terus menangis?! Kau tidak akan kembali pada mamamu meski kau menangis sekeras apapun! Kau akan terus bersamaku! Karena itu berhentilah menangis!"
Riu meremas selimut dengan kedua tangannya dan menangis semakin kencang, terlihat sangat ketakutan. Terlebih saat Arthur yang sedang kesal itu meraih jam digital yang berada di atas nakas sebelah tempat tidur dan membantingnya dengan keras ke dinding hingga benda tersebut hancur.
Airin yang masih berdiri di ambang pintu hanya melihatnya dalam diam sambil mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Tatapannya lalu bertemu dengan Riu yang juga tengah menatapnya dengan kedua mata berlinangan air mata. Anak itu sepertinya ingin minta tolong padanya namun merasa takut karena tadi ia mendengar bentakan Airin pada Arthur.
"Astaga..." Airin menundukkan kepalanya dan mengusap-usap wajah dengan kedua telapak tangannya. Kakinya mulai melangkah, mendekati tempat tidur di mana Riu berada. Tanpa mempedulikan tatapan Arthur ia menaiki tempat tidur dan duduk di sebelah Riu. Kedua tangannya terulur dan dengan lembut menghapus air mata yang membanjiri wajah anak itu.
"Apa yang kau inginkan?" Airin berusaha sangat keras untuk menekan emosinya dan bertanya dengan lembut pada Riu.
"Mama..." lirih Riu di sela-sela tangisnya. "Mama... Pulang..."
Airin menurunkan kedua tangannya pada punggung kecil Riu dan membawa tubuh anak itu ke dalam dekapannya. "Maafkan aku," bisiknya seraya menepuk-nepuk punggung Riu dengan lembut. "Tolong jangan menangis lagi. Tidurlah, ini sudah malam."
Riu masih terus memanggil-manggil mamanya sambil menangis. Hingga akhirnya entah karena merasa lelah atau karena merasa nyaman dengan dekapan Airin, anak itu akhirnya tertidur. Airin menidurkannya di tengah-tengah tempat tidur lalu menyelimutinya. Jari-jarinya bergerak di wajah Riu untuk menyeka air matanya.
"Kau harus menyiapkan s**u untuknya. Anak kecil biasanya selalu bangun saat tengah malam karena lapar." Airin berkata tanpa menatap Arthur hingga ia tidak tahu saat Arthur mengangguk padanya.
Kamar yang sebelumnya dipenuhi oleh suara tangisan Riu itu tiba-tiba terasa sangat hening. Arthur masih duduk di lantai, bersandar pada tempat tidurnya dengan kepala tertunduk dalam. Ia memikirkan banyak hal yang membuat kepala dan dadanya terasa sangat sesak. Cinta pertamanya yang hilang dan tiba-tiba kembali dengan membawa seorang anak. Membawa anaknya, anak yang selama 3 tahun ini tidak ia ketahui keberadaannya. Tanpa ia sadari sejak 3 tahun yang lalu ia telah menjadi seorang ayah, namun sekarang ia sama sekali tidak siap dengan kenyataan itu.
Bunyi pergerakan Airin yang turun dari tempat tidurnya membuat Arthur mengangkat kepala. Tatapan mereka bertemu dengan cara yang membuat keduanya merasa sakit.
"Aku tidak pernah membayangkan ini sebelumnya. Suamiku akan membawa anak dari wanita lain di hari ketiga pernikahan kami," kata Airin. Wanita itu lalu tersenyum kecut dengan kedua mata yang terlihat berkaca-kaca. "Bahkan meski kita tidak saling mencintai, ini tetap menyakitiku. Pernikahan ini... Tidakkah kau sangat keterlaluan? Ini baru 3 hari, Arthur. Hadiah pernikahan kita bahkan belum dibuka dan kau memberiku kejutan yang sangat luar biasa ini."
Arthur menarik napas panjang saat Airin memalingkan wajah darinya. Ia sudah terlanjur melihat air mata Airin sebelum wanita itu memalingkan wajahnya dan menghapus air matanya dengan kasar.
"Maafkan aku."
Airin mengepalkan kedua tangannya saat mendengar permintaan maaf Arthur. Ia kembali menatap pria itu sambil mengeraskan rahangnya, mencoba menahan amarahnya yang sudah memuncak mengingat ada Riu yang baru saja tidur setelah menangis selama berjam-jam. "Kau minta maaf untuk apa?"
Arthur tidak langsung menjawab. Ia juga bingung permintaan maafnya itu untuk apa. Ia hanya merasa harus minta maaf saat melihat wanita yang berstatus sebagai istrinya itu menangis. "Aku tidak akan menahanmu untuk menceraikanku, Airin."
Airin mengerjapkan matanya dengan mulut sedikit terbuka, menatap Arthur dengan tatapan tak percaya. Suami yang 3 hari lalu mengikat janji suci sehidup semati bersamanya itu sekarang sedang menawarkan perpisahan padanya.
"Baiklah." Airin menganggukkan kepalanya lalu mundur selangkah. Ia menatap Arthur, dengan kedua matanya yang berkabut. "Mari kita akhiri ini. Segera ceraikan aku."
Wanita itu kembali mundur selangkah sementara Arthur hanya menatapnya dalam diam. Tidak terlihat senang atau sedih, ekspresi pria itu benar-benar tidak terbaca. Sekali lagi Airin menganggukkan kepalanya untuk meyakinkan dirinya atas keputusan yang telah ia ambil untuk berpisah dari Arthur sebelum membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan kamar itu dengan langkah-langkah lebar.
Airin menghentikan langkahnya di anak tangga ketiga saat ia merasa dadanya yang sangat sesak itu membuatnya tidak sanggup lagi melangkah. Di ruangan yang gelap itu ia duduk di tangga dan menutup mulut dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya berpegangan erat pada pegangan tangga.
Tatapan Airin jatuh pada bungkusan besar yang disandarkan di dinding ruang tengah. Itu adalah foto pernikahan mereka yang baru sampai ke rumah ini pagi tadi sebelum ia dan Arthur berangkat ke bandara. Mereka tidak sempat membukanya dan berencana memajang foto itu setelah kembali dari bulan madu di Paris.
Airin tidak bisa mengontrol dirinya, bahkan meski ia telah menggunakan kedua telapak tangannya untuk menutup mulutnya suara isakannya masih terdengar sangat jelas.
Airin tidak pernah membayangkan akan menikah di usianya yang baru 25 tahun ini, saat ia masih ingin menikmati masa mudanya untuk bersenang-senang dan mewujudkan mimpinya. Ia tidak pernah membayangkan akan menikah dengan Arthur yang sebelumnya sama sekali tidak pernah ia kenal. Ia bahkan masih tidak percaya jika di usianya ini yang menurutnya belum waktunya untuk menikah itu ia telah memakai gaun pernikahan, berjalan di altar, mengucap janji pernikahan, dan menjadi istri dari seseorang.
Ia masih belum percaya jika ia telah menjadi Nyonya Arthur saat kenyataan lain yang lebih mengejutkan dan lebih sulit untuk dipercaya menghampirinya. Suaminya membawa seorang anak ke rumah baru mereka. Suami 3 harinya yang memiliki anak berusia 3 tahun dengan wanita lain. Dan suaminya itu kini menawarkan perceraian pada dirinya yang baru 3 hari menyandang status sebagai seorang istri.
Airin memang tidak menginginkan pernikahan ini. Sama sekali tidak. Namun sekarang, ia takut pada perceraian yang telah dipilihnya itu. Pernikahan mereka baru 3 hari. Apa ia harus menjadi janda secepat ini di usia semuda ini? Apa yang akan ia katakan pada orang tuanya? Apa yang akan ia katakan pada orang-orang?
Menjadi seorang istri di usia 25 tahun saat teman-teman seusianya masih asyik bermain-main dan bersenang-senang sudah cukup memalukan bagi Airin. Lalu bagaimana ia akan menghadapi semua orang sebagai seorang janda berusia 25 tahun yang hanya memiliki pernikahan berumur 3 hari?
Arthur meletakkan gelasnya di atas meja makan setelah menghabiskan isinya. Suara isakan Airin yang berasal dari tangga itu sampai ke telinganya. Namun apa yang bisa ia lakukan sekarang? Ia tidak bisa menahan Airin untuk terus bersamanya dengan statusnya yang memiliki seorang anak. Sama seperti dirinya, wanita itu pasti tidak siap untuk menjadi orang tua. Terlebih itu bukan anaknya sendiri.
"Kau sial sekali, Airin. Kau sial sekali."
Arthur mencengkeram tepian meja makan dengan kedua tangannya saat mendengar u*****n lirih Airin. Tentu saja, wanita itu pasti merasa sangat sial dengan perjodohan ini. Maka dari itu, perceraian memang jalan yang terbaik. Jalan yang paling baik untuk mengeluarkan Airin dari kesialannya itu.
“Aku sudah melepaskanmu, Airin,” lirih Arthur tanpa ada siapapun yang bisa mendengar perkataannya itu. “Aku sudah membebaskanmu dari kesialan yang telah mengikatmu bersamaku. Karena aku tidak akan ada lagi dalam hidupmu, maka kau harus jadi lebih bahagia, Airin.”
**To Be Continued**