Persaingan

2243 Kata
Hari sekolah terus berlanjut. Kini sudah terlihat kalau Irene ssangat menjaga jarak dengan Marsha. Dia bahkan berbicara dengan gadis itu itu. Padahal, Marsha adalah teman pertamanya saat PLS. Irene merasa saat ini Marsha adalah satu saingan dalam mendapatkan hati sang ketua OSIS, Kevin Aldrich Kesuma. Sikap Irene juga semakin menyebalkan dengan menghasut anak cewek sekelas supaya gak suka kepada Marsha. Sungguh sikap kekanakan yang dimilikinya. Danael, sebagai teman Irene sejak SMP memahami perubahan sikap temannya ini berusaha mengingatkannya supaya tidak bertindak gegabah dan malah menjadikan kebenciannya pada Marsha sebagai boomerang yang bisa semakin melukainya suatu hari nanti. Marsha sendiri sudah tahu kalau Irene memang sedang menjaga jarak dengannya. Tapi jujur saja, dia tidak mengerti alasan Irene selalu menatapnya sinis. “Rene, masih gak enakkan sama Marsha? Apa sih, alasan kamu?” Tanya Dana hanya dibalas dengusan oleh Irene. “Kenapa sih, loe care banget sama dia? Loe suka ya, sama dia? Emang sih, banyak cowok bukan dari kelas kita aja sih, yang suka sama dia. Dia emang ramah dan cantik makanya banyak yang suka. Kalo udah banyak yang suka, pasti banyak yang belain. Padahal sikapnya sama sekali gak setia kawan.” Kesal Irene saat Dana menanyai soal Marsha. “Kamu iri karena dia banyak yang suka? Kalau mau seperti itu, ramah pada semua orang dong! Suka senyum, wajahnya lembutin dikit. Percuma cantik kalau merengut melulu setiap hari.” Dana menasihati. “Bacot loe, Dan! Gue cabut ke kantin dulu. Lani kayaknya udah duluan.” Irene malas menanggapi apapun yang berhubungan soal Marsha. Saat keluar kelas, Marsha menahan tangan Irene lalu menariknya menuju ke taman. “Gue tahu, loe ngejauhin gue. Apa alasannya, Rene? Sikap loe kenakanakan banget! Sumpah deh!” Marsha ingin tahu alasan Irene dingin padanya akhir-akhir ini. “Karena gak suka aja sama cewek tukang caper kayak loe!” balas Irene langsung pergi ke kantin. Saat berjalan ke kantin, Irene melintasi ruang olahraga basket. Tanpa sengaja, dia mendengar beberapa gadis meneriaki nama seseorang yang dia kenal. Perhatiannya teralihkan sampai dia masuk untuk ikut menonton beberapa siswa sedang bermain basket. Ternyata benar dugaannya, Kevin sedang bermain basket dan para siswi menyorakinya untuk memberikannya semangat. “Woahhh! Kak Kevin keren abis!” “Semangat kak! Kami akan selalu mendukungmu!” Mendengar sorak-sorakkan itu, Kevin langsung memasukkan bolanya ke ring dengan keren sambil melihat ke arah para siswi yang mendukungnya. Tapi entah kenapa, tatapan itu bukan semata-mata kepada siswi-siswi itu. Karena tatapan Kevin dan Irene bertemu. Kevin kemudian tersenyum manis dan Irene bisa menangkap senyuman itu. Jantungnya berdebar lagi karena merasa senang. ‘Kak Kevin senyum padaku, kan?’ Irene membatin senang. “Oh, jadi ini alasan loe tiba-tiba menjauhi gue? Childish loe, Rene!” tegur Marsha dari belakang sontak mengejutkan Irene. “Salah kalo gue suka sama kak Kevin?” Tanya Irene balik. “Enggak salah, kok! Padahal, gue piker loe bisa bersikap dewasa karena loe termasuk siswi berprestasi di kelas. Tapi kenyataannya, childish still childish ya? Dasar manja!” ejek Marsha tersenyum meremehkan pada Irene. “Itu urusan gue!” kesal Irene gak terima walau yang dikatakan Marsha ada benarnya. “Ayo kita bersaing aja! Siapa yang bisa menarik perhatian kak Kevin? Sebenarnya gue lebih suka bersaing sehat ya, tanpa harus musuhan kayak gini. Tapi kalo mau loe kayak gini, gue bakal ladenin.” Tantang Marsha pada Irene. “Temen macam apa loe ini? Loe udah tau gue suka sama kak Kevin, dan sekarang loe terang-teragan menantang gue untuk mendapatkan perhatian kak Kevin! Parah!” kesal Irene. “Loe sendiri gak ngaca! Menjauhi teman hanya karena menyukai orang yang sama! Loe hasut semua anak cewek dikelas supaya gak suka sama gue! Nyadar gak sih, loe?” Marsha gak mau kalah dengan tuduhan yang di lontarkan Irene. “Sadar kok! Alright! Gue terima tantangan loe!” Irene sama sekali merasa gak takut dengan tantangan Marsha. Dia merasa jauh didepan Marsha karena sudah dekat dengan Kevin sejak kecil. “Okay guys! Sampai disini dulu latihannya!” Kevin dan teman-temannya bubar dari lapangan. Irene langsung menghampiri Kevin dan bertanya,”Bakal ada lomba ya, kak?” “Iya! Minggu depan lomba antar sekolah. Kalau menang, lanjut tingkat kota.” Jelas Kevin pada Irene. Gadis itu hanya mengangguk sambil tersenyum. Sejujurnya, sudah lama dia menunggu momen bisa bicara lagi dengan Kevin dan akhirnya terkabul juga hari ini. “Kak Kevin semangat, ya!” Irene berusaha memberikan semangat kepada Kevin. “Ya, makasih!” Kevin berterima kasih untuk semangat dari Irene. “Sama-sama, kak! A-aku ke kantin dulu ya, mau makan siang.” Irene pamit tapi Kevin menahan tangannya. Sontak, Irene terkejut dan jantungnya berdebar sangat kencang. “Rene, kita ke kantin barengan aja, yuk. Ada yang mau kakak bicarakan sama kamu.” Ajak Kevin dibalas anggukan oleh Irene. Jadilah, mereka berdua berjalan ke kantin bersamaan. Jelas saja, Marsha melihat itu semua. Dia kesal karena Irene sangat cepat mencuri startnya. Sepanjang perjalanan ke kantin, Irene tak berhenti memikirkan soal apa yang ingin dibicarakan oleh Kevin. Hatinya sudah tak tenang karena membayangkan kalau Kevin ingin menyatakan perasaan padanya. Itulah yang memang dipikirkannya saat ini. Sesampainya, di kantin, mereka berdua mengambil bangku sambil duduk dan memesan makanan. “Rene, kakak minta maaf karena udah cuekin kamu belakangan ini. Bahkan, kakak udah lama gak jemput kamu lagi. Kakak jadi menyesal karena ingkar janji sama kamu.” Kevin minta maaf soal sikapnya belakangan ini. Dulu, sebagai hadiah kelulusan Irene dengan nilai terbaik di SMP, Kevin janji akan selalu menjemput dan mengantar Irene selama tahun pertama SMA. Tapi pada kenyataannya, baru beberapa hari, dia sudah mengabaikan gadis itu. Memang, dia sangat sibuk dengan urusannya di OSIS. Dia harus datang lebih cepat dan pulang lebih lama di sekolah. Dia memang sangat menginginkan jabatan menjadi ketua OSIS, jadi selama dua periode menjabat di sekolah ini, Kevin berusaha melakukan yang terbaik. “Gak apa, kak! Namanya juga manusia, pastilah berbuat salah. Kakak jangan berpikir ingkar janji. Di hari pertama kakak menjemputku, kakak sudah memenuhi janji kakak. Aku selalu berterima kasih.” Irene bersikap sangat manis. Dia menutupi segala kekesalannya kepada Kevin karena merasa tak ingin Kevin bersedih. Tapi bodohnya, dia malah menyiksa perasaannya sendiri. Irene tak bisa mengekspresikan dirinya yang sesungguhnya di hadapan Kevin. Banyak hal yang disembunyikan gadis itu dibalik Kevin, demi terlihat baik dan sempurna dihadapan Kevin. “Begitu, ya? Terima kasih atas sikap baikmu, Rene! Bukan maksud kakak, tapi kakak sangat sibuk di OSIS.” Kevin berterima kasih sambil menjelaskan kesibukannya. Tak lama, makanan datang dan mereka mulai makan siang. Sambil makan siang, Irene mencoba membuka topik pembicaraan. “Kak? Di OSIS asyik, ya?” Tanya Irene. “Asyik dong! Nyesel kamu gak daftar kemarin, kalau enggak, kamu pasti merasakan solidaritas bersama mereka. Anak-anaknya asyik semua! Anggota barunya juga sangat bisa diandalkan, apalagi Rebecca! Dia memang anggota OSIS yang paling kakak salutin, deh!” jawab Kevin. Namun, jawaban itu malah membuat hati Irene sedih. Dia tak ingin mendengar soal orang lain saat ini, tapi Kevin malah dengan santainya membicarakan Rebecca. Dia cemburu, tapi tetap terseyum karena gak mau Kevin tahu kecemburuannya. Dia malu cemburu, padahal dia dan Kevin bukan siapa-siapa tapi hanya teman. “Gitu ya, kak! Semangat ya!” Irene memilih menyudahi pembicaraan dengan menyemangati Kevin. “Makasih!” Kevin tersenyum lagi pada Irene. Entah kenapa, senyuman Kevin saja sudah mengikis gundah gulana di hati Irene. “Oh iya, kamu minat gak, ikut olimpiade Matematika Minggu depan. Katanya hanya anak kelas X dan XI yang diperbolehkan berpartisipasi. Kakak sudah gak bisa lagi. Kalau istlahnya, sudah expired. Ahahahhah!” Kevin memulai topik pembicaran soal olimpiade. “Udah kak! Guru langsung yang rekomendasikan aku mengikutinya.” Jawab Irene. “Woah semangat kalau begitu! Dari kelas kamu, siapa aja yang ikut?” Kevin bertanya lagi. “Ada Danael satu lagi dari kelas kami.” Jawab Irene singkat. “Owh kakak tahu! Cowok yang selalu jadi saingan kamu di SMP kan? Kalau dari kelas B setingkatmu, hanya Rebecca yang maju! Kakak harap, kalian semua bisa mengharumkan nama sekolah, ya!” Kevin menyampaikan harapannya. Irene hanya memaksa senyumannya sambil mengangguk. Tapi hatinya sangat sakit dan perih. Tak terasa, makanannya sudah habis dan Irene langsung memilih balik ke kelas duluan. “Kak, Irene langsung ke kelas ya! Makasih juga atas traktirannya.” Pamit Irene diangguki oleh Kevin. Sepanjang jalan ke kelas, Irene terus menggerutu dalam hatinya. Dia sangat kecewa atas apa yang terjadi ternyata sama sekali tak sesuai dengan ekspetasinya. Dia berharap Kevin menyatakan perasaan padanya, tapi kenyataannya, pria itu selalu memuji seorang Rebecca. Rasanya dia ingin marah kepada Rebecca itu. Tapi sayangnya, dia teringat kalau dia bukan siapa-siapanya Kevin. Cinta yang bertepuk sebelah tangan memang akan selalu menyakitkan. ‘BRAK!’ Tanpa sengaja, Irene menabrak seseorang. Jujur, dia tidak terlalu memerhatikan jalan karena terlalu emosi. Tapi sialnya, saat dia melihat siapa yang bertabrakan dengannya, emosinya kembali memuncak. Dia menatap kesal dengan gadis yang baru saja jatuh bersamanya. Padahal, biasanya Irene akan meminta maaf. Tapi, karena dia merasa yang dihadapannya adalah saingan terberatnya, dia jadi sangat kesal. Tidak jadi meminta maaf, Irene malah memilih melampiaskan kekesalannya pada Becca. “Loe jalan pake mata!” kesal Irene pada Becca. “Maaf ya! Saya memang agak terburu-buru. Saya harus ke ruang OSIS sekarang! Permisi.” Becca meminta maaf lalu pamit dengan sopan. Dia berlalu, tapi Irene malah dengan sengaja menjegal kakinya sampai gadis itu terjatuh. “Ups! Gak sengaja! Saya juga buru-buru mau ke kelas.” Irene sengaja. Karena itu, tiba-tiba suasana dekat kelas B jadi ramai. Mereka saling berbisik tentang apa yang terjadi. “Ada ribut-ribut apa itu?” mereka mulai berbisik. “Itu kan, si Becca yang sekretaris OSIS yang baru?” siswa lain berbisik pula. “Ada masalah sama anak kelas sebelah ya? Itu kan si Irene, yang selalu dipuji-puji guru Matematika itu!” bisik salah satu anak kelas B. “Saya sudah minta maaf!” Becca tak terima dengan kelakuan Irene yang terkesan membully dirinya. Irene sama sekali gak merasa bersalah, padahal dia yang memulai keributan. “Kan gue dah bilang gak sengaja! Loe gak usah sok jadi korban! Dasar tukang caper!” Irene malah marah karena Becca gak terima dan terkesan melawan. Dengan susah payah, dia kembali berdiri sambil membersihkan seragamnya. “By the way, baju loe kelihatan murah! Sama kayak tingkah loe! Murahan!” ejek Irene lagi membahas soal penampilannya. Mendengar itu, Becca jadi geram karena di katain ‘murahan’ oleh Irene. Padahal tadinya hanya masalah sepele doang, bisa sampai melebar kesana-kemari. Becca gak habis pikir! “Mau kamu apa?” kesalnya dengan nada geram. “Loe berani sama gue?” Irene merasa tertantang saat ini. Oh ayolah! Emosi Irene hari ini memang sudah gak stabil. Dia akan melakukan apapun demi meluapkan emosinya. Dia seakan ingin mencari cara untuk mendepak Becca menjauh dari sini. Dia gak suka kalau perempuan lain yang jadi saingannya. Entahlah, kita bingung dengan apa yang dimau oleh seorang Irene saat ini. Yang jelasnya, dia mau jadi satu-satunya bagi seorang Kevin. Tapi, dia mau Kevin yang menyatakan perasaannya duluan. Egonya juga sangat tinggi soal hal itu. “Jangan cari masalah!” ujar Becca lagi. Merasa dituduh mencari masalah, Irene langsung menghampiri Becca dan mendorongnya lagi. Tapi, malah ada yang menahan Becca sehingga dia gak terjatuh lagi. “Loe yang cari masalah duluan sama gue!” balas Irene. “Apaan sih ini? Bullying?” Tanya Dean datang di tengah kerumunan. Tadinya, dia melihat kerumunan, jadinya dia penasaran. Saat melihat Becca sedang di dorong seseorang, Dean langsung bergerak dengan sendirinyauntuk menahan gadis itu supaya gak terjatuh . “Eh, Irene? Loe yang bully si Becca? Kenapa?” Tanya Dean gak percaya dengan sikap Irene saat ini. Setahunya, Irene adalah gadis yang manis yang suka tertawa dan juga memotivasi. Kenapa saat ini dia terlihat seram dan penuh dengan kemarahan? Dean tentu saja bertanya-tanya. “Dia cari masalah sama gue dengan sengaja nabrak gue tadi.” Ujar Irene membenarkan diri. “Saya sudah minta maaf.” Becca menjelaskan lagi walau dia tak sepenuhnya salah disini. “Udahlah, Rene! Lagian, Becca sudah minta maaf. Jangan bertengkar lagi. Kayak bocil aja.” Tegur Dean menengahi. Sedangkan siswa/i lain hanya asyik menonton. “Loe bilangin gue bocil? Ngaca dong, Dean! Loe sendiri gimana?” kesal Irene sambil berbalik dan masuk ke kelasnya. Seperginya Irene, Dean hanya menatap gadis itu dengan tatapan sedih. Dia bukan kecewa, tapi dia merasa Irene saat ini sedang marah untuk menutupi kesedihannya. ‘Rene, gue ngerasa loe sedang menyembunyikan luka. Bukan sengaja ingin menyakiti orang lain.’ Batin Dean. “Dean, makasih ya sudah nolongin aku.” Becca berterima kasih dan langsung diangguki oleh Dean. Becca tersenyum sembari membatin,’Dean, makasih ya sudah hadir sebagai malaikat penolongku.’ “Loe gak apa?” Tanya Dean pada Becca. “Aku baik kok! Hanya saja, tadi aku agak terkejut dengan sikapnya. Saya juga tidak terlalu mengenalnya. Tapi, dia bisa bersikap seperti itu padaku. Mungkin, dia sedang ada masalah kali.” Becca mencoba berpikiran positif soal Irene. “Iya, feeling gue juga bilang begitu. Maafin aja, ya! Irene sebenarnya gak seperti itu.” Dean menambahkan dan bahkan menyarankan Becca untuk memaafkan saja sikap Irene walau agak keterlaluan. ‘Kamu sangat peduli padanya, ya? Apa masih ada tempat buatku di hatimu? Apa bisa aku menggantikan dirinya dihatimu?’ batin Becca bertanya-tanya. Kisah yang cukup rumit diantara mereka akan dimulai. Irene dengan cinta bertepuk sebelah tangannya pada Kevin. Marsha yang sengaja menantang Irene dalam merebut perhatian Kevin. Dean dengan perasaannya pada Irene dan Becca dengan perasaannya pada Dean. Kita akan melihat bagaimana kisah cinta di masa SMA ini akan terus berlanjut kedepannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN