10. S e p u l u h

1505 Kata
Aroma mawar yang menguar, membuat Cala nyaman dan lebih menenggelamkan tubuhnya ke dalam hingga memperlihatkan kepalanya saja. Tak terasa Cala menghabiskan waktu selama tiga puluh menit hanya untuk berendam, membersihkan diri. Ia mengikat tali bathrobe lalu melangkahkan kakinya keluar kamar mandi. "Aku baru saja akan menghampirimu karena berpikir kau tertidur," gerutu Christop membuat Cala yang sedang menunduk seketika mendongak. Tatapan mereka bertemu membuat Cala salah tingkah karena Christop yang menatapnya begitu intens. "Ah, maafkan aku," ujar Cala. "Dokternya sudah datang, dia akan memeriksamu sekarang," kata Christop memberi tau. Cala mengangguk. "Aku akan memakai baju terlebih dulu." "Tidak usah, kau tetaplah pakai bathrobenya," jawab Christop. "Lagipula dokternya seorang wanita." Setelah mengatakan itu Christop keluar, dan masuklah seorang wanita muda berjas putih dengan perawakan semampai. Wanita itu tersenyum manis menatap Cala. "Ku harap kau bukan hanya wanita semalam Christop saja," gumamnya membuat Cala tidak paham. "Apa maksudmu?" tanya Cala. Wanita itu menggeleng. "Tidak apa," katanya, "Aku hanya terkejut ketika Christop memanggilku untuk memeriksa seseorang dan itu seorang wanita. Apalagi pria itu membawanya ke mansion ini," lanjutnya. "Sungguh di luar dugaan," katanya berdecak kagum Cala hanya diam mendengarkan. "Aku Chelsea, kau?" Cala menerima uluran tangan Chelsea, lalu tersenyum hangat. "Sarah, kau bisa memanggilku Cala." "Apa kau melakukan dengannya setiap hari?" tanya Chelsea begitu keluar sehabis memeriksa Cala. Christop mendengus. "Apa dia baik-baik saja?" tanyanya mengalihkan. Chelsea memutar bola matanya malas. "Jangan melakukannya keseringan. Itu akan membuatnya mudah lelah, apalagi melihat tubuhnya yang kurang vit dan dia juga butuh tenaga. Beri dia makanan yang sehat. Aku akan memberimu vitamin untuknya." Christop mengangguk sebagai jawaban. "Ada lagi?" "Tidak," jawab Chelsea singkat. "Ah iya, kau jangan terlalu memaksanya. Atau dia akan merasa tertekan dan stress." Setelah kepergian Chelsea, Christop menyuruh beberapa pelayan membuatkan makanan untuk Cala. Sejak semalam, gadis itu belum mengisi perutnya akibat aktivitas yang dilakukan mereka. °°°°° Malam harinya, Cala menghabiskan semua makan malam tanpa tersisa. Padahal tadi siang sehabis diperiksa oleh dokter, para maid juga membawakan banyak makanan untuknya. Cala dahaga menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang, mengusap-usap perutnya. Ia benar-benar merasa kenyang. Bahkan jika melihat cara makan Cala, itu terlihat seperti orang yang tidak diberi makan selama berbulan-bulan. "Kau keyang?" suara Christop menyapa indra pendengarannya. Cala mengangguk, dengan mata yang masih terpejam. "Sangat keyang." "Kalau begitu, aku menginginkanmu," ujar Christop yang begitu menuntut. Seketika mata Cala terbuka lebar, menatap Christop dengan horor. Seakan Christop juga melupakan jika ia tidak boleh melakukannya sering-sering. Itu juga akan membuat Cala merasa terbebani dan tertekan. "A-aku," Cala gugup menatap Christop takut-takut. Chritop mulai mendekat, dan tangannya mulai nakal. Menelusup di balik dress Cala. "Stop!" Cala berujar, memegang tangan Christop untuk menghentikan aksinya. "Kau mulai berani, baby." Gumam Christop tajam. Cala menggeleng. "A-aku s-sedangdatangbulan," ujarnya dengan cepat. Christop menaikkan sebelah alisnya, sedetik kemudian ia mengerti, mengerang. "Ah, s**t!" ujarnya meremas rambutnya dengan kasar. °°°°° Istanbul, Turkey. Sejak kejadian di mana Christop ingin melakukannya dengan Cala tapi ternyata gadis itu datang bulan membuatnya memilih untuk pergi sementara waktu. Dan Istanbul adalah pilihannya, apalagi ada seseorang yang ingin bertemu dengannya. Christop melajukan mobilnya menuju salah satu restoran yang sudah mereka tentukan untuk bertemu. Sesampainya di sana Christop segera menuju ruang VVIP yang memang sudah dipesan. "Anda Tuan Christopher?" tanya salah satu pria berseragam hitam putih. Christop mengangguk, dengan wajah yang masih datar. "Mari saya antar," katanya dan Christop mengikutinya dari belakang. Christop memasuki ruangan bergaya klasik itu, ternyata disana seseorang sudah menunggunya. "Maaf jika menunggu lama," ujarnya. Pria itu menoleh, lalu tersenyum berdiri. "Tidak, saya juga baru saja datang. Silahkan duduk," ujarnya mempersilahkan. Mereka lalu berbincang, beberapa hidangan khas Turki tersaji di atas meja dengan rapi. Sesekali Christop mengernyit mendengar cerita pria di depannya. Dalam hati, ia menebak akar masalah yang sesungguhnya. Karena menurut Christop ada kesalahpahaman atau justru ada sesuatu yang disembunyikan. Dan menurut pandangan Christop, pria di depannya begitu licik bahkan sangat licik sehingga Christop ingin membunuhnya secara perlahan. Menyiksanya terlebih dulu melihat betapa sengsaranya pria di depannya. Lalu menunggu pria itu memohon padanya untuk segera dibunuh. "Jadi bagaimana, anda mau bekerja sama?" tanya pria itu bertanya pada Christop. Christop diam, mengusap dagunya lalu mengangguk. "Baiklah saya akan membantu anda." "Jika tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, saya permisi," lanjut Christop yang akan beranjak. Pria itu mengangguk. "Terima kasih atas kerjasamanya." Christop mengangguk, tanpa menjawab pria itu melangkahkan kakinya keluar ruangan. Karena ia akan menyelidiki sesuatu. Meskipun Christop seorang psikopat kelas kakap, dan membunuh seseorang adalah kesenangannya. Ia juga tidak asal untuk membunuh, meskipun dengan bayaran yang sangat mahal sekalipun karena Christop juga harus menyelidiki akar dari masalahnya. Jika memang pantas untuk dibunuh, Christop akan membunuhnya jika tidak Christop tidak akan segan-segan membunuh orang yang membayarnya itu karena dialah yang bersalah. Baginya, mereka hanya parasit-parasit yang harus dibasmi dan disingkirkan, seumur hidup. Karena percuma, hidupnya hanya akan merugikan orang sekitarnya bahkan semua orang. Christop menghubungi paman Hansel, hingga dering kedua tersambung. "Paman, aku ingin menyelidiki seseorang." "Siapa namanya?" "Dia Serkan Van Houten, pemilik perusahaan otomotif terbesar di Asia dan Eropa. Aku ingin dokumennya dikirim nanti malam." "Baik Tuan, ada lagi?" "Tidak," setelah menjawab Christop memutuskan sambungan telepon dan melajukan mobilnya membelah kota Istanbul di sore hari. Jalanan yang tidak terlalu padat memudahkan Christop untuk melajukan mobilnya diatas kecepatan rata-rata. Sesekali ia meneguk botol birnya, sudah seminggu Christop berada di Turki membuatnya ingin segera pulang ke Thailand. Karena ia merindukan Cala, ah bukan lebih tepatnya merindukan tubuh indahnya. Ralatnya dalam hati tersenyum miring. Sesampainya di penginapan yang selama seminggu ditempatinya, Christop segera menuju kamarnya memilih untuk membersihkan diri sembari menunggu email dari paman Hansel. Sesekali ia mendesah melihat foto Cala sedang naked yang diambilnya secara diam-diam. Gadis itu bahkan sudah membuatnya terangsang hanya dengan membayangkan sebelum benar-benar melihat fotonya. Atau bahkan melihat nyata tubuhnya. Ugh, Christop jadi tidak sabar ingin segera menyutubuhi gadis itu. Seakan Cala adalah candunya. Christop tersenyum miring, karena ia merasa seperti seorang p*****l. Karena Cala masih begitu polos dan terlalu muda untuknya. Dan dengan tanpa dosanya, Christop mengotori gadis suci itu. Mungkin besok, ia akan kembali ke Thailand. Karena ia juga memiliki banyak rencana untuk menghancurkan Giovanno Benjamin. °°°°° Bangkok, Thailand Sudah satu minggu sejak kejadian di mana Christop memintanya untuk melakukannya tapi gagal karena dirinya datang bulan. Pria itu tidak lagi menampakkan batang hidungnya. Tapi kalian jangan berpikir jika Cala rindu pada pria psikopat itu karena jawabannya adalah tidak sama sekali. Cala hanya merasa heran saja. Seperti ada yang kurang, begitu. Sudah hampir sebulan Cala berada di mansion terkutuk ini, Cala rindu papa dan rumahnya. Jika bukan karena ancaman pria itu yang akan membunuh papanya mungkin ia sudah kabur sejak dulu. Cala menghela napasnya. Menatap danau yang begitu tenang, ia merasakan semilir angin menerpa wajahnya membuat surai indahnya yang tergerai bergerak. Cala menemukan danau ini tadi. Ketika ia merasa bosan dan memilih untuk berjalan-jalan di area mansion Christop. Cala tidak menyadari jika ia terlalu jauh berjalan, hingga menemukan tempat ini. Sepi, dan, Menenangkan. Cala menyukainya. Mungkin ini akan menjadi tempat favoritnya nanti. Dan Cala tidak menyangka, jika danau ini masih dalam satu wilayah dengan mansion Christop. Itu berarti sangat aman, dan mungkin tidak akan ada binatang buas atau penyusup yang membahayakan. Ingin sekali Cala bebas, merasakan kehidupan yang normal seperti gadis-gadis remaja seusianya. Seharusnya, Cala juga sudah mengunjungi beberpaa negara lagi. Menghabiskan waktunya untuk Travelling, menikmati ciptaan Tuhan dari penjuru dunia. Tapi semuanya musnah seketika, ketika ia bertemu dengan Christop. Pria yang masuk dalam daftar orang-orang yang dibencinya setelah Giovanna-adik dari papanya atau lebih tepatnya kembaran papanya. "Mom, Cala rindu," ujarnya menunduk. Menggerak-gerakkan kakinya di permukaan air, sedangkan air matanya sudah meleleh keluar. Yang sekarang dibutuhkannya adalah Mamanya, karena Cala sangat rindu pada Bella. Ia ingin, mamanya memeluknya dengan penuh kasih sayang. Membisikkan kalimat-kalimat yang menenangkan jika semua akan baik-baik saja. "Nona, ternyata anda di sini!" ujar seorang pria paruh baya berpakaian formal menghela napasnya. "Syukurlah.'' Refleks, Cala mendongak dan langsung berdiri tersenyum canggung. "Maafkan aku karena pergi terlalu jauh." Pria berpakaian formal itu mengangguk, tersenyum maklum. "Tidak apa Nona, saya hanya khawatir jika Nona akan tersesat." "Aku sudah cukup dewasa untuk mengetahui jalan pulang, Paman." Jawab Cala tersenyum. "Siapa nama Paman?" tanya Cala penasaran. Pria paruh baya itu tersenyum. "Nama saya Hansel, Nona." Cala tersenyum lebar, lalu seketika tatapannya menyendu, "Kau mengingatkanku pada papa, Paman." Sedangkan Hansel hanya diam, bingung ingin menanggapinya. "Ah ya, jangan memanggilku Nona. Panggil saja Cala, Paman!" ujar Cala memecahkan kecanggungan. "Tapi Nona, tuan Christop akan ma-" Cala menjentikkan jari telunjuknya. "Tidak ada tapi-tapian. Masalah si b******k itu, aku yang akan mengurusnya," jawabnya ketus. Entahlah, tiba-tiba saja Cala merasa suasana hatinya menjadi buruk begitu mendengar nama si b******k Christop. "Siapa pria yang kau sebut b******k, baby?" Tubuh Cala menegang. Suara itu. Batin Cala. Ia sangat mengenalnya, tidak mungkin bukan jika ia sedang berhalusinasi. Jika memang si b******k itu ada di sini, rasanya Cala ingin menenggelamkan diri. Mendengar nadanya yang begitu datar sangat menyeramkan di telinganya. Bahkan bulu kuduknya sudah meremang, ingin mendongak pun tidak bisa seakan tubuhnya mati rasa seketika. Oh, sepertinya dirinya dalam bahaya. Karena sudah mencari gara-gara dengan pria itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN