6. Hukuman

1341 Kata
Cala mulai menatap Chrisrop was-was dengan perasaan takut. "Apa yang kau inginkan?" "Kematian.” Jawaban Christop terdengar santai, tapi cukup mengerikan di telinga Cala. Christop berjalan mendekat ke arah Cala, meraih bahu gadis itu dan berkata. "Perlahan tapi pasti. Karena aku ingin Giovanno merasakan apa yang aku rasakan. Kehilangan seorang dicintainya dan berarti di hidupnya?" "Menarik, bukan?" Lanjut Christop terkekeh begitu menakutkan hingga membuat Cala tidak sadar mengeluarkan air matanya. °°°°° Perlahan Cala membuka matanya menyesuaikan cahaya sinar matahari yang perlahan menerobos melalui gorden. Cala merasakan pening di kepalanya akibat semalam terus menangis. Mengingat tingkah pria yang tidak ia ketahui namanya yang menurutnya sangat menyeramkan. Cala yakin jika pria itu adalah psychopath gila. Sibuk dengan pikirannya, pintu terbuka. Seorang wanita muda dan wanita paruh baya dengan membawa makanan dan kotak yang entah apa isinya Cala tidak tau menghampirinya. "Nona, sebaiknya anda membersihkan diri terlebih dulu. Baru setelahnya sarapan," ujar wanita paruh baya menatap Cala. Cala menatap tidak mengerti, setelahnya mengangguk. "Apa anda ingin saya membantu membersihkan diri?" tanyanya menawarkan. Cala menggeleng. Memangnya dia anak kecil apa? Gerutunya dalam hati. “Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri." "Baiklah, jika begitu kami permisi," ujar wanita muda itu membuat Cala mengangguk. Setelah kepergian dua maid tersebut, Cala meraih kotak yang berada di atas kasur, membukanya. Sebuah dress dengan celana dalam lengkap dengan bra senada? Cala menatap horror. Bagaimana bisa pria itu mengetahui ukuran pakaian dalamnya? Batinnya menerka-nerka. "Cepatlah bersiap dan habiskan sarapanmu!" Suara seorang yang dikenalnya membuat Cala menoleh cepat. Christop menatap Cala. “Tidak usah bertanya-tanya darimana aku tau ukuran bramu," ujarnya. "Aku tunggu kau tiga puluh menit dari sekarang." Lanjut Christop dingin. "Kau mau membawaku ke mana?" tanya Cala. "Tidak usah banyak bertanya, waktumu tinggal dua puluh delapan menit dari sekarang," jawab Christop sebelum pergi meninggalkan Cala yang terbengong. Cala sudah siap dengan dress selutut. Rambutnya ia biarkan tergerai, lalu berjalan menuruni tangga. "Di mana majikanmu?" tanya Cala pada salah satu maid yang kebetulan lewat. Maid itu menunduk. "Tuan Christop ada di halaman depan, Nona," jawabnya. Oh Christop nama pria b******k itu. Batin Cala mengangguk paham. Setelah mendengar jawaban maid, Cala segera melangkahkan kakinya menuju Christop. "Ehem.” Cala berdehem, membuat Christop menoleh. "Ikut denganku!" ujar Christop menarik tangan Cala. "Ih lepaskan! Aku tidak mau ikut denganmu!" ujar Cala menyentak, berusaha melepas cekalan Christop. Christop mengabaikan sentakan Cala dan malah menarik kencang tangan gadis itu. Membuka pintu mobil, lalu mendorong tubuh Cala masuk sedikit membanting. Sesampainya di salah satu butik terkenal di Bangkok, Christop membuka pintu penumpang. "Turun," ujarnya dengan dingin. Cala diam, melipat tangannya di depan dadanya. Christop yang jengkel menarik paksa Cala. "Jangan bertingkah seperti anak kecil atau kau akan tau akibatnya." Ancamnya membuat Cala sedikit takut dan memilih menuruti pria itu. Mereka memasuki butik membuat semua karyawan wanita mulai berbisik-bisik sembari melihat ke arah Christop. Seketika pria itu menjadi pusat perhatian, sehingga membuat Cala yang berada di sampingnya risih. "Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang wanita dengan nada centil. Christop menatap wanita itu datar, lalu menoleh sebentar ke arah Cala yang terganggu karena keadaan sekitar. "Carikan gaun yang pas untuk istriku," ujarnya merangkul bahu Cala membuat gadis itu terkejut. Sedangkan wanita di depannya? Membeo tidak percaya sekaligus malu karena sudah bersikap sangat murahan. °°°°° Christop melangkahkan kakinya berjalan memasuki sebuah lorong tersembunyi di balik sebuah rak buku yang berukuran begitu besar. Tatapannya begitu mengintimidasi setiap orang yang akan melihatnya, kini menyorot begitu tajam. Senyum iblis tercetak di wajahnya dengan jelas ketika pandangannya menangkap seorang pria yang umurnya dapat Christop tebak sekitar tiga puluh tahun. Darah segar sudah mengalir di pelipis pria itu, Christop terkekeh. Seorang suruhannya selain paman Hansel membawakan satu orang berharga yang akan memberikannya informasi saat ini. "Gustov Dimitri Romanov," ujar Christop penuh penekanan. Ya, pria bernama Gustov itu adalah tangan kanan yang sangat dipercayai oleh Giovanno Benjamin, seorang mantan mafia yang telah membunuh kedua orang tuanya. "Kau pasti tau rahasia yang dimiliki Giovanno bukan?" tanya Christop berjongkok. Mensejajarkan tingginya pada Gustov yang terduduk di lantai dengan tangan diborgol. Gustov menggeleng. "Aku tidak tau." Chrsitop terkekeh, begitu menyeramkan. "Sungguh? Bahkan kau tidak tau kenapa atasanmu itu membunuh kedua orang tuaku?" "Tuanku tidak pernah membunuh, aku yakin ada kesalahan di sini." Gustov berusaha menjelaskan tapi dengan cepat Christop berdiri, menendangnya hingga mulut pria itu mengeluarkan darah segar. "Mario, bawa dia ke ruang bawah tanah dan kurung!" ujar Christop. "Jangan ada yang menyiksanya selain aku." Lanjutnya sebelum melangkah pergi. Christop pergi memasuki kamar. Meletakkan pisau tajam berlapis emas dengan ukiran Christoper di bagian gagangnya pada sebuah kota mini berbentuk persegi panjang. Lalu menyimpannya pada lemari kaca, menempatkannya menjadi satu dengan semua senjata-senjatanya. Setelah itu, Christop memutuskan untuk membersihkan dirinya. °°°°° "Mari Nona, saya antar pulang." Seorang pria paruh baya membuyarkan lamunan Cala. Seketika mata Cala berbinar. "Kau akan mengantarkanku pulang? Ke rumahku? Di Rusia?" Pria paruh baya itu menggeleng, membuat seketika senyum Cala pudar. "Saya akan membawa anda ke mansion milik Tuan Christop." Cala menggeleng keras. "Aku tidak mau kembali ke mansion pria b******k itu!" Ketika Cala akan berlari, dua orang berbadan besar mencekal pergelangan tangannya kanan dan kiri. "Lepaskan, bodoh!" ujar Cala berteriak. Ia meronta, berusaha melepaskan. Tanpa banyak bicara kedua pria itu langsung memasukkan tubuh Cala sedikit kasar masuk ke dalam mobil membuatnya berteriak kesal. "Kalian juga sama brengseknya!" Selama perjalanan Cala tak henti-hentinya menggerutu. Menyumpah serapah pria b******k yang dapat Cala yakini namanya adalah Christopher. "Lihat saja kau b******k, kau akan menyesali perbuatanmu," gerutu Cala dengan wajah memerah menahan marah. Sesampainya di mansion, Cala digiring beberapa maid yang akan mengantarkannya ke kamar. "Aku bisa sendiri, kalian tidak usah mengikutiku, bodoh!" ujar Cala dengan ketus, ia melangkahkan kakinya menaiki tangga. Sebelum melanjutkan, Cala berbalik menatap salah satu maid di hadapannya. "Di mana tuan brengsekmu?" Maid itu menunduk, menggeleng. "Saya tidak tau No—" "Kenapa kau mencariku, eh?" Suara pria yang dikenali Cala terdengar membuat gadis itu berbalik menatap depan. "Aku ingin pulang," jawab Cala membuat Christop mengatupkan rahangnya dan menatap Cala tajam membuat gadis itu takut sedikit menciut melangkahkan kakinya mundur menuruni tangga. "Berhenti atau kau akan jatuh!" ujar Christop tegas. Terdengar semakin menyeramkan di telinga Cala membuat gadis itu mengabaikan perkataan Christop. Jika saja Christop tidak segera bertindak Cala sudah tergelincir dan jatuh ke bawah. Pria itu menahan pinggang Cala, dengan tangan kanannya memegang pegangan tangga. Sedangkan Cala, wajah gadis itu sudah menahan tangis, takut. Memegang bahu Christop kuat takut terjatuh. "Bodoh," gumam Christop. Dan kedekatan yang menurut Cala sangat intim membuat jantungnya berpacu lebih cepat. Christop menarik Cala lebih mendekat, lalu menggendong gadis itu ala bridal style membuat Cala terkejut dan mengalungkan tangannya pada leher Christop. Sesampainya di depan pintu kamar yang dipakai Cala, Christop menendang pintu itu membuatnya terbuka. Melangkahkan kakinya memasuki kamar tidak lupa menutup pintunya kembali menggunakan kakinya. Meletakkan tubuh Cala perlahan dan mengunci mata hijau itu dengan tatapannya yang menghunus. Sedangkan Cala terpesona, menatap mata coklat indah milik pria di atasnya. "Kau melakukan satu kesalahan dan harus mendapatkan hukuman," ujar Christop tajam. Ia lalu dengan cepat menyambar bibir merah ranum itu melumatnya kasar. Cala yang tersadar memberontak, memukul d**a Christop dan mendorongnya kuat. Tapi sia-sia, tenaganya tidak sebanding dengan pria di depannya. Christop yang kesal tetap melanjutkan lumatannya. Menarik kedua tangan Cala membawanya ke atas kepala gadis itu lalu mengikatnya dengan dasi miliknya yang entah kapan sudah dilepasnya. "Kau b******k!" Cala berusaha melepaskan pungutan pria itu. Tapi Christop tidak tinggal diam. Ketika Cala membuka mulutnya, Christop langsung saja menerobos masuk. Tangan kanannya menelusup di balik dress milik Cala, bermain di sana. Sedangkan tangan kirinya akan bermain di area sensitif milik Cala, membuat gadis itu merapatkan kakinya. Christop menyudahi ciumannya, lalu mengurung tubuh Cala. "Kau tau, kau sungguh nikmat." Cala yang merasa dilecehkan membalik wajahnya ke kanan, enggan menatap pria di depannya. Chrsitop yang marah, menyambar pipi Cala mencengkeramnya, membawanya agar menatap ke arahnya. "Kau!" Dengan beringas, Christop menyobek dress yang dipakai Cala kuat membuat gadis itu menggeleng takut. "Apa yang akan kau lakukan?" tanya Cala dengan suara bergetar. Christop tersenyum miring. "Bermain? Sepertinya akan sangat menyenangkan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN