Frans benar-benar serius kali ini. Ia duduk di karpet ruang keluarga dengan wajah penuh tekad, menatap Fabian yang sedang bermain dengan balok warna-warni di depannya. Fabian tampak asyik sendiri, mengoceh dengan bahasa bayi yang belum jelas maknanya. Tapi bagi Frans, hari ini punya misi penting—mengajarkan putranya satu kata sakral: *Papa.* “Fabian…” panggil Frans dengan nada lembut tapi tegas. “Coba bilang Papa.” Fabian menoleh sebentar, matanya yang bulat bening menatap wajah ayahnya dengan rasa ingin tahu. Lalu bibir kecil itu terbuka, tapi yang keluar hanyalah suara gumaman samar, “Ba... ba... baaa...” Frans langsung menatap Celine yang duduk di sofa, menahan tawa. “Kamu lihat itu? Sudah hampir berhasil!” katanya dengan semangat berlebihan, seperti seorang ilmuwan menemukan teori b

