Irene menatap tak percaya dengan apa yang kini dia dengar dari Kevin. Pria itu ingin menikah dengannya! Perlahan, bayangan masa kecilnya bersama Kevin terputar lagi di memorinya. Saat dia berteriak dengan keras ingin menikah dengan Kevin suatu hari nanti. Kini, Kevin berlutut tepat di hadapannya sambil memberikan cincin layaknya seorang pangeran yang sedang melamar Tuan putrinya. Lamaran yang diimpikan semua orang. Irene tak sanggup bicara sambil menutup mulutnya sendiri. Bahkan, dia tak bisa lagi menahan air matanya yang keluar begitu saja karena merasa sangat terharu dengan lamaran yang diberikan oleh pria yang adalah cinta pertamanya. Irene sudah mengenal Kevin sejak lama, dan memang tak ada alasannya untuk menolak pria itu. Maka, gadis itu pun menganggukkan kepala sebagai jawaban. “

