Mengundurkan Diri

2321 Kata
Hari ini, semua calon peserta lomba Olimpiade Matematika tingkat Nasional sudah berkumpul di ruang aula sekolah. Ada banyak yang mendaftar untuk mengikuti olimpiade untuk mewakili SMA Nusa Bangsa. Tapi, hanya dua yang bisa mewakili sekolah ini untuk dibawa ke pusat. Oleh karena itu, hari sang guru melakukan seleksi pada para peserta. “Dari kelas XI, ada 7 yang mendaftar dan dari kelas X, hanya ada 3 siswa. Tapi ini termasuk banyak karena yang mewakili sekolah hanya 2 orang saja. Jadi, bapak akan kasih kalian soal dan menyeleksi kalian berdasarkan lamanya waktu pengerjaan dan benar salahnya jawaban dari soal tersebut. Waktunya memang 120 menit, tapi lebih cepat lebih baik. Ini soalnya!” sang guru membagikan soal untuk seleksi kepada para calon peserta lomba olimpiade.             Bisa dibilang, semua calon peserta ini adalah murid-murid dengan nilai matematika terbaik di sekolah ini. Di kelas X, mereka yang mendaftar untuk olimpiade adalah Irene, Dana dan Becca. Walau masih beberapa bulan memasuki masa SMA, sang guru bisa menilai bahwa mereka adalah siswa/i terbaik dan pantas untuk mengikuti olimpiade. Sedangkan di kelas XI, yang mendaftar juga sama-sama siswa dengan peringkat utama. Disinilah persaingan peertama dimulai.             Irene sudah belajar dengan serius setelah dia mendapatkan rekomendasi untuk ikut olimpiade. Dia mulai mengerjakan soal-soal tersebut dengan sangat serius. Dia sudah mencoba mengerjakan banyak soal, termasuk juga mempelajari pelajaran Matematika untuk kelas XI. Menurut Irene, soal Matematika yang sedang dikerjakannya ini tidak terlalu sulit. Tapi, memang harus membutuhkan konsenterasi. Ada banyak soal yang jawabannya menjebak! Irene juga tidak mau sampai gagal seleksi ini. Dia harus mengikuti olimpiade ini.             Sementara itu, Becca juga mengerjakan soal-soal ini dengan penuh konsenterasi. Dia juga belajar meski banyak kesibukan. Dia tetap mencari materi soal walau dia sedang bekerja paruh waktu. Dia ingin berprestasi di sekolah ini supaya beasiswanya tidak dicabut. Sama halnya dengan Danael, dia juga melakukan hal sama. Mereka semua memang ingin mengukir prestasi terbaik di sekolah ini.             Tanpa terasa, satu jam lebih sudah berlalu. Irene sudah nyaris menyelesaikan soal yang berjumlah 50 soal itu. Dia hanya perlu memastikan jawabannya tepat atau tidak. Dia melihat ke sekelilingnya dan mendapati semuanya sedang fokus dengan soal mereka. Senyumnya mengembang karena merasa hanya dia yang akan segera menyelesaikan soal seleksi ini. Irene sangat percaya diri bahwa dia yang akan dipilih untuk dibawa ke pusat. ‘Sedikit pemeriksaan untuk memastikan jawaban, lalu aku kumpul.’ Pikir Irene. “Sudah selesai, Pak!” Becca mengangkat tangannya sambil berdiri untuk mengumpulkan soal yang sudah selesai dijawabnya. Yang lainnya agak terkejut dengan Becca yang termasuk cukup cepat mengerjakan soal itu, termasuk Irene. ‘s**l! Kenapa aku harus kalah dari dia?’ kesal Irene dalam hatinya. Dia pun buru-buru memastikan jawabannya lalu menyusul Becca untuk mengumpulnya juga. “Woah! Persaingan kelas A dan kelas B untuk angkatan kelas X sengit juga, ya?’’ ujar sang guru melihat persaingan Becca dan Irene. “Pak, saya permisi dulu, ya. Ada beberapa tugas di OSIS yang belum saya selesaikan.” Becca permisi dan dibalas anggukan oleh sang guru. Irene masih tak percaya bahwa Becca mampu menyainginya. Dulu, dia tidak akan se-sinis itu melihat Becca seandainya gadis itu tidak dekat dengan Kevin di OSIS. Malah, dia akan menjadi teman baik untuk Becca dan sama-sama saling mendukung. Tapi karena perasaannya, Irene jadi gampang benci sama cewek lain. Dia menjadi sangat egois dengan memandang orang sebelah mata. “Saya juga sudah selesai, Pak!” Dana berdiri sambil mengumpulkan soalnya. Beberapa anak kelas XI lainnya juga ikut mengumpulkan soal. Dan akhirnya, ujian seleksi selesai.             Irene beranjak dari aula dengan keadaan kesal. Dia merasa tersaingi habis oleh Becca. Rasanya dia semakin membenci gadis itu tanpa alasan. Dia gak mau ada yang menyainginya seperti Becca. Cukup sudah gadis itu mencuri perhatian Kevin di OSIS, jangan mencuri kesempatannya untuk mengukir prestasi di sekolah ini. Irene merasa gak terima! “Rene! Aku tahu kamu gak suka sama anak kelas B itu. Kamu menatapnya sangat sinis. Padahal, dulu kita selalu bersaing di SMP, kamu gak seperti ini. Ada apa denganmu, Rene?” tanya Dana saat sama-sama keluar dari aula bersama Irene. “Gue gak suka aja sama dia! Dia itu mengesalkan paket komplit! Pokoknya, dia gak boleh sampai menang dariku! Gak mau!” balas Irene kesal sambil bertekad supaya Becca gak akan pernah menang darinya. “Kamu banyak berubah, Rene! Dari dulu kamu memang ambisius, tapi kamu bersaingnya sehat. Nah, sekarang kamu kayak berlebihan, gitu menurut aku.” Dana menilai sikap Irene yang menurutnya berlebihan. Dia memperhatikan saat ini Irene selalu ingin menjadi yang terdepan, bahkan tidak mau ada cacat sedikit pun pada nilainya. Sikapnya juga berubah jadi dingin dan mementingkan nilai dari apapun. “Semakin besar, gue semakin paham, kalau yang bisa membuat kita sukses di masa depan adalah prestasi! Oleh karena itu, gue gak mau ada yang mengalahkan prestasi gue disini, Dan! Gue mau semua orang melihat gue bukan sebagai orang tukang caper, tapi sebagai siswi berprestasi!” jawab Irene dengan samngat ambisius. “Tapi, sama-sama cari perhatin juga kan?” tanya Dana membuat Irene terdiam. Dana langsung melangkahkan kakinya melewati Irene begitu saja. Dia memang sengaja meninggalkan Irene untuk merenungi pertanyaannya tadi. Setidaknya, Irene bisa mengoreksi maksud sebenarnya dari niatnya itu. Apa memang untuk kesuksesan di masa depan atau hanya untuk mendapat perhatian.             Irene tak bisa membalas ucapan Dana tadi. Dia hanya terdiam menyadari kalau saat ini memang dia ingin menarik perhatian seseorang. Dia ingin sekolah mengakuinya dan Kevin juga bangga padanya. Dia mau hanya dia yang pantas bersanding dengan Kevin dan membuat para hama yang mendekati Kevin jadi sadar diri. Itulah niat didalam lubuk hati Irene yang terdalam. ‘Apa salahnya? Setidaknya, ini bisa menjadi motivasi bagiku untuk maju dan menjadi yang terdepan!’ Irene membenarkan niatnya.             Padahal, dengan niat seperti itu yang ada dia malah kecewa. Jikalau tujuannya tidak kesampaian, dia pasti akan sangat sedih dan merasa usahanya sia-sia. Dia akan terus merasa usahanya ada yang salah, padahal selama ini dia sudah berusaha. Tapi lagi-lagi, perasaan cinta membuat Irene menjadi benar-benar egois. Dia tidak mau tahu akibat dari sesuatu hal, karena yang penting baginya hanyalah perhatian Kevin. Itu saja!             Setelah beberapa lama menunggu ayahnya, dia mendapat telepon bahwa ayahnya akan sedikit terlambat menjemputnya karena ada urusan di kantor. Irene gak pernah mau dijemput sama supir, oleh karena itu, dia mengirim pesan untuk ayahnya agar di jemput di café dekat sekolah. Ada sebuah café tidak jauh dari sekolah, kebetulan, Irene juga sedang lapar karena merasa kesal.   Café                                                                               Irene duduk di café sambil melihat pesanan untuk makan siangnya. Setelah itu, dia memberi tahu pesanannya pada waitress café untuk dicatat. Dan, seperti biasa dia harus menunggu beberapa saat sebelum pesanannya datang. Sambil menunggu, Irene memainkan ponselnya sambil melihat-lihat sosial medianya. “Maaf, saya agak terlambat, Bu! Saya hari ini ada beberapa urusan di sekolah.” Suara itu langsung mengalihkan perhatian Irene. Dia langsung celingak-celinguk karena merasa mengenal suara siapa itu. “Ya, sudah! Cepat ganti baju kamu, Nak! Nanti kalau sampai sekolah tahu kamu bekerja disini, kamu bisa dikeluarkan.” Sang manager restoran memaklumi keterlambatan karyawan paruh waktunya itu. Segera saja, dia berjalan ke belakang untuk mengambil seragam kerjanya di loker. “Itu… Rebecca? Dia kerja paruh waktu disini?” gumam Irene bertanya-tanya. Seketika, sebuah seringaian licik terpatri dibibir tipisnya. Dia langsung mengambil Hp-nya dan memotret Becca yang tengah kerja paruh waktu disini. “Ini pesanannya, Dik. Selamat menikmati.” Sang waitress sudah mengantarkan pesanannya pada Irene. Gadis itu langsung mengangguk sambil mengucapkan terima kasih pada sang waitress.             Sambil makan siang, Irene diam-diam memotret Becca dengan seragam kerjanya. Sebuah rencana licik sudah terpikirkan oleh gadis itu. Dia akan segera membuat Becca tidak berkutik lagi. Dia merasa menang untuk saat ini. ‘Kau memang tidak akan mampu melampauiku, Rebecca!’ batin Irene sombong. Setelah makan siang, tak lama dia Irene melihat mobil papanya sudah terparkir di depan café. Irene tersenyum senang karena jemputannya sudah datang. Dia langsung ke kasir untuk membayar, lalu pulang bersama papanya.   Kediaman Keluarga Hanendra             Tak terasa, matahari sudah terbenam di sebelah Barat. Itu tandanya, hari sudah mulai malam. Irene baru saja selesai mengerjakan tugas Bahasa Inggrisnya, lalu turun untuk berkumpul makan malam. Hari ini, dia terlihat senang karena merasa bisa membungkam seorang Rebecca. Siswi yang adalah saingan menurutnya. “Bagaimana seleksinya? Apa kamu lulus?” tanya Ruth saat putri sulungnya turun dari kamarnya. “Hasilnya diumumkan besok! Irene yakin lulus kok, Ma!” yakin Irene bangga. Dia sangat percaya diri bisa mengikuti olimpiade nasional ini. “Baguslah kalau begitu. Kamu jangan sampai lupa makan karena terlalu fokus pada olimpiade.” Othman merasa bangga sambil mengingatkan Irene untuk memperhatikan kesehatannya. Gadis itu langsung mengangguk lalu duduk untuk makan malam bersama keluarganya. Irene sangat bersyukur keluarganya lengkap dan sedemikian hangat. Tidak semua orang punya keluarga seperti ini. Mereka dari keluarga berada dan tidak dalam keadaan broken home. Bisa dibilang, cukup sempurna meski ada kurang-kurang karena tidak ada yang sempura di dunia ini.   *** “Ma, aku pulang!” Becca pulang ke rumah kontrakannya. Tapi, gadis itu tidak menemukan jawaban dari sang ibu. Biasanya, sang ibu sudah ada dirumah saat sudah malam. Saat mencari ke kamar, Becca tidak menemukan siapapun. Tak lama, dia mencari ke dapur. Dia agak terkejut melihat sebuah notes diatas meja makan. ‘Becca, mama kerja lembur mulai hari ini. Jadi, kamu makan duluan saja, ya! Mama akan pulang tengah malam. Mama tahu kebutuhan sekolah kamu banyak, mama ingin kamu lulus di sekolah itu tanpa masalah keuangan. Mama.’             Melihat notes itu, air mata Becca menetes. Mamanya harus banting tulang untuknya sampai tengah malam. Memang, mamanya gak tahu kalau dia kerja paruh waktu. Pasti sang ibu tidak akan mengizinkannya, karena dia ingin putrinya fokus pada pelajaran. Ayah Rebecca dulunya seorang pengacara, tetapi beliau meninggal dan banyak hutang yang harus mereka bayarkan. Ibunya bekerja keras siang dan malam demi kebutuhan mereka, termasuk sekolahnya Becca. Tentu saja, Becca tidak tega membiarkan ibunya berjuang sendirian. Dia ingin membantu, setidaknya dengan membiayai kebutuhan sekolahnya sendiri. “Mama harusnya jaga kesehatan!” gumamnya sambil mengusap air matanya. ‘Aku harus bisa lulus dengan nilai terbaik!’ tekad Becca dalam hatinya karena sangat ingin melihat mamanya bangga padanya.   *** SMA Nusa Bangsa             Hari ini, adalah pengumuman siapa yang mewakili sekolah untuk mengikuti Olimpiade Matematika. Semua calon peserta dikumpulkan saat jam istirahat di ruangan guru. Sang guru lalu menghela napasnya untuk memberi tahu hasil penilaiannya pada para calon peserta. “Sebenarnya, kalian memiliki kemampuan yang bagus di bidang ini. Tapi sayangnya, harus dua yang dipilih. Jadi sudah saya putuskan untuk memberikan kesempatan mengharumkan nama SMA Nusa Bangsa kepada Danael Arlanta dan Rebecca Karen. Yang lainnya bukan berarti tidak layak, tapi kalian bisa berjuang lagi!” sang guru memberi tahu keputusannya sambil memberi semangat pada muridnya.             Irene adalah orang yang paling sebal disini. Sekeluarnya dari ruang guru, dia langsung menarik Becca dan menyeret gadis itu ke dekat gudang. Dia sudah sangat kesal sudah dikalahkan oleh siswi yang menurutnya tak pantas bersaing dengannya. “Mundur!” suruh Irene tegas. “Maksud kamu?” Becca tak mengerti maksud Irene. “Loe harus mengundurkan diri dari olimpiade ini!” Irene menegaskan maksudnya. “Kenapa? Ini bukan kekalahan, Irene. Kamu bisa ikut olimpiade lain lagi. Kenapa kamu harus menyuruh saya mengundurkan diri?” Tentu saja Becca tidak terima disuruh mengundurkan diri setelah perjuangannya untuk belajar dan mendapat nilai terbaik. Dia juga ingin memiliki prestasi di sekolah ini. “Kalau loe gak mengundurkan diri, maka loe bukan saja gak ikut olimpiade! Loe anak beasiswa, kan? Loe tahu peraturan di sekolah untuk tidak boleh bekerja paruh waktu? Dan gue, bakal kasih tahu pihak sekolah kalo loe kerja paruh waktu!” ancam Irene membuat Becca terkejut. “Kamu tidak punya bukti! Tolong jangan ganggu saya!” kesal Becca diancam oleh Irene. Irene mendecih sambil menatap sepele pada Becca. Dia mengeluarkan Hp-nya sambil menunjukkan foto-foto Becca saat bekerja di café. Gadis itu membelalak sambil berusaha merebut Hp Irene. Namun sayang sekali, dia gagal. “Pilihan ada ditangan loe! Keluar dari sekolah ini atau mengundurkan diri.” Irene memberi pilihan lalu meninggalkan Becca sendirian.             Melihat Irene memiliki alasan untuk membuat beasiswanya dicabut dan dikeluarkan dari sekolah, Becca menangis. Dia sangat sedih dengan sikap Irene yang tidak mau bersaing sehat dengannya. Menurutnya, Irene sangat jahat sampai tega mengancamnya dikeluarkan dari sekolah. Irene sama sekali tidak peduli betapa sulitnya dia bisa bertahan di sekolah terelit di negeri ini. ‘Aku gak boleh dikeluarkan! Mama akan sangat kecewa nantinya!’ Becca membatin tak ingin dikeluarkan dari sekolah ini. Maka, dia langsung berbalik dan berjalan menuju ruang guru. Sudah dia putuskan, bahwa dia akan mengundurkan diri dari olimpiade ini. Dia tidak mau sampai dikeluarkan hanya karena tidak mau mengalah dengan Irene. Baginya, mengalah bukan berarti kalah.   Kelaas X-A             Seusai jam istirahat, semua siswa/ i  kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran. Ya, termasuk juga seluruh murid di kelas A. Irene sedari tadi tersenyum licik karena merasa menang dan berharap Becca memang mau mengubah keputusannya. Sebenarnya, dia tak sampai hati membiarkan Becca dikeluarkan begitu saja. Itu hanya ancaman. Irene tak sejahat itu, kok. Dia juga tahu kalau Dana diam-diam menitipkan jualannya di kantin sekolah. Irene tidak mau menghancurkan orang lain. Tapi, dia hanya ingin menang. ‘Aku yakin, setelah ini dia mau mengundurkan diri.’ Irene yakin dengan keberhasilan rencananya. “Selamat siang, anak-anak!” sang guru sudah masuk dan kebetulan ini adalah pelajaran matematika. “Siang, Pak!” sahut para murid sambil mengambil buku pelajaran mereka. “Sebelum pelajaran dimulai, bapak ingin memberi tahu kalau peserta olimpiade yang mewakili sekolah sudah diralat. Rebecca Karen mengundurkan diri karena merasa tidak bisa mengikuti olimpiade. Oleh karena itu, saya putuskan yang menggantikannya adalah Irene Alicia Hanendra. Baiklah! Kita mulai pelajaran kita.” Sang guru memberi pengumuman tentang perubahan peserta olimpiade.             Mendengar pengumunan itu, Irene merasa diterpa oleh angin segar dan dia merasa senang. Dia tersenyum dan moodnya langsung naik drastis. Dia sudah menang! Becca memang tak pantas bersaing dengannya. Itulah yang dia pikirkan saat ini. Tapi dia tidak sadar, bahwa sikapnya yang seperti ini akan membuatnya semakin menyombongkan diri untuk kedepannya. Dia akan semakin egois dan merasa paling tinggi diantara orang lain. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN