Mobil civic yang dikendarai Raka melesat begitu cepat menyibak kaki langit yang berwarna kelabu. Lalu mobilnya berhenti di depan pemakaman umum, dimana calon bayinya dikuburkan empat hari yang lalu. Lelaki kekar itu turun dari mobil membawa sekeranjang bunga mawar dan berjalan pelan ke kuburan kecil bertanah merah. Raka meringkuk ke kuburan itu. Mata sayunya menatap dalam – dalam nisan tanpa nama. Tanpa sadar pipinya telah basah oleh air mata. Dadanya terasa sesak menahan rasa sesal yang begitu dalam karena tidak bisa melindungi calon bayinya dan juga istrinya sendiri. “Andai saja ayah ada di samping ibu, kamu pasti akan selamat, Nak..” gumamnya lirih. Tetes air hujan pertama membasahi pundaknya. Raka mendongak, mendung yang pekat tak mampu membuatnya beranjak meninggalkan kuburan itu. Ia

