06

1025 Kata
Nathan menghentikan motornya ditempat yang lumayan sepi. Aneth sempat diam sejenak, apa yang akan diperbuat Nathan. "Heh! Jangan ngelamun, ikut gue," ajak Nathan membuyarkan lamunan gadis itu. Mereka berjalan meninggalkan motor hingga tiba dibawah pohon besar yang dimana terdapat sebuah rumah pohon dengan tangga yang menjuntai. "Ayo naik!" ajak Nathan mempersilahkan Aneth naik lebih dulu. Aneth sampai dirumah pohon disusul oleh Nathan. Ia mengedarkan pandangannya menatap banyak foto seorang gadis yang tengah tertawa menempel di dinding. "Eh!" Nathan dengan cepat mengambil satu persatu foto tersebut lalu menyimpannya hingga membuat Aneth kebingungan. "Gimana?" tanya Nathan senang. "Apanya?" tanya Aneth balik sembari duduk diayunan memandangi Nathan. "Ihhh!" Nathan menggerutu hingga membuat Aneth terkekeh. "Keren," puji Aneth. "Nah kan!" Nathan duduk disamping gadis itu hingga membuat Aneth terkejut saat tangan pemuda itu merangkulnya hingga sebuah pukulan mendarat dilengan Nathan. "Ini rumah pohon, kalau gue lagi bete, ya kesini. Kata bunda gue suka keluyuran padahal gue cuma main kesini," tutur Nathan. "Sendiri?" tanya Aneth. "Cewek difoto tadi siapa?" tanya Aneth lagi. Nathan tersenyum menatap gadis itu hingga membuat Aneth sempat gelagap. "Amanda, cewek gue." Demi apapun, Aneth ingin menghilang dari sisi Nathan sekarang juga. "Dia udah nggak ada," sambung Nathan, pandangan Aneth kembali tertuju pada pemuda itu. "Dia meninggal karena penyakitnya, dia cinta pertama gue. Kalau bisa minta, gue pengen dia tetap hidup, selalu ada disamping gue, ngajakin dia makan, main kesini, banyak lagi deh! Tapi ternyata, Tuhan lebih sayang sama dia." Nathan menjelaskan masa lalunya dengan detail pada gadis yang baru saja ditemuinya kemarin di pemakaman. Apakah Nathan benar-benar jatuh cinta dengan gadis itu? "Nath." Aneth memanggil mengusap ekor mata pemuda itu. Nathan pun tertawa mencairkan suasana. "Gue cengeng banget sih! Sorry!" ucap Nathan dengan cepat mengusap air matanya. "Jadi intinya, lo suka sama gue biar bisa lupain Amanda?" tanya Aneth. Nathan terdiam. "Gue suka sama lo dan gue nggak pengen lupain dia," elak Nathan atas perkataan gadis itu. "Oh..." balas Aneth singkat. "Hei," panggil Nathan membuat pandangan Aneth kembali tertuju padanya. "Gue suka sama lo," ucap Nathan kembali mengungkapkan perasaannya. Aneth sontak tertawa. "Enggak mungkin! Lo nggak tau gimana kehidupan gue!" ucap Aneth. "Maka dari itu, gue pengen tau! Gue pengen tau semua tentang elo, masa lalu, sekarang dan mungkin masa depan!" balas Nathan mantap. "Lo terlalu naif, bilang suka sama gue tapi masih terjebak nostalgia cinta pertama," ujar Aneth membuat Nathan terdiam. "Lo sendiri? Apa nggak pernah punya cinta pertama?" tanya Nathan. "Enggak," jawab Aneth singkat. "Buang-buang waktu, dunia gue udah berubah sejak---" "Sejak bokap lo selingkuh dan matahari lo pergi?----" Plak! "Jaga mulut lo!" bentak Aneth berjalan menjauh dari Nathan. Mereka saling diam cukup lama, Nathan yang sudah menyesal mengatakan hal tersebut dan Aneth yang menyadari kalau yang dikatakan Nathan itu benar. Ayahnya selingkuh, ibunya pergi untuk selamanya. Tak ada alasan agar ia tetap bahagia. "Aneth," panggil Nathan mendekati gadis yang duduk di balkon rumah pohon. "Maaf ya," ucap Nathan mengulurkan tangannya. Aneth menyambutnya kemudian mengangguk. "Lo lapar? kita makan mie yuk! Disini ada kompor loh!" hibur Nathan. "Tunggu ya! Gue masakin, spesial buat lo!" ucap Nathan kembali masuk kedalam. Aneth kembali terdiam memandangi langit malam hingga Nathan kembali mendatanginya dengan dua buah mangkuk mie. "Besok hari minggu ya?" tanya Nathan yang langsung mendapat anggukan dari Aneth setelah gadis itu menerima mangkuk mie. "Jalan-jalan lagi yuk?" tawar Nathan. "Kemana lagi?" tanya Aneth ketus. "Pantai? Gunung? Hotel?" tanya Nathan membuat Aneth terkekeh. "Liat aja nanti," balas Aneth berhasil membuat Nathan senang. Mereka makan bersama hingga malam semakin larut. Keduanya sudah selesai makan, duduk bersama di ayunan menatap langit. "Ada bintang jatuh!" ucap Aneth spontan membuat Nathan terkejut. "Mau buat permohonan?" tanya Nathan terkekeh mengetahui Aneth memiliki sikap seperti anak kecil saat melihat bintang jatuh. Aneth mengangguk lalu memejamkan matanya. Nathan pun mengikuti hingga ia kembali membuka mata, namun nampaknya Aneth masih membuat permohonan. Nathan memandanginya dari samping, gadis itu terlihat sangat cantik dibawah sinar bulan, bibirnya sedikit tersenyum dengan mata yang tertutup. Chup... Aneth membuka matanya saat merasakan sesuatu menyentuh kepalanya. Ia menoleh mendapati Nathan masih menciumnya. "Jangan pernah anggap lo itu cuma sendirian, gue bakal selalu ada buat lo," ucap Nathan lembut. Aneth diam saja mengingat permintaannya barusan. Apakah Nathan adalah jawaban dari keinginannya. Ia berharap ada seseorang yang selalu ada untuknya, menyayanginya, membuatnya tertawa, bahkan membuatnya menangis. "Rambut lo wangi banget," ucap Nathan membuat Aneth tersadar spontan memukul lengan pemuda itu hingga Nathan tertawa. "Hm... udah malam banget, pulang yuk?" ajak Nathan dan Aneth mengiyakan. Mereka turun dari rumah pohon, berjalan bersama menuju motor hingga kembali bertemu dengan jalanan malam kota yang terasa sangat indah. Bahkan Aneth baru menyadari, padahal ia sering berjalan malam dengan mobilnya, namun malam kali ini terasa berbeda apakah karena ada kehadiran Nathan. "Besok jangan lupa ya! Kita jalan-jalan lagi! Gue jemput!" ucap Nathan meninggikan suaranya. "Iya!" jawab Aneth. Nathan mengantarkan Aneth hingga kedepan pintu apartemen, ternyata Defa sudah menunggu sambil berkacak pinggang. "Kemana lo bawa Aneth!?" tanya Defa penuh selidik. "Jalan-jalan doang, yakali gue bawa dugem hahaha!" tawa Nathan membuat Aneth tersenyum. "Udah, pergi lo. Makasih udah nganterin Aneth! Sana, hust! Hust!" usir Defa lalu menarik Aneth memasuki apartemen. "Besok ya! Gue jemput! Pagi!" teriak Nathan kemudian pergi. "Kemana?" tanya Defa. "Jalan," jawab Aneth singkat lalu duduk disofa. "Neth," panggil Defa duduk disamping gadis itu. "Gue nggak mau lo terluka, jangan berekspektasi tinggi, setiap orang bisa berubah," ucap Defa membuat Aneth menatapnya. "Termasuk elo?" tanya Aneth. Defa mengangguk. "Tapi gue bakalan berusaha buat jadi orang yang pertama ada disamping lo kalau lo lagi sakit," ucap Defa jujur. "Besok gue mau pergi, sama Nathan." Ucap Aneth, Defa mengangguk. "Tadi kita jalan kerumah pohon, punya dia. Dia cerita soal masa lalunya," ucap Aneth lagi. "Dan elo cerita soal masa lalu lo?" tanya Defa. Aneth menggeleng. "Terlalu cepat buat dia tau masa lalu gue," ucap Aneth. "Berarti nantinya iya?" tanya Defa lagi. "Mungkin," singkat Aneth kemudian masuk kekamarnya. Defa duduk sendiri memandangi pintu kamar gadis itu. "Kalau sampai Nathan nyakitin Aneth, gue nggak bakal nahan tangan gue buat ngasih dia pelajaran!" Defa sangat menjaga Aneth, menyayanginya, bahkan menganggap Aneth lebih penting dari dirinya. Maka jangan salahkan apa yang akan diperbuat Defa jika ia tahu Aneth terluka, apalagi jika itu adalah kesalahan Nathan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN