BAB 2

1413 Kata
“Sebagaimana disebutkan dalam Surah Al – Baqarah, perempuan yang telah di talak tiga tidak boleh rujuk dengan suami yang menceraikannya kecuali setelah dinikahkan laki – laki lain. Jadi, Ibu Mayra wajib menikahi muhallil atau laki – laki lain sebelum rujuk dengan Pak Rio. Begitu.. sampai sini ada yang masih belum paham?” mediator pengadilan agama yang mereka temui siang itu mengakhiri penjelasannya. Mayra mengangguk tanda mengerti. Sementara Rio masih cemberut. Dahinya tidak berhenti mengkerut. “Bentar – bentar, Pak.. kalau misal saya bayar lelaki lain gitu bisa gak?” Mayra terbelalak. Bisa – bisanya Rio punya pikiran seperti itu. Bapak setengah baya di hadapannya menghela nafas sembari memperbaiki posisi kacamatanya. “Tidak bisa, Pak.. jika Bapak ingin rumah tangga Bapak penuh marwah, sebaiknya ambil jalan yang jujur dan benar saja,” suaranya yang lembut meneduhkan hati, tapi tidak dengan Rio. Lelaki itu langsung memalingkan muka dari Pak Mediator. “Ada yang belum jelas?” beliau menekankan lagi, “Iya, Pak.. kami sudah paham.. terima kasih ya, Pak, atas waktunya.. kami pamit dulu..” Mayra beranjak dari kursi sembari mencolek punggung Rio agar segera keluar. “Iya.. Mbak.. mari.. mari” Mayra melangkahkan kakinya keluar menuju parkiran mobil. Segala pertanyaan yang tertahan di kerongkongannya ingin segera ditumpahkan pada lelaki bayi itu. “Kenapa sih kamu nggak bisa jaga perkataan?” Mayra membalikkan badan ke arah Rio. Matanya terkejut melihat reaksi dadakan Mayra. “Lu tau Bimo? Dia kemarin ke rumah mama minta kerjaan. Tapi mama kan emang lagi nggak butuh orang. Gue pikir kita bisa bayar dia jadi muhallil. Makanya gue nanya gitu tadi. Gua lebih rela elu sama sepupu kampung gue daripada sama lelaki lain,” “Tapi Bimo kan udah punya istri, Mas..” Mayra menggelengkan kepalanya, tidak mengerti dengan jalan pikiran Rio. “Iya, sih.. tapi nanti kan kalian cerai juga,” “Engga.. engga, Mas.. aku nggak mau nyakitin hati wanita lain. Pokoknya aku mau cari sendiri dan jangan pernah ikut campur,” sahut Mayra, hatinya kesal memikirkan Rio yang selalu berpikir pendek. Kedua bola mata Rio berusaha membaca pikiran Mayra. Ada perasaan cemburu, tapi mau bagaimana lagi, apapun caranya ia harus rujuk dengan Mayra. “Terserah kamu, deh.. tapi awas aja lu kalo jatuh cinta sama laki – laki muhallil-mu itu.” gerutu Rio, tangan kirinya sibuk merogoh koceknya untuk mengambil kunci mobil. “Liat aja nanti..” *** Sebuah mobil wrangler hitam keluaran terbaru melesat dengan gagah ke parkiran hotel bertaraf internasional. Sosok lelaki tampan dengan jambang tipis nan rapi dan berperawakan tinggi kekar keluar dari mobil dan berjalan menuju lobby hotel. Seorang bellboy berseragam rapi membukakan pintunya dan menyambut lelaki itu dengan ramahnya. Hawa dingin menyusup di setiap tubuhnya saat memasuki lobby hotel bernuansa klasik. Ia lalu berjalan ke ballroom yang telah ramai dipenuhi alumni SD Al – Azhar yang saling berbincang membicarakan pekerjaan dan kehidupan rumah tangga masing – masing. “Pak Raka, apa kabar? Sibuk ngapain nih? Sampe nggak pernah ngeluangin waktu mampir rumahku” sapa Dewa, sahabatnya itu tiba – tiba menyambutnya dengan pelukan hangat. “Sibuk bangun kerajaan bisnis, dong,” belum juga sempat menjawab, Vina, istri Dewa sekaligus sahabat SMA – nya tiba – tiba menyahut Dewa yang membuat senyum Raka kian merekah. Kerinduannya pada dua sahabatnya itu terpancar cerah di garis senyumnya. Sudah dua tahun lamanya Raka tidak pernah mampir ke rumah Dewa saat pulang ke Jogja. Maklum, kesibukannya menjadi General Manager resort mewah di Bali membuatnya tidak punya waktu banyak untuk sekedar bercengkerama dengan mereka. “Wahh, Vin.. gemukan sekarang,”, celoteh Raka ngasal, yang langsung ditimpali bibir manyun Vina. “Hahahaha.. kalo aku yang bilang gitu langsung disuruh tidur di atap rumah,”, sahut Dewa. Gelak tawa pecah diantara mereka bertiga. Sungguh momen yang sangat dirindukan Raka. Kemudian mereka bertiga mencari tempat duduk dan mulai membicarakan segala hal. “Berarti occupancy hotelmu bisa serame itu karena kamu merekrut marketing dari online travel agent ya?”, tanya Dewa sembari menyeruput orange juice yang tinggal setengah gelas. “Iya.. koneksi mereka udah nggak diragukan lagi,” “Bener juga, ya..” mata Dewa mengawang – awang, sepertinya ia sedang membayangkan bagaimana kalau ia menerapkan cara sahabatnya itu ke perusahaan keluarganya. Raka mengangguk sembari melihat sekeliling. Lelaki itu memang jarang berbicara jika tidak ditanya. Bahkan dengan sahabatnya sekali pun. “Temen – temen kelas A mana nih? Dari tadi aku belum liat mereka?”, tanya Raka. Matanya memutar ke setiap sudut ballrom yang dipenuhi sekelompok alumni SD Al – Azhar yang bergerombol. “Mereka janjian dateng jam 7 malam, biar agak sepi gitu..”, jawab Vina. Mulutnya sibuk mengunyah salad buah. Sejenak kemudian mereka terdiam. Vina yang sudah selesai mengunyah salad lalu dengan sengaja menyenggol sikut Dewa. Dewa yang menyadari itu langsung melirik Raka dan berdehem. Mereka sepertinya saling menyimpan rahasia yang ingin segera diungkapkan pada Raka. “Ka.. kamu masih single?” tanya Dewa. Matanya menelisik jawaban Raka. Sayangnya lelaki berhidung mancung itu hanya senyum – senyum tidak jelas. “Kamu masih... ” tiba – tiba wajah Raka merah padam. Raut wajahnya menunjukkan bahwa ia tidak ingin Vina melanjutkan ucapannya. “Ngarepin Mayra?..” tembok hatinya roboh mendengar nama wanita itu. Telinganya tidak siap, bahkan tidak pernah siap jika orang lain mengucapkan nama wanita yang melekat begitu dalam di hatinya selama sepuluh tahun. “Kenapa sih dulu nggak kamu ungkapin aja perasaanmu ke dia?,” Raka mengangkat bahunya mendengar pertanyaan Dewa. Kata – katanya tercekat di tenggorokan, tak mampu ia keluarkan. “Gimana mau ngungkapin, Sayaaanngg.. Mayra nggak pernah sempat single, seminggu putus sama anak basket, terus pacaran sama ketua osis.. gonta – ganti teruuss.. sahabatmu ini juga introvert banget, mana berani ungkapin perasaan ke cewek paling cantik se - SMA Perdana,” timpal Vina. Seketika semburat kabut di kedua mata Raka mengaburkan pandangannya. Spontan ia mengingat – ingat postingan Mayra yang sering ia lihat di i********:. Banyak sekali foto wanita itu yang memamerkan kemesraannya dengan suaminya. Ia sebenarnya sakit hati melihat kemesraan mereka, tapi ia tidak punya pilihan lain, hanya itu caranya menuntaskan rindu padanya. “Aku duluan ya.. ada janji sama klien, nih,” kata Raka sambil beranjak dari kursinya. Ia tidak ingin kedua sahabatnya itu mendapati dirinya berkaca – kaca. “Tunggu dulu, Ka.. ada yang ingin kita bicarakan tentang Mayra” Raka terperangah, matanya bergulir melihat Vina. Wanita bertubuh kurus itu mengangguk pelan. Yang artinya, dia bersungguh – sungguh dengan apa yang akan dikatakannya. “Tentang apa,?” suaranya parau, terdengar seperti sedang menyembunyikan kesedihan mendalam. Lelaki itu perlahan duduk di kursi dan Vina mulai melepas lengannya. Vina mulai melirik Dewa dan menghela nafas panjang sebelum berbicara, “Sekar, konten kreatorku yang baru join 2 bulan, sebelumnya pernah kerja dengan Mayra dan suaminya.. dia nggak betah kerja di sana karena Rio, suami Mayra sering marah tanpa sebab dan juga kasar. Dia juga bilang, mereka berdua bukan lah pasangan serasi seperti postingan mereka di i********:. Dan yang bikin aku terkejut lagi, Mayra sering dikasari sama suaminya. Maaf aku harus bilang gini, aku cuma mau bilang.. mungkin kamu masih punya kesempatan untuk mendapatkan cinta pertamamu.” Vina langsung menghela nafas panjang. Seketika air mata Raka jatuh tidak terencana. Ia mengepal tangannya yang terus bergetar. Bukannya bahagia mendengar kesempatan untuk mendekati Mayra, ia malah sakit hati membayangkan betapa menyiksanya Mayra hidup dengan lelaki seperti itu. Ia yang tidak pernah dendam pada seseorang kini perlahan menumbuhkan perasaan itu pada suami Mayra, lelaki yang bahkan belum pernah ditemuinya. “Vina udah WA Mayra, agar kalian bisa ketemuan, sabtu depan” sahut Dewa. “Apa?!!” mata Raka yang masih merah terbelalak. “Dulu kamu yang support kami untuk lanjutin hubungan saat orang tua kami nggak setuju. Kini saatnya gantian kami yang support kamu untuk ngedeketin Mayra lagi, meskipun, yaa.. dia udah nikah di atas kertas, tapi kalo kabar itu memang benar adanya, kita ingin kamu bantu Mayra keluar dari hubungan toksik itu. Kita juga nggak tega liat kamu nggak bisa move-on dari cinta pertamamu,” jelas Vina, matanya berkaca – kaca mengingat perjuangan Raka yang selalu meyakinkan orang tuanya bahwa Dewa adalah lelaki yang hebat. Seketika binar wajah Raka terpancar. Mereka bertiga saling melempar senyum. “Kalo kita ngomongin Mayra, kamu jadi gampang nangis, dasar cengeng!” timpal Vina, tangannya mencubit lengan kekar itu begitu saja. “Aku nggak nangis, mataku kemasukan pasir,” “Emangnya kamu lagi di pantai?!..” gelak tawa mereka bertiga saling bersahutan. Kemudian mereka saling membalas ejekan satu sama lain sebelum akhirnya gerombolan teman – teman kelas A datang menghampiri mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN