Bab 159

823 Kata

Pagi itu bahkan belum benar-benar terang ketika suara tangisan Celine memecah kesunyian rumah. Tangisan itu bukan tangisan pelan, bukan pula isak tertahan, melainkan tangisan penuh emosi yang membuat siapa pun yang mendengarnya langsung panik. Frans terbangun lebih dulu. Jantungnya berdegup kencang saat mendengar suara istrinya dari dapur. Tanpa sempat memakai sandal, ia berlari keluar kamar. “Ma?” suaranya tegang. “Kenapa?!” Fabian yang tidur di kamar sebelah ikut terbangun. Bocah itu berlari tergesa dengan rambut acak-acakan, matanya masih setengah terpejam namun wajahnya penuh kekhawatiran. “Mama sakit?!” teriak Fabian sambil berlari ke dapur. Pemandangan di dapur membuat Frans dan Fabian terdiam. Celine duduk di kursi makan. Tangannya menutup wajah, bahunya bergetar hebat. Di had

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN