Pagi itu matahari belum sepenuhnya naik, langit masih berwarna biru keunguan dengan garis oranye tipis di ujung cakrawala. Udara lembap dan dingin, sementara debur ombak lembut terdengar berulang-ulang. Frans sudah berdiri di depan hotel dengan kaos tipis dan celana pendek, sementara Fabian berdiri di sampingnya membawa ember kecil dan sekop, menarik-narik tangan papanya dengan antusias. “Papa, ayo cepat! Kita mau bikin kastil pasir!” teriak Fabian yang suaranya masih serak karena baru bangun tidur. Frans mengacak rambut Fabian yang berantakan. “Iya iya, Papa sudah siap. Kamu pagi-pagi semangat sekali.” “Kan seru. Pantainya kosong. Aku mau bikin kastil yang besar! Lebih besar dari kemarin!” “Lebih besar lagi? Papa harus stretching dulu deh kayaknya, takut encok kalau ngikutin kamu.” F

