Selama lima hari ini Dea selalu bertanya-tanya di mana tunangannya berada, ketika dia bertanya semua orang pasti akan mengalihkan pembicaraan, atau pura-pura tidak dengar. Hal itu membuatnya semakin curiga.
Mobil sudah berhenti didepan rumahnya, Wijaya membantunya turun dari mobil. Semua keluarga sudah menyambutnya diteras rumah.
"Yeyy Kakak pulang," girang adik perempuannya yang langsung berlari memeluk erat tubuhnya. Disusul adik laki-lakinya.
"Udah-udah bantu Mama bawa tas sana," usir Wijaya pada kedua adiknya.
Kedua adiknya bergegas membantu mama membawa tas yang berisi barang-barang milik dea kedalam rumah.
“Makan dulu ya,” Ajak bude kepada mereka yang baru saja sampai rumah.
“Okey. Yuk, Kak,” jawab Wijaya dengan bersemangat.
Wijaya menuntun Dea perlahan, karena kakinya mengalami cedera ringan. Adiknya yang laki-laki sudah memposisikan kursi agar dia bisa duduk dengan nyaman, lalu duduk disamping Dea. Adiknya ini memang memiliki sifat yang bandel tetapi ketika bersama kakaknya sifat manjanya akan keluar, dan sangat perhatian meskipun mereka sering sekali bertengkar.
“Dik ambilin s**u coklat di kulkas, kasihin ke Kakak,” perintah Wijaya kepada adik perempuannya, dia lekas mengambilkan s**u kesukaan Dea.
Adiknya yang satu ini sangat cerewet, sulit sekali untuk disuruh ini itu, seperti layaknya adik dan kakak, Dea dan adiknya ini juga sering sekali bertengkar, padahal usianya terpaut sangat jauh tapi mereka bak Tom and Jarry kartun yang biasa tayng ditelevisi. Tumbenan hari ini dia mau disuruh.
Adik perempuannya menaruh satu kotak s**u di samping piring. Bude dengan perhatian ekstra mengambil makanan untuk Dea, tentu saja sebelum menaruhnya dipiring bude memilah kira-kira mana yang bakal mudah dicerna Dea. Sepupu-sepupunya juga ikutan makan, meskipun jarang berkumpul dan berkomunikasi, tapi setiap ada acara kumpul sepupu-sepupunya akan ikut, walau hanya sekedar menyapa Dea sebentar.
Setelah selesai, Dea meminta ayahnya mengantarnya kekamar untuk istirahat. Wijaya meninggalkan Dea sendirian didalam kamar, penampilang kamarnya sangat bersih. Padahal beberapa waktu lalu sebelum kecelakaan dia masih mengingat dengan jelas bahwa dikamar banyak sekali barang-barang yang berkaitan dengan pernikahannya. Buket, sepatu, seserahan, dan lainnya tertata rapi diatas meja riasnya. Dea memilih untuk tak menggubrisnya yang ada dipikirannya mungkin disimpa orangtuanya agar tidak rusak.
Dinakas meja samping tempat tidur dia menemukan handphone. Dia mengambilnya, tapi itu bukan handphone miliknya, ternyata handphone baru. Sepertinya handphone lamanya sudah rusak, ketika Dea membuka handphonenya semua data dihandphone lamanya terdapat dihandphone barunya. Dea membuka aplikasi w******p, banyak sekali chat dari teman dan orang yang dikenalnya. Deg!
Mata dea terbelalak ketika membaca satu persatu chat di whatsappnya. Tangannya gemetar hebat, nafasnya tersenggal-senggal rasanya sangat sulit untuk bernafas. Dea membuka chat lainnya, dan semua nya tetap sama isinya.
Turut berbela sungkawa atas meninggalnya Airon tunangannya dan semoga Dea cepat sembuh.
“AAAaaaaaa!!!!!” teriak Dea, dengan memegang kedua kepalanya. Handphone yang ditangannya kini sudah terjatuh kelantai dan layarnya retak. Badannya lunglai berusaha keluar kamar, justru dia tersungkur diatas meja rias karena kakinya yang masih cedera, sehingga membuat make-upnya berhamburan kemana-mana.
Semua orang yang ada dimeja makan kaget mendengar teriakan dan terdengar juga barang pecah.
" Dea!” Pekik Wijaya dimeja makan ketika menyadari suara teriakan putrinya itu. Dia buru-buru berlari kekamar Dea. Diikuti semua orang yang berada diruang makan. ketika membuka pintu kamar, Wijaya mendapati Dea yang sudah tersungkur dan mengobrak-abrik meja rias.
“Aaaaa!!!!aaa!!!!” teriak Dea berkali-kali. Tanpa sadar Dea mongobrak abrik semua barang yang ada dikamarnya. Berjalan kesana-kemari, rasa sakit dikakinya sudah tak terasa ketimbang rasa sakit membaca chat dari orang-orang. Emosinya membuncah dengan hebat dalam dirinya, merasa bodoh dalam waktu yang tidak singkat.
“Astaghfirullah!!” teriak Wijaya ketika melihat dea yang mengobrak-abrik barang dimeja riasnya. Mama dan bude yang kelihatan kaget melihat Dea yang tidak terkontrol emosinya. buru-buru Wijayanya menghentika amukan Dea.
“Sadar, Nak,” ucap Wijaya. Dengan memegang kedua lengan Dea, menggoyang-goyangkan tubuhnya agar Dea tersadar.
“Dimana tunanganku? Apa benar dia sudah mati? Hah?” tanya Dea dengan emosi, kedua bola matanya yang merah, air matanya yang bercucuran. Ekspresi kesetanan yang ditunjukkannya membuat semua orang takut dan khawatir.
"Ayah di mana Kak Airon," ucapnya dengan d**a yang naik turun. Wijaya tak kunjung menjawab pertanyaan Dea. Hal itu membuat Dea semakin emosi.
Dea berteriak, “di mana Kak Airon !!!!” dia kehabisan kesabaran karena selama lima hari ini semua orang enggan menjawab ketika dia bertanya dimana tunangannya itu.
Wijaya Dea menghela nafas untuk menenangkan hatinya. Dengan sedih Wijayanya menjawab,“sudah tidak ada.”
Deg!!! kedua bola mata Dea melotot ketika mendengar jawaban Wijaya, dunia disekelilingnya seakan berhenti berputar.
Wijayanya langsung memeluk badan Dea. Mama dan bude yang tidak bisa menahan tangis. Kedua adiknya kelihatan ketakutan melihat situasi dikamar Dea, mereka menagis dibelekang mama dan bude. Semua mata sepupunya berkaca-kaca. Ini yang ditakutkan semua orang ketika Dea mengetahui kenyataan yang menyakitkan untuknya.
Dengan kencang Dea berteriak, “Bohong !! Wijaya bohong kan!”
“Tidak, Nak. Ayah tidak bohong,” jawab ayahnya yang tetap memeluk Dea.
“AArrghhhhh..!!!” teriak Dea kesetanan. "AAaaa!!!!"
Dea berusaha melepas pelukan, bahkan memukul d**a Wijaya. siapa yang sanggup mendengar orang yang dicintainya telah tiada, bahkan Dea sudah memikirkan setelah dia sembuh mereka akan melanjutkan pernikahannya. Tapi kenyataan tak sesuai dengan ekspetasinya.
Wijaya memeluk tubuhnya semakin erat, agar Dea tidak lepas kendali saat emosi seperti ini. Beberapa kali berteriak, mama dan budenya berusaha menenangkan Dea tetapi tidak bisa.
"Istighfar Nak. Ayo istighfar Sayang," ucap Bude Dea.
"Kak.. istighfar dulu," ujar Lisa yang menangis dari tadi.
"Ayo minum air dulu, Nak," ucap bude dengan membawa gelas air.
Sayangnya Dea langsung membanting pemberian wanita itu.
"Astaghfirullah!" teriak Lisa.
"Dea!" bentak Wijaya tanpa sadar kepada Dea. Dea katakutan mendapat bentakan dari ayahnya. "Maafin Ayah," sesal Wijaya kepada Dea. Dea mundur perlahan, sakit hatinya bertambah ketika Wijaya membentaknya.
Tiba-tiba dadanya terasa nyeri dengan hebat. Rasanya dia tidak bisa bernafas.
"Aa!" tangannya memegang dadanya yang terasa nyeri.
“Hahh.. hah.. hahh….” Dea berusaha mengambil nafas.
“Yah! Dea Yah!” teriak mama yang melihat Dea kesusahan mengambil nafas. Wijaya dengan cekatan mebaringkan Dea kelantai. Bude melepas pengait bra agar Dea leluasa bernafas.
“Cepet ambil obat, Ma! Bukan obat tapi oksigen!!” teriak Wijaya kepada Lisa. Mereka sudah menyiapkan obat dan oksigen ketika hal seperti ini terjadi, dengan buru-buru mama mengobrak-abrik tas.
“Siapkan mobil, Mas!” teriak Wijaya kepada sepupu laki-laki Dea yang sedari tadi berada di daun pintu kamar Dea.
Dengan buru-buru Lisa dan Bude Dea mengobrak-abrik tas yang dibawa dari rumah sakit. Ketika sudah menemukan tabung oksigen mama langsung memberikannya pada Wijaya.
Wijaya mulai menyemprotkan oksigen kemulut dan hidung Dea.
“Ayo dibawa kerumah sakit aja,” ucap paman Dea, yang baru saja masuk kekamar.
“Iya,” jawab Wijaya. Wijaya dan pamannya langsung membopong Dea menuju kedalam mobil. Mobil pun melaju dengan cepat menuju rumah sakit.
Disana dokter melakukan pemeriksaan pada Dea, dan setelah berbincang-bincang kedua orang tuanya. Dokter menyarankan untuk melakukan perawatan psikis ke psikiater, karena sepertinya psikis Dea sedang tidak baik-baik saja. Orangtua Dea pun menyetujui saran dari dokter, dan Dea pun menjalani perawatan psikisnya.