Lembaran Baru

1681 Kata
Dira tercengang. Perkataan yang baru saja keluar dari mulut pria yang berstatus sebagai suami sahnya membuat jantungnya seakan ingin melompat dari tempatnya karena sangking kagetnya. Ia tidak pernah menduga jika suaminya memiliki rasa untuk dirinya. “Mas … Mas Naka jangan bercanda, ini beneran nggak lucu banget,” ucap Dira dengan terbata-bata. Entah kenapa panggilan untuk suaminya telah kembali. Sebelumnya karena kecewa ia tidak menyematkan panggilan mas untuk sang suami. Perempuan itu juga mencoba menyelam ke dalam manik mata Naka untuk mencari sebuah kebohongan. Namun, setelah ia menatap lekat ke arah mata elang sang suami, ia tidak berhasil menemukan apa yang dia cari. “Aku nggak bercanda, Ra. Aku tahu kalau kamu pasti bingung mencerna ucapan ku, tapi asal kamu tau aku menjahili kamu karena untuk menutupi rasa canggung ku,” ucap Naka menjelaskan. Deg …! Lagi-lagi penjelasan yang disampaikan oleh Naka membuat jantung Dira seakan berhenti berdetak. Entah kenapa sekarang tubuhnya merasa sedingin es. Ia juga bisa merasakan jika hatinya saat ini tiba-tiba berdesir. Senang? Tentu. Deg-degan? Apalagi. Tatapan Naka saat ini terlihat berbeda dari biasanya. Meskipun tatapan itu terlihat tajam, tetap saja ada kelembutan di dalamnya. “Aku nggak pingin maksa kamu buat suka sama aku, tapi aku mohon kasih aku kesempatan untuk memenangkan hati kamu. Aku tau selama ini udah buat kamu kesal. Setelah ini aku akan membuat hidup mu lebih berwarna. Aku ingin menebus semua kekesalan kamu itu, Ra,” lanjut Naka. Naka dapat merasakan jika tangan istrinya sudah sedingin es. Kemudian ia pun mengeratkan genggamannya berharap dapat memberikan kehangatan. Ia tahu jika saat ini Dira pasti masih bingung untuk mencerna ucapannya. Perempuan itu juga terlihat sedikit syok karena terkejut dengan ungkapan hatinya secara tiba-tiba. Dira tidak tahu lagi harus berbicara apa. Mata hazel perempuan itu masih setia menatap Naka tanpa berkedip. Ia syok dengan perasaan Naka yang baru saja dia ketahui. Seharusnya Dira merasa bahagia karena ternyata Naka menyukainya. Suaminya menginginkannya. “Kita jalani pernikahan kita dengan penuh warna kebahagiaan ya, Ra. Kita bangun sendiri rumah tangga kita sesuai dengan keinginan kita … plis!” pinta Naka dengan raut wajah yang sudah terlihat bersungguh-sungguh. Tampak tatapan yang penuh dengan harapan dari sorot mata CEO muda tersebut. Naka memang bersungguh-sungguh ingin menjalani rumah tangga bersama dengan Dira. Dulu ketika ia menolak perjodohan ini karena ia yakin jika Dira pasti akan menolaknya. Namun, setelah Abi mengancam akan mengeluarkannya dari daftar ahli waris tentu membuat Naka langsung setuju. Ia tidak mau hidup miskin karena semua fasilitas akan ditarik oleh papanya. Naka tidak munafik, di jaman sekarang mana bisa hidup tanpa mengandalkan materi sama sekali. Dira yang melihat kesungguhan di mata suaminya tampak langsung menganggukkan kepalanya dengan perlahan. Ia tidak bisa mengeluarkan suara karena tenggorokannya terasa berat untuk menelan salivanya sendiri. “Apa salahnya mencoba hidup berumah tangga seperti pasangan pada umumnya,” batin Dira. Melihat istrinya menganggukkan kepalanya, membuat Naka langsung menyunggingkan senyum bahagianya. Ia pun langsung menarik tubuh Dira dan membawanya ke dalam pelukannya. Sudah saatnya ia mengakui perasaannya sendiri. Sudah cukup selama ini ia terus-terusan membuat Dira kesal. “Terima kasih, Ra,” lirih Naka. “Tolong jangan kecewakan aku untuk kedua kalinya,” pinta Dira dengan suara lirihnya. “Tentu … dan tolong ingatkan aku kalau sikap ku bikin kamu nggak nyaman,” jawab Naka. “Kita saling mengingatkan supaya nggak ada kesalahpahaman lagi di antara kita,” tambah Dira. “Pasti …!” jawab Naka dengan penuh keyakinan. Naka membenamkan kepalanya di ceruk leher Dira. Jujur saja, aroma tubuh istrinya kini telah menjadi candunya. Apa ia harus berterima kasih kepada orang yang telah menyuruh Mita untuk memberikan obat perangsang kepada dirinya? Sejak saat itu sepasang pengantin baru itu pun hidup dengan bahagia. Abi dan Maya sempat merasa bingung sekaligus bahagia karena perjodohan mereka dirasa telah berhasil. Sejak sepasang paruh baya itu melihat perubahan pada Naka dan Dira, mereka sudah tidak seberapa khawatir lagi. Kini tugas mereka hanya memantau tanpa harus ikut campur ke dalam rumah tangga yang mulai dibangun oleh Naka dan Dira tersebut. *** “Pak ini laporan yang Anda minta kemarin,” ucap Danar sambil meletakkan sebuah map tepat di hadapan Naka. Naka langsung membuka map yang baru saja diberikan oleh Danar dan membaca laporan yang tertulis di dalamnya. Detik kemudian ia pun tampak mengerutkan kedua alisnya. “Teo …?” tanya Naka. “Ya, Pak. Teo adalah orang yang biasa membereskan masalah para pengusaha melalui dunia hitam,” jawab Danar menjelaskan. Naka memang tidak asing dengan nama Teo. Namun, secara pribadi ia tidak pernah mengenal pria tersebut. Bahkan, ia juga tidak pernah bertemu secara langsung. Di laporan itu juga telah dilampirkan sebuah foto seorang pria yang bernama Teo. “Jadi dia ini juga orang suruhan?” tanya Naka kembali. “Tepat sekali! Apa perlu saya cari tahu siapa yang menyuruhnya, Pak?” tanya Danar balik. Naka yakin jika salah satu lawan bisnisnya pasti ingin menjatuhkan dirinya. Sebagai seorang pengusaha muda yang sukses tentu musuh-musuhnya tidaklah sedikit. Naka harus selalu waspada agar tidak sampai tumbang dengan rencana licik para musuhnya. “Nggak perlu! Kejadian kemarin malah membawa hikmah yang besar dalam pernikahan ku,” jawab Naka sambil tersenyum penuh arti. Melihat respon yang diberikan oleh Naka ternyata di luar ekpektasinya, tentu saja membuat Danar langsung tersenyum smirk. Bahkan, pria itu tampak menaik turunkan kedua alisnya untuk menggoda atasannya yang sekaligus juga sahabatnya. “Wow … menang berapa ronde, Pak?” tanya Danar dengan senyum tengilnya. “Jangan ngaco! Kamu udah nggak ada kerjaan? Atau kamu emang udah bosen kerja sama aku?” tanya Naka sambil menatap tajam ke arah sang sahabat. Danar dapat melihat jika telinga Naka sudah terlihat memerah. Jika sedang malu atau salah tingkah Naka memang akan seperti itu. Bukan pipinya yang bersemu, tapi telinganya yang tampak memerah. “Siap salah, Pak! Saya masih betah kerja sama Bapak,” jawab Danar. Setelah mengatakan itu, pria berkacamata itu pun bergegas pergi keluar. Ia tidak ingin membuat atasannya semakin mengeluarkan tanduknya. Danar masih sayang dengan pekerjaannya dan di mana lagi ia bisa bekerja dengan gaji yang sangat besar seperti di perusahaan Naka. Sepeninggal Danar, Naka tampak menghela napas panjangnya. Entah kenapa pertanyaan Danar tiba-tiba saja membuat ia teringat dengan peristiwa pada malam itu. Seketika ia pun mengingat istrinya dan tiba-tiba saja ia langsung merindukan Dira. Detik kemudian ia langsung meraih ponsel yang ada di sisi kanannya. Ketika hendak menelepon Dira ia melihat ada sebuah pesan singkat dari sang istri. Ia pun langsung membuka dan membacanya. Ibu Negara: Mas, aku ijin keluar mau diajak Mama belanja. Bunny: Oke … ati-ati, Sayang. Jangan lirik-lirik 😘 Dira sempat tertawa ketika melihat suaminya menamai dirinya di ponselnya. Naka memang usil sejak dari kecil. Bagaimana bisa pria itu memberikan nama kepadanya sebagai ibu negara. Naka benar-benar kacau, menurutnya. Tak terasa hari telah sore dan Naka bergegas membereskan barang-barangnya. Ia sudah tidak sabar menunggu jam pulang. Sejak hubungannya dengan Dira membaik, dia tidak pernah lagi lembur. Bahkan, pria itu selalu pulang tepat waktu. Beberapa menit kemudian, Naka telah tiba di rumah dan seperti biasa Dira akan menyambutnya sambil membawakan gelas yang sudah berisi air mineral. Tentu saja sebagai seorang suami, Naka merasa senang. Sekarang siapa yang tidak senang mendapatkan istri cantik dan selalu menghargainya. “Ini diminum dulu, Mas,” ucap Dira dengan lembut sambil menyodorkan segelas air mineral. “Makasih, Sayang,” jawab Naka sambil menerima minuman dari tangan Dira. Kini jas dan tas kerja Naka sudah berpindah tangan. Keduanya tampak berjalan naik ke lantai dua sambil berpegangan tangan. Pemandangan romantis ini sudah berlangsung beberapa hari dan tentu saja itu membuat Abi dan Maya merasa senang. “Ish … kayak abg labil aja, mesra-mesraan di depan orang,” sinis Avan. Pria itu memang sering berkata-kata pedas jika melihat Naka dan Dira sedang romantis. Bukannya dia tidak suka, tapi ia memang suka menggoda adiknya. Jika ia sudah berkomentar sudah bisa di pastikan Naka akan menatapnya tajam. Bahkan, tatapan itu terkesan tidak bersahabat dan Avan suka melihat itu. “Kalau ngiri bilang, Boss,” jawab Naka tanpa menolehkan kepalanya. “Yee … siapa juga yang ngiri, gue nganan kok,” teriak Avan tak mau kalah. Terpaksa pria itu berteriak karena Naka dan Dira sudah berada di anak tangga yang paling atas. Abi dan Maya yang melihat hubungan di antara anak-anaknya tentu saja merasa senang. Memang hanya inilah yang dia inginkan, di mana ada kedekatan di antara mereka. Beberapa saat kemudian, ponsel Avan pun berdering menandakan adanya panggilan masuk. Melihat nama si penelepon membuat pria itu pun langsung menolak panggilan tersebut. “Kenapa di-reject? Jangan-jangan kamu udah lariin anak orang, ya?” tanya Maya sambil memicingkan matanya. Perempuan setengah baya itu memang selalu suka menggoda Avan karena menurutnya anak sulungnya itu selalu terlihat serius. Ia ingin Avan bisa sedikit santai agar hidupnya tidak terasa monoton. Sekarang sudah jelas jika sikap Naka yang suka menjahili Dira ternyata menurun dari mamanya. “ish … Mama sembarangan aja,” jawab Avan dengan tatapan yang terlihat sudah tidak bersahabat. Maya memang tidak pernah membeda-bedakan perhatiannya pada kedua putranya. Meskipun Avan tidak lahir dari rahimnya, ia tetap menganggap pria itu seperti anak kandungnya sendiri. Kasih sayang yang dia berikan, sama seperti yang dia berikan kepada Naka. Keduanya sudah mendapatkan porsinya masing-masing. Setelah menjawab ucapan dari mamanya, Avan pun bergegas beranjak pergi menuju ke kamarnya yang juga berada di lantai dua. Letak kamar Avan dan Naka hanya dibatasi sebuah ruang santai saja. Setelah di dalam kamarnya, Avan pun menghubungi kembali kontak yang sebelumnya telah menelepon dirinya. Ia memang sengaja tidak mengangkat di hadapan orang tuanya karena pasti ada hal penting yang hendak disampaikan oleh orang suruhannya. “Ada apa?” tanya Avan tanpa basa-basi setelah panggilannya terjawab. “Boss, Pak Danar menyelidiki kasus yang terjadi di klub tempo hari,” jawab si penelepon memberi tahu. Mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh orang suruhannya membuat Avan langsung mendengus. Ia tahu jika Naka tidak akan pernah melepaskan orang yang telah berani menyinggungnya. Tanpa menjawab perkataan dari lawan bicaranya, Avan pun langsung mengakhiri panggilannya secara sepihak. Baginya laporan yang diberikan padanya sudah lebih dari cukup. Sebagai seorang kakak, tentu saja ia harus memantau setiap apa yang dilakukan oleh adiknya karena ia tidak ingin Naka salah langkah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN